Wirausaha Berbasis Budaya Lokal

…93,86% lulusan pergurun tinggi di negeri ini lebih berorientasi cari pekerjaan ketimbang menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri,…

Pernyataan tersebut acapkali dilontarkan Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso Budi Susetyo setiap berbicara di depan civitas akademi di berbagai perguruan tinggi di berbagai daerah. Memang ada kegundahan terhadap data tersebut lantaran sejak lima tahun berselang pemerintah bertekad untuk mencetak wirausaha baru minimal 2 % dari populasi penduduk, sehingga dapat mengantisipasi masalah angkatan kerja.

Upaya mencetak kader wirausaha pemula tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Kementerian Koperasi dan UKM yang memang sudah digulirkan sejak tahun 2012.

Itu sebabnya hampir di setiap acara diklat terpadu bersama kalangan mahasiswa di perguruan tinggi baik pusat maupun daerah, Prakoso tak bosan menyampaikan oriientasi lulusan pergurun tinggi di negeri tercinta ini yang lebih suka mencari pekerjaan dari pada menciptakan lapangan kerja untuk diri sendiri.

Aprijal K

Untuk mengubah mindset menjadi pencipta kerja tentu tidak mudah, karenanya pelatihan yang diberikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM tidak sekedar memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) melalui kuliah, ceramah dan diskusi dari instruktur kepeserta saja, tetapi lebih difokuskan pada penyadaran para peserta diklat tentang kewirausahaan yang pada akhirnya akan tergerak untuk berwirausaha.

Ke depan Program Peningkatan dan Pengembangan Kapasitas SDM KUMKM ini difokuskan pada Keluarga Nelayan dan Keluarga Petani serta pelaku UKM di sentra berbasis budaya lokal, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat nelayan dan petani dalam menumbuh-kembangkan wirausaha secara mandiri. Sasaran yang hendak dicapai adalah 45 ribu orang dari kalangan keluarga nelayan, petani dan pelaku UKM.

Sejak program ini digulirkan pada tahun 2012, sebanyak 189 orang Wirausaha Pemula terbentuk dengan nilai bantuan sebesar Rp 4.19 miliar, tahun 2013 terbentuk 3.860 orang Wirausaha Pemula dengan nilai bantuan sebesar Rp 53.99 miliar dan dalam tahun 2014 terdapat 4.326 orang Wirausaha Pemula terbentuk dengan total bantuan usaha sebesar Rp 49.10 miliar.

Untuk mencetak kader usahawan unggul itu, Kementerian Koperasi dan UKM tidak bekerja sendirian. Seperti dikatakan Prakoso, pihaknya menggandeng sejumlah Lembaga strategis seperti PT. Bank Mandiri, PT. Bank BRI, PT. Bank BNI, PMI, Perguruan Tinggi, PT. IBM, PT. Microsoft, dan PT. Intel melalui dana CSR mereka masing-masing. Bersama dengan PT. Bank Mandiri dan PT. Bank BRI telah disusun kegiatan Gerakan Kewirausahaan Nasional yang direncanakan pada tanggal 15 Maret 2015 di JCC Jakarta

Senergi kegiatan semacam ini akan terus dikembangkan, sebagai bentuk perwujudan bahwa mencerdaskan masyarakat. Bukan hanya menjadi tugas Pemerintah (baca dibiayai oleh negara) saja, tetapi menjadi tugas dan tanggung jawab lembaga atau masyarakat lainnya.

Hal ini dibenarkan oleh Sharmila Ketua IWAPI, Ibu muda yang enerjik ini siap melibatkan anggotanya guna mensukseskan program peningkatan dan pengembangan kapasitas SDM KUMKM. Mengapa IWAPI?, salah satu alasan disampaikan bahwa “perempuan” biasanya lebih ulet dan struggle dalam mengelola usaha, apalagi dasar yang digerakan adalah sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Tentu saja program ini hanya akan sukses apabila komunikasi antarpelaksana dapat berjalan dengan lancar, di pusat maupun daerah sehingga peningkatan pelayanan kepada masayarakat sesuai program Reformasi Birokrasi di Kementerian Koperasi dan UKM terlaksana dengan baik. ( Penulis adalah Asisten Deputi Bidang Pengembangan Wirausaha Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM)


Bagikan ke: