Wacana Mubazir Pindah Ibu Kota

Isu pindah ibu kota dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalteng, muncul lagi. Wacana ini bermula pada 1957. Bung Karno sendiri yang menyebut alternatif tersebut. Di era Presiden Soeharto, lokasi yang ditimang-timang adalah kawasan Jonggol Cairu, di Bogor, Jabar.

Entah siapa yang memicu. Entah apa urgensinya. Entah siapa yang berkepentingan. Yang jelas, Jakarta sudah 53 tahun ditetapkan sebagai ibu kota negara. Dikukuhkan melalui UU No. 10/1964. Jika dipindahkan, apa untungnya bagi rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke? Apa implikasinya terhadap iklim usaha dan investasi?
Malangnya, J akarta memikul beban terlalu banyak. Ya sebagai pusat bisnis dan investasi, pusat keuangan, perdagangan, pariwisata, pusat pemerintahan, ya juga sebagai ibu kota. Dampaknya, seperti kita saksikan bersama, kemacetan lalu lintas yang amat parah, urbanisasi yang tinggi, kesenjangan ekonomi, ketimpangan sosial, dan peningkatan kriminalitas.

Yang paling realistis, modivikasi saja model Amerika Serikat. Cari/tetapkan sebuah kota untuk pusat pemerintahan dan ibu kota, seperti Washington. Lalu, tata dengan baik (dan lanjutkan) ketelanjuran Jakarta dengan segala bebannya seperti New York. Itu saja usul saya, agar soal hijrah ibu kota tak kelewat mubazir. Terima kasih.
Indra Abbas

Binjai, Sumatera Utara

Bagikan ke:

3 thoughts on “Wacana Mubazir Pindah Ibu Kota

  1. Thanks for sharing, this is a fantastic blog article.Really looking forward to read more. Great.

  2. Hey, thanks for the post.Really looking forward to read more. Much obliged.

  3. Really informative blog.Really looking forward to read more. Cool.

Comments are closed.