Tingkatkan Kualitas Produksi Gula, Pemerintah Harus Repetisi Pabrik

foto : Istimewa

Jakarta (Peluang) : Pengamat Pangan Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (APEGTI), Nur Jafar Marpaung menilai upaya pemerintah membangun ketahanan gula dalam negeri dengan melakukan repetisi lahan kurang tepat. Karena menurutnya,  masalah terbesar suplai gula berada pada kondisi fisik pabrik yang tidak efisien yang menyebabkan jumlah produksi gula petani tidak maksimal.

“Pabrik gula rakyat itu sudah tua, dibangun sejak zaman Belanda. Sehingga tanaman tebu hasil panen petani yang masuk ke pabrik untuk digiling, dalam produksinya hanya menghasilkan jumlah gula yang kualitasnya jauh dibawah produksi perusahaan gula swasta. Ini yang jadi masalah,” ujar Nur Jafar.

Selain itu, jelas dia, bahwa biaya produksi untuk menghasilkan 1 kilogram gula di pabrik penggilingan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih besar berada di angka Rp 10.500. Sehingga kalau pemerintah  memperhitungkan keuntungan petani tebu itu sebesar 15 persen atau 30 persen.  “Itu artinya harga gula petani berkisar antara Rp 12.075 sampai Rp 13.650 per kilogramnya,” katanya.       

Sementara dibandingkan dengan biaya produksi pabrik gula swasta, biaya prioduksi pabrik gula BUMN hampir 2 kali lipat swasta. Perusahaan swasta seperti Sugar Grup, yang memproduksi  Gulaku, dan  GPM yang pabriknya di Lampung, itu hanya memerlukan ongkos produksi Rp5.509 hingga Rp6 ribu per kilogram.

“Biaya produksi pabrik penggilingan gula milik perusahaan swasta itu hampir separuh biaya produksi pabrik milik BUMN, yaitu hanya Rp 6.000 perkilogram. Sementara pabrik tebu milik pemerintah itu Rp 10.500 per kilogram,” ujar Nur Jafar.

Lebih lanjut ia mengatakan, murahnya ongkos produksi pabrik gula milik swasta itu karena perusahaan tersebut memiliki sistem yang terintegrasi mulai dari perkebunan sampai ke pengelolaannya. Bahkan mesin-masin yang digunakan untuk proses penggilingan tebu menjadi gula putih juga lebih canggih.

Sedangkan keberadaan mesin-mesin di pabrik penggilingan tebu milik BUMN itu, usianya sudah tua dan tidak berteknologi canggih. Hal inilah yang menyebabkan produksi gula di pabrik milik BUMN, biayanya membengkak.          

Agar mendapatkan produksi gula yang berkualitas, Nur menyarankan sebaiknya pemerintah melakukan repetisi pada pabrik gula. Sehingga tanaman temu yang disalurkan oleh para petani ke pabrik penggilingan bisa diproduksi lebih maksimal.  

Karena rata-rata di pabrik gula di Indonesia menghasilkan rendemen sebesar 6 sampai 7 persen. Angka ini menurutnya, sangat rendah dibandingkan dengan pabrik gula di negara Thailand yang rendemennya bisa 11 sampai 12 persen.

“Jadi meskipun tanaman tebunya banyak, tapi kalau pabriknya masih jadul, mesin-mesinnya tidak berteknologi canggih, ya sama saja repetisi lahan itu tidak akan memenuhi target pemenuhan kebutuhan gula nasional. Repetisi pabrik juga penting dilakukan ,” tukasnya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.