Uber & Gelontoran Dana Besar

Sebagai perintis dan market leader di bisnis ini, Uber senantiasa dikuntit kompetitor terdekatnya. Mereka patut ekstrawaspada. Sebab, aksiomanya, upaya mempertahankan selalu lebih sulit.

pool taxi

Arsitek di balik kelahiran Uber adalah Garret Camp dan Travis Kalanick. Duet entrepreneur kawakan yang masing-masing sukses menjual perusahaan teknologi mereka. Garret menjual StumbleUpon, mesin penjelajah internet, kepada eBay pada tahun 2007 seharga US$75 juta (Rp923 miliar). Sedangkan Travis Kalanick telah menjual Red Swoosh kepada Akamai senilai US$19 juta (Rp234 miliar).

Garret dan Travis bertemu tahun 2008 di sebuah konferensi teknologi di Paris. Ide kreatif Garret untuk memecahkan masalah besar di San Fransisco disambut Travis dengan antusias. Mereka pun menggagas sebuah perusahaan internet yang menghubungkan pengemudi dengan pengendara. Terobosan mereka belakangan tercatat sebagai startup dengan pendanaan terbesar di dunia, dengan nilai valuasi US$40 miliar (Rp 492 triliun).

Duet enterpreneur ini bertekad menciptakan satu juta pekerjaan pada tahun 2015. Sebuah target yang dinilai tepat bagi Travis, yang saat itu beristirahat setelah menjalankan startup-nya non-stop selama 10 tahun. Bersama Oscar Salazar, teman Garret semasa kuliah, mereka bertiga meluncurkan prototipe produk Uber di New York pada Januari 2010. Tidak lama kemudian, mereka menemukan orang yang tepat untuk mengisi posisi General Manager: Ryan Graves, yang semula diwawancarai justru untuk bekerja di Twitter.

Selama lima tahun beroperasi, secara total Uber telah mengoleksi pendanaan US$2,7 miliar (Rp33 triliun). Sebagai perbandingan, rekor ronde pendanaan terbesar sempat dipegang Facebook pada 2011: US$1 miliar (Rp 12,3 triliun). Airbnb, marketplace rental kamar, di posisi ketiga dengan jumlah ronde pendanaan USD 450 juta (Rp 5,6 triliun) beberapa bulan lalu. Uber sendiri pada tahun ini telah mengumumkan dua kali ronde pendanaan, yang masing-masing memiliki nilai sebesar US$1,2 miliar (Rp14,8 triliun).

Pada saat ini, Uber beroperasi tidak hanya di San Fransisco, tapi di lebih dari 250 kota di 50 negara. Mereka memiliki lima pilihan kendaraan: Taxi, Black (mobil sedan mewah), SUV, LUX (pilihan mobil paling mewah), dan UberX (layanan mobil dari sesama pengguna). Mereka juga memiliki sejumlah produk yang tengah dalam tahap testing seperti Essentials dan Rush. Essentials merupakan jasa pengiriman barang-barang esensial seperti snack, minuman ringan, dan perlengkapan medis. Adapun Rush merupakan jasa kurir.

Menurut International Launcher dan GM Uber Indonesia Alan Jiang, yang mengepalai Uber Indonesia. “Indonesia adalah salah satu negara terberat untuk mencari staf, dan kami akan mempekerjakan banyak orang tahun ini. Untuk Jakarta, tantangannya sudah pasti kemacetan”. Tawaran terbuka bagi pemilik yang ingin mengendarai sendiri mobilnya; atau mempekerjakan driver; atau driver yang tak memiliki kendaraan.

Saingan terberat Uber adalah Lyft, yang juga berasal dari Amerika Serikat. Tiga lainnya berada di Asia–Ola di India yang baru-baru ini meraih pendanaan US$210 juta (Rp2,5 triliun) dari Softbank; Didi di Cina dengan pendanaan US$118 juta(Rp1,4 triliun); dan GrabTaxi yang telah menggalang dana US$90 juta (Rp1 triliun) dari Tiger Global, GGV Capital, dan Hillhouse. (dd)

Bagikan ke: