Yang Meringkuk Pascapelarian

Baru segelintir pelaku bancakan dana BLBI yang bisa ditangkap aparat dalam upaya pelarian mereka di mancanegara.

Anggoro W

Nama paling anyar di kancah pemberitaan adalah Samadikun Hartono (68). Buron kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 4 Februari 1948, tamatan SLTA, tinggal di Jl Jambu No. 88, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Pengemplang Rp 196 miliar dana BLBI itu belasan tahun tinggal berpindah-pindah di beberapa negara Asia. Mantan Presiden Komisaris PTBank Modern Tbk. ini dikabarkan punya pabrik film di Cina dan Vietnam. Sejak medio April lalu, ia (sudah) mendekam di penjara.

Buronan kasus BLBI David Nusa Wijaya (55) tergolong nama yang cukup cepat dapat dipastikan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia lahir di Jakarta, 27 September 1961, dengan nama Ng Tjuen Wie. Direktur Utama Bank Umum Servitia (BUS) tahun 19981999 ini berstatus terpidana dalam kasus korupsi BLBI BUS setelah terbukti menyelewengkan dana Rp1,291 triliun.

Pada 11 Maret 2002, Pengadilan Negeri Jakarta Barat menghukumnya tiga tahun penjara. Di tingkat banding, 21 Mei 2002, Pengadilan Tinggi Jakarta  memvonisnya empat tahun penjara, serta denda dan pembayaran uang pengganti. Di tingkat banding,  23 Juli 2003, Mahkamah Agung memvonisnya 8 tahun hukuman penjara, denda Rp30 juta dan membayar uang pengganti Rp1,291 triliun

Sebelum menjalani sanksi hukum atas tindakan korupsi yang dilakukannya, Davis melarikan diri dan bermukim di Negeri Paman Sam. Dalam sebuah operasi Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat (FBI), pada 13 Januari 2006, ia ditangkap dan dikembalikan ke Indonesia empat hari kemudian.

Dua tahun kemudian, Kejaksaan Agung dapat memulangkan buronan kasus aliran dana BLBI yang kabur ke Singapura dan Australia, Adrian Kiki Ariawan (69 tahun) yang melarikan diri sejak 2002. Ia terbukti melakukan korupsi dan merugikan negara Rp1,5 triliun dan divonis in absentia 20 tahun penjara. Dalam persidangan terbukti, Adrian dan Bambang Sutrisno mengucurkan dana BLBI kepada grup perusahaan yang ternyata 103 perusahaan itu fiktif.

Adrian ditangkap Kepolisian Perth, 28 November 2008, setelah enam tahun berstatus DPO, daftar pencarian orang. Sejak itu pemerintah Indonesia melakukan upaya untuk mengekstradisi Adrian Kiki melalui proses peradilan di Australia. Indonesia dan Australia menandatangani perjanjian ekstradisi pada 22 April 1992. Mantan Direktur Utama Direktur Utama PT Bank Surya ini tiba di Kantor Kejaksaan Agung pada 22 Januari 2014 malam, dengan kawalan interpol. Adrian ditahan di LP Cipinang untuk menjalani hukuman penjara seumur hidup, bersama wakilnya, Bambang Sutrisno.

Berselang lima hari, 27 Januari 2014, giliran Anggoro Widjojo yang ditangkap. Kakak kandung terpidana Anggodo Widjojo ini kabur sejak Juli 2009, tidak lama setelah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Keberadaan Anggoro sempat terlacak di Singapura, selanjutnya tak diketahui. Setelah pencarian yang intens, jejak pria bernama asli Ang Tju Hong ini dipastikan berada di daerah Zhenzhen, Cina. Tanpa buang waktu, KPK yang sudah berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Indonesia di Cina dan Kepolisian Zhenzhen, langsung menangkap Anggoro. (dd)

Bagikan ke: