VW Kodok,WarisanLegendaris Der Fuhrer Adolf Hitler

 

 

Klub Volkswagen Beetle dirintis 33 tahun silam. Mereka cenderung menyatu di bawah bendera VW. Bahkan kerap melibatkan komunitas mobil jenis lain dalam kegiatan-kegiatannya. Mobil dengan mesin dibelakang ini menjadi sangat khas karena desain lengkungnya itu hampir tak berubah sejak pertama diproduksipada1938.

           

KEMIRIPAN bentukitulah yang membuatnya disebut VW Kodok. Nama resminya Volkswagen (VW) Beetle. Takcuma bentuknya yang unik, mobil yang mirip kodok nyungsep ini pun amat bersejarah.Dia terkait dengan Perang Dunia I (1914-18). Terkait dengan nama diktator Jerman, Adolf Hitler, yang memaksa sejumlah negara bersekutu menyinergikan kekuatan militernya untuk menghentikan ambisi gila-gilaan sang Fuhrer. VW Kodok boleh dibilang salah satu dampak positif pasca-PDI.

Inisiatif pembuatannya muncul dari sang Fuhrer. Ia menginginkan adanya mobil dengan harga murah untuk rakyat Jerman.Seorang insinyur kenamaan, Ferdinand Porsche, bersama timnya ditugasi untuk itu. Tim Porsche perluwaktu empat tahun untuk mematangkan keseluruhan aspek teknis, sejak 1934. VW Beetle yang memiliki nama resmi Volkswagen Type 1 ini mulai diproduksi pada 1938. Model klasik tersebut praktis ‘dilestarikan’ alias sangat minim perubahan sampaidengan 1998. Desain pertamanya dipertahankan sebagai identitas.

Meski menggunakan desain generasi pertama selama 60 tahun, VW Kodok ternyata cukup dicintai masyarakat dunia.Produksi mereka yang menembus 21 juta unit membuktikanhalitu.Mobil dengan ciri khas serba lengkung itu dipasarkan ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.Generasi kedua Volkswagen banyak berkaca dari generasi pertamanya yang laris manis dipasaran. New Beetle diproduksi tahun 1998.Tampilannya lebih modern dengan sentuhan di sana-sini, tetapi tetap mempertahankan siluet bentuk khas Beetle.

Generasi kedua ini hanya sempat bertahan 13 tahun.Generasi ketiga VW Beetle hingga kini masih dipasarkan, diproduksi sejak 2011 lalu.Secara keseluruhan, tak bisa dipungkiribahwa VW Beetle sukses memikat penggemar.Tak jarang mobil ini memenangi kontes modifikasi yang digelardi berbagai belahan dunia.

Volkswagen masuk ke Indonesia sekitar tahun 50-an/60-an dengancara yang agaktaklazim. Samasekali bukan untuk penjualan komersial, melainkan sebagaialattransporfleksibelguna membantu penanggulangan wabah penyakit. Di tahun-tahun awal, penjualan Kodok sedang menurun, baik di Jerman maupun di seluruh dunia. Kejayaan VW di Indonesia ditandai dengan peralihan APM (Agen Pemegang Merek) dari PT Piola ke tangan PT Garuda Mataram tahun 1970-an.

mobil vw

Dinisiasi 10 Pengguna

Bersamaan dengan semakin memasyarakatnya VW di jalanan kota-kota besar, munculah komunitas-komunitas pecinta VW. Demikian pula dengan pengguna VW Kodok.Mereka biasanya bergabung dalam komunitas pecinta VW secara umum, tanpa dibatasi oleh model apapun, atau khusus berhimpun sebagaisesama pecinta VW Kodok saja.Untuk yang terakhir, setidaknya terdapat dua komunitas pecinta VW Kodok yang usianya paling tua. Dua komunitas tersebut bernama Volkswagen Beetle Club (VBC) dan Frogs Bread Club (FBC). Keduanya berlokasi di Jakarta.

Volkswagen Beetle Club (VBC) berdiri sejak 6 Juni 1982. Klub ini diinisiasi oleh 10 pengguna VW Kodok yang sering berkumpul di daerah Wijaya, Jakarta Selatan. Sejak klub ini terbentuk, berbagai kegiatan telah diselenggarakan, dari yang berhubungan dengan VW Beetle seperti seperti touring hingga bakti sosial.Pasang surut organisasi pun pernah dialami. Bahkan, VBC pernah vakum selama tujuh tahun karena para anggotanya sibuk dengan alasan masing-masing. Antaralain, bekerja di luar Jakarta hingga tidak ada waktu lagi karena telah berumahtangga.

Klub yang kedua, Frogs Bread Club (FBC), awalnya didirikan oleh tiga anak muda pecinta VW Kodok pada tahun 1986. Klub ini semulabernama Frogs saja. Tetapi seiring semakin banyaknya anggota yang tidak hanya menggunakan VW Kodok, nama klub ini pun diganti.Klub ini biasanya akan berkumpul setiap akhir minggu. Di tiap pertemuan, akan selalu ada kendaraan selain VW, misalnya Jeep dan Honda. Bukan hanya itu, terkadang FBC juga mengundang klub otomotif lain untuk hadir di acara mereka demi memperluas dan meningkatkan silaturahmi.

VW Indonesia adalah salah satu komunitas otomotif tertua di Indonesia. Di dalamnya banyak tergabung klub-klub VW di seantero Nusantara. Sejak Desember 2012, Herlambang Setyanto menjabat sebagai sebagai Ketua Harian VW Indonesia, membantu Soeyono sebagai Ketua Umum. VW Indonesia terlibat dalam kegiatan Pasar Jongkok Otomotif 2 (Parjo 2) yang diadakan 6-7 April 2013 lalu di Parkir Timur Senayan, Jakarta.

Setyanto Herlambangmengakumulaiakrabdengan VW Kodoksejak 1989, yang akrab dipangil Yanto,“Saya diangkat menjadi ketua komunitas VW Beetle Jakarta,” ujarYanto, sapaanakrabpriaini. Komunitas VW terus berkembang, sampai di tahun 1992 berdirilah VW Indonesia. Saat ini bernaung 72 klub VW di bawah VW Indonesia, “Kami bertugas mengkoordinasi dan menciptakan aturan main agar tidak terjadi benturan program di antara klub-klub VW yang ada,” ujarnya.

Jikadicermati, dari semua VW jadul, ternyata tak cuman VW Kodok yang mesinnya di belakang.Mesin VW Safari, VW Kombi, VW Varian, Karmann Ghia, juga ada di belakang; bagasi depannya digunakan untukmenyimpan serep ban mobil. Mesin di belakang ini memang  bukan monopoli VW. Mobil-mobil mewah seperti Porsche, Ferarri, dan Lamborghini mesinnya di belakang. Sayangnya, VW Kodok rilisteranyar, yang diperkenalkan di Detroit Auto Show 1994, posisimesinnya sudah di depan.

 

NilaiPlusMesinBelakang

 

Posisi mesin seperti itu memberi beberapakeuntungan. Penumpang lebih nyaman, karena kabin jadi senyap. Performa lebih bagus, terutama mobil yang berkekuatan di atas 200 horsepower. Tak gampang limbung (understeeratau oversteer) saat menikung. Lebih tahan berbagai medan, di lumpur, pasir, es, salju, karenamobil tetap memberikan traksi yang baik buat roda belakang; terutama bagi mobil kendali roda belakang (rear wheel drive -RWD). Mesin belakang lebih dingin, dan pendinginnya alami (air-cooled), jadi tak perlu memikirkan air radiator yang habis (water-cooled), toh VW tua semacam inimemang tidak memiliki radiator.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, lalu mengapa mayoritas mesin mobil ditaruh di depan? Hitung punya hitung, ternyata ongkos pembuatan mesin di depan lebih murah, ketimbang mesin di tengah (mid engine) ataupun mesin di belakang (rear engine).Selain itu, mayoritas mobil yang kita temui di jalan, menggunakan kendali roda depan (front wheel drive -FWD), sehingga bakalan lebih mudah jika menggunakan mesin depan. Sedangkan mobil dengan mesin belakang (rear engine) biasanya menggunakan kendali roda belakang (rear wheel drive -RWD).

Dari kalangan nonkomunitas, penulis sempat mencatat dua hal mengesankan. Yakni seorang teman mencatatkan rekornya sendiri dengan menggunakan VW Kodok sejak bisa nyetir dan memiliki mobil ampai akhir hayatnya. Yang kedua, hal yang sama juga ditorehkan Prof. Slamet Imam Santoso, Bapak Psikologi Indonesia (19..-19..), yang tidak memberlakukan system ujian/ulangan terhadap mahasiswa pengikut kuliahnya.

Sekali waktu, tahun 1980-an, saya parkir kebetulan persis di samping VW Kodok putih Pak Slamet, di UI Salemba. Beliau juga baru parkir dan berdiri di samping mobilnya, berkacak pinggang. “Sudah berapa lama Saudara naik Vespa?” Saya jawab, “Sekitar lima tahun, Prof”.“Saudara sering ke bengkel, kan? Sejakpertama, (mobil) saya belum pernah masuk bengkel sekali pun. Saya merawatnya sendiri sampai hari ini.” Dan profesor kocak itu berlalu begitu saja; menikmati keisengannya dengan membiarkan saya terbengong-bengong…

Bagikan ke: