Trekkies, Para Pecinta Fiksi Ilmiah ‘Star Trek’

Menebar salam Vulkan—”Live Long and Prosper” (Panjang usia dan Sejahtera)komunitas pecinta serial fiksi ilmiah lintas negara, usia, etnis dan sebagainya. Untuk region Indonesia, mereka berhimpun di bawah payung Indo-Star Trek.

            trekkies

Anda generasi yang nonton tv tahun 80-an atau 90-an? Jika ya, Anda tentu ingat film seri “Star Trek : The Next Generation” dengan bintang seperti Captain Picard, James Kirk, Leonard McCoy, Data, Spock. Serial fiksi ilmiah Star Trek pertama kali ditayangkan 8 September 1966 ini mendapat tempat tersendiri di hati penggemarnya di Tanah Air, hingga kini. Selain serial televisi, 10 film layar lebar, ratusan judul novel, komik dan beraneka ragam merchandise seputar Star Trek juga diluncurkan.

Penggemarnya, yang disebut Trekkies atau Trekkers, seakan tak berhenti mengapresiasi. Sebutan ini telah resmi diakui dan dicatatkan dalam ‘Oxford English Dictionary’. Setelah serial terakhir “Star Trek, Enterprise” dibuat (2005), penggemar Star Trek di Nusantara masih merasakan semangat dan maslahat produk celluloid yang disutradarai JJ Adams itu. “Segala pengaruh positif Star Trek itu jadi lebih positif bila didiskusikan dengan sesama pencintanya,” kata Bowo, penggiat Indo-Star Trek.

Jumlah anggota Trekkies yang tercatat lebih dari 300 orang—di samping populasi penggemar yang niscaya ribuan. Usia mereka pun beragam, mulai dari tujuh tahun sampai 60 tahun. Awalnya bernaung dalam kelompok-kelompok kecil: NCC 955, USS Batavia, USS Parahyangan, Wrap Nine, Trekkieslist, dan id-StarTrek. Belakangan mereka melebur ke dalam sebuah wadah: Indo-Star Trek (IST).

Komunitas generasi pertama penggemar Star Trek di Indonesia dimotori Monang Pohan dan kawan-kawan adalah USS Batavia, yang dibentuk pada 1995. “USS” adalah pesawat Star Trek, sedangkan “Batavia” menunjukkan lokasinya yang di kampung si Doel. Setelah itu menyusul terbentuk komunitas Star Trek di Bandung dengan nama USS Parahyangan, dan seterusnya.

Generasi kedua komunitas Star Trek dimotori Puruhito Sidikerto (Pito) pada tahun 1999. Kala itu teknologi internet mulai mewabah. Melalui mailing list, komunitas ini berhasil menghimpun banyak anggota baru. Dua generasi komunitas ini menggelar kegiatan seperti gathering dan acara menonton bersama. Komunitas Star Trek generasi ketiga—dimotori Ismanto Hadi, Erianto Rachman, Bowo Trahutomo, Syaiful Bahri dan Akhmad Hersapto—melangkah lebih maju.

startrek

Dari Cadet Hingga Admiral

Komunitas-komunitas tadi menjelma menjadi organisasi formal dan profesional pada 15 April 2006, dengan nama Indo-Star Trek. Pertemuan pertama, yang disebut ‘First Contact’, ditindaklanjuti dengan sejumlah kegiatan. Mulai dari diskusi, gathering, nonton bareng; membuat situs, milis, dan forum internet; promosi melalui koran, radio dan televisi; mengikuti festival komunitas, Indonesian Community Expo 2008; hingga kegiatan Spaceship Bridge Simulation setidaknya sebulan sekali.

Klasifikasi keanggotaan para Trekkies itu pun punya sebutan yang keren. “Anggota komunitas dengan range umur di bawah 10 tahun disebut Cadet, lalu secara berjenjang berdasarkan usia: Ensign, Liutenant, Commander, Captain, dan Admiral,” ujar Hilmy Hasanuddin. Dari sisi gender, 80% anggota komunitas adalah pria, 20% lainnya wanita. Sesungguhnya, penggemar film fiksi ilmiah/science fiction Star Trek tidak mengenal batas usia, negara, etnis dan sebagainya.

Jangan dikira penggila film ‘pembayangan masa depan’ ini hanya di Indonesia. Selain Amerika Serikat sebagai pusat, komunitasnya juga ada di Malaysia, Singapura, Filipina, dan beberapa negara lain. Konvensi Star Trek diadakan setiap akhir tahun paling sedikit di empat kota di negeri Paman Sam. Setiap tahunnya berhasil berkumpul lebih dari 300.000 penggemar Star Trek di AS. Total jenderal, penggemarnya di seantero dunia diperkirakan sudah lebih dari satu juta.

Silabus serial ini mencakup: Star Trek: The Original Series. USS Enterprise (NCC-1701) dengan awak kapten James T. Kirk (William Shatner), commander Spock  dari planet Vulcan (Leonard Nimoy), Doktor Leonard McCoy (DeForest Kelley); Star Trek: The Animated Series. hanya bertahan dua tahun; Star Trek: Phase II; Star Trek: The Next Generation; Star Trek: Deep Space Nine. dimulai pada 1993; Star Trek: Voyager  (1995-2002); dan Star Trek: Enterprise (20012005).

Dari tayangan itulah muncul gairah kegembiraan Trekkies menghelat walimah berkostum ala kru Star Trek (‘costum day’) sembari menebar ‘Salam Vulcan’ (jari-jari tangan diangkat sejajar wajah membentuk huruf V—dengan telunjuk yang merapat dengan jari tengah dan jari manis merapat ke kelingking) disertai ucapan “Live Long and Prosper” (Panjang usia dan Sejahtera). Salam ini merupakan salam khas para penggemar Star Trek tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

 

Forum Diskusi Aneka Tema

Indo-Star Trek tergolong komunitas yang cukup aktif mengikuti kegiatan pameran dan mengadakan acara di WBD dari tahun ke tahun. Puluhan anggota Indo-Star Trek hadir. Mereka bukan hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari kota-kota lain, bahkan dari Pontianak, Samarinda, Solo, termasuk undangan khusus penggemar Star Trek yang datang dari Australia. Banyak temuan teknologi masa depan yang dilukiskan di Star Trek menjadi ide bagi para penemu masa kini.

Bersama segenap anggota, mereka bekerja secara padu untuk menggelar berbagai kegiatan bersama. Di antaranya, diskusi di milis, mengadakan talkshow tentang sains, nonton bareng film Star Trek, pembuatan kostum, wargames, pameran di World Book Day, dan Indonesian Consumunity Expo. Dengan berbagai sudut pandang, diskusi pun mengangkat topik yang beragam. “Mulai dari cerita, setting film, kostum, teknologi, fisika, filosofi, hingga manajemen, organisasi, dan kepemimpinan,” ujar Bowo yang mengaku menerapkan nilai-nilai kepemimpinan Star Trek ke dalam pekerjaannya sehari-hari.

Dalam acara Bandung Gathering 2009, misalnya, kehadiran para penggemar Star Trek ini lumayan menarik perhatian. Apalagi yang datang dengan mengenakan seragam perwira Starfleet, sebuah organisasi penjelajah galaksi dalam Star Trek, dengan saling mengucapkan salam khas mereka: salam Vulcan. Acara makin meriah setelah Ismanto mengeluarkan board perang Star Trek yaitu “Battles of Starships” ciptaannya sendiri. Menggunakan replika mini kapal-kapal luar angkasa dengan dadu dan papan kertas yang cukup besar, ini adalah simulasi perang antarkapal ruang angkasa.

Sekitar tiga tahun lalu, 2013, Indo-Star Trek memperingati 47 tahun serial perjalanan pesawat antarbintang Enterprise. Mereka mendapuk kegiatan dengan tajuk ‘Star Trek Day: Space Final Frontier’ di @atamerica Pacific Place, Jakarta. Ketua Panitia Star Trek Day, Hilmy Hasanuddin, dengan bangga menyebut, “Kami juga mengadakan video conference dengan sesama penggemar Star Trek di Filipina, Polandia, dan Amerika Serikat”.

Di antara beragam seremoni, diskusi merupakan kegiatan yang paling konstan dan kontinyu di kalangan Trekkies. Kemudahan akses komunikasi berkat kemajuan teknologi informasi makin kondusif untuk ajang saling tukar pikiran dan berbagi hikmah. Para pelajar, mahasiswa/alumni, karyawan, manajer, organisatoris, ilmuwan, futurolog saling buka wacana dan merefleksikan nilai-nilai yang mereka serap dari fiksi ilmiah berlatar luar angkasa itu.

 

Misi Persaudaraan & Perdamaian

Tanpa terjebak menjadi film berlimpah ilusi, tak sedikit ‘properti’ fungsional dalam serial Star Trek menginspirasi eksplorasi teknologi informasi yang kemudian diaplikasikan secara massal. Berbeda dari serial sejenisnya yang disutradarai George Lucas, dua trilogi Star Wars, opera antariksa yang lengkap dengan alien, pemiliki pedang laser, dan penyihir pasir. Tapi Star Trek menunjukkan masa depan dimana manusia telah menyisihkan perbedaan dan datang bersama-sama untuk hari esok yang lebih baik.

Rasanya tak berlebihan jika Trekkies mengklaim, Star Trek itu avant garde, seakan pembayangan bagi zaman (nan) menjelang. Setara dengan serial James Bond dalam genre film detektif. Di sini diciptakan alat-alat teknologi dan komunikasi yang semakin canggih. Filosofi terpenting dalam kisah-kisah fiksi ilmiah ini, antara lain, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan manusia, peran serta aktif dalam menjaga perdamaian, hingga pelestarian sumber daya alam, hewan dan lingkungan hidup.

Star Trek itu pesan-pesannya sangat manusiawi dan menyentuh. Meskipun mereka merupakan suatu community yang sudah sangat maju dengan penguasaan teknologi paling canggih (pada masanya), persaudaraan dan perdamaian di atas segalanya,” ujar Abrianto, penggila tokoh dan segala hal tentang Star Trek selama puluhan tahun. (Dody Mardanus)

Bagikan ke: