Tiada Kota yang Lebih Sepi dari Subulussalam

Lengang memang, tapi alamnya menyediakan beraneka destinasi ekowisata—terkait dengan air terjun dan sungai. Antaranya, arung jeram. Juga arena hiking, trail, mountain bike, dan wisata religi.

TAHUKAH anda kota paling sepi di Indonesia? Kota tersebut berada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hunian rata-ratanya hanya 67 jiwa/km². Namanya Subulussalam. Wilayah kota ini tergolong besar. Luasnya 1.391 km² atau hampir dua kali lipat wilayah DKI Jakarta (661 km²). Namun, dengan populasi penduduk yang ala kadar (93.457 orang, data terakhir), Subulussalam dinobatkan sebagai kota paling sepi di Tanah Air.

Legitimasi yuridis kota sepi ini mengacu pada UU No. 8/2007. Kota Subulussalam merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Singkil, sejak 2007. Dari statistik tahun 2020 diketahui, jumlah penduduk Subulussalam hanya 90.751 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 46.065 jiwa dan perempuan 44.686 jiwa.

Nama Subulussalam diambil dari bahasa Arab, yang artinya “jalan menuju kedamaian atau kesejahteraan”. Pemberian nama ini bertujuan agar Subulussalam tumbuh menjadi kota ibadah. Masyarakat yang taat beribadah. Nama ini pun  pemberian ulama kharismatik sekaligus Gubernur Aceh pada masanya, Alm. Prof. Ali Hasymi, ketika berkunjung ke daerah ini. Almarhum juga menisbahkan beberapa nama untuk daerah-daerah perbatasan di sekitar.

Dengan populasi tak sampai 100.000 orang, infrastruktur yang diperlukan pun tentu sebatas yang fungsional saja. Subulussalam tak memerlukan landmark atau ikon mentereng untuk menandai eksistensiunya dalam 15 tahun terakhir. Lagipula, bukankah dia terlahir sebagai wilayah pemekaran?

Karunia terbaik kota ini adalah alamnya yang asri dan sangat potensial diolah secara serius menjadi destinasi wisata. Potensi itu terdiri dari Wisata Religi, Ekowisata, Budaya, Seni, Mountain Bike (MTB), Hiking, Trail (Extrem/Gastrex), kuliner, kerajinan dan lainnya. Potensi wisata di kota ini didominasi oleh ekowisata, yaitu wisata yang terkait dengan air berupa air terjun dan sungai.

Kecamatan Penanggalan memiliki beberapa obyek wisata. Pertama, Wisata Alam Penuntungan. Ini destinasi menyajikan aliran sungai jernih yang dikelilingi pepohonan hijau. Suasana sekeliling wisata alam terasa sejuk dan asri. Tempat ini memiliki air terjun dengan ketinggian kurang lebih 20 meter. Air sungai di tempat wisata ini tidak terlalu dalam, sehingga pengunjung senang berenang di sini.

Kecamatan Penanggalan juga menyediakan lokasi arung jeram dari Kampong Jontor hingga Kampong Sekelang menyusuri air Sungai Lae Kombih. Selain itu, di sekitar tempat arung jeram terdapat air terjun lainnya, yaitu Air Terjun Bidadari, Air Terjun Kedabuhan, dan Air Terjun Kedabuhan Kecil. Khusus untuk Air Terjun Kedabuhan, debit air yang besar yang dikelilingi oleh pemandangan bebatuan alami.

Air terjun Kedabuhan dengan debit air yang begitu besar dan dikelilingi oleh pemandangan indahnya bebatuan yang terbentuk dari ukiran alami. Setelah puas kita menikmati sejuknya air dan panorama air terjun selanjutnya kita akan dipacu adrenalin dengan olah raga arung jeram (rafting) menyusuri jeramnya arus sungai Lai Kombih dengan menggunakan perahu karet.

Untuk menuju destinasi ekowisata ini kita melalui transportasi darat sekitar ± 17 km dari Kantor Walikota Subulussalam menuju checkpoint start rafting di Kampong Jontor dengan menuruni tangga yang lumayan banyak dan curam dari pinggir jalan nasional menuju pinggir sungai.

Ekowisata Lae Soraya berada di sepanjang aliran sungai terbesar yang melintasi Subulussalam yaitu Lae Soraya/Lae Alas/Sungai Singkil tepatnya di Kampong Pasir Belo Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam. Ragaman ekowisata yang disuguhkannya dimulai dari perjalanan dengan perahu tradisional (robin) menyusuri sungai yang lebar (100 m), dilanjutkan dengan enam destinasi air terjun yang begitu indah, yaitu Air terjun Lae Soraya, Ruam, Ranto Panjang, Batu Biti, Simanuk-manuk Betina, dan Air terjun Simanuk-manuk Jantan.

Untuk menuju destinasi ekowisata ini kita melalui transportasi darat sekitar  32 km dari Kantor Walikota Subulussalam; dilanjutkan dengan transportasi sungai (perahu tradisional/robin) sekitar 1-2 jam perjalanan ke destinasi Air terjun Lae Soraya yang pertama, dan lanjut ke air terjun lainnya.

Kunjungi pula Makam Syekh Hamzah Fansuri. Situs ini merupakan cagar budaya. Syekh Hamzah Fansyuri adalah ulama dan pujangga besar Aceh abad ke-17 yang dimakamkan di Kota Subulussalam. Ketokohan Syekh Hamzah Fansyuri bahkan sudah diakui secara nasional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 13 Agustus 2013 menganugerahkan Bintang Budaya Parama Dharma.

Makam Syekh Hamzah Fansyuri terletak di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Subulussalam. Kompleks pemakaman ini berada dekat dengan Sungai Oboh. Syekh Hamzah Fansyuri diperkirakan hidup pada abad ke-16 sampai awal abad ke-17.

Tidak satu orang pun yang tahu mengenai silsilah keturunnnya dan tanggal beliau lahir. Berdasarkan bukti yang ada, diperkirakan Hamzah Fansuri hidup pada abad ke-16 saat aceh di bawah pemerintah Sultan Alaiddin Riayat Syah Sayyidil Mukammil (997-1011 H/ 1589-1604 M). Makam Syekh Hamzah Fansuri ini ramai dikunjung para peziarah domestik setiap harinya.

Kembali ke soal alam sebagai anugerah Yang Mahakuasa, kebijakan pemerintah daerah yang mengarah kepada pengelolaan hutan dinilai belum ada keseriusan.”Padahal, di antara kandungan keanekaragaman hayati yang khas atau bahkan spesies langka di dunia dapat di temui di sekitar kawasan hutan kita,” kata Amri, pemerhati dan penggiat masalah lingkungan di Babulussalam.

Contoh, keberadaan satwa Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Burung Rangkong (Bucerotidae), Beruang Madu (Helarctos Malaya US) dan beragam spesies burung lainnya

Potensi jenis tumbuhan langka juga bisa didapati. Seperti, pohon Kayu Kapur (Dryobalanops aromatica), Kayu Damar (Agathis dammara), Kayu Meranti (Shorea), Bunga Bangkai (Amorpopalus titanum) merupakan tumbuhan yang endemik di dalam kawasan hutan Subulussalam

Terkhusus di dalam kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, yang merupakan sebuah hutan gambut yang menjadi struktur Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dengan luas 102.500 ha yang terhampar dalam tiga wilayah kabupaten/kota, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh Selatan dan Kota Subulussalam.

Sedangkan luas areal kawasan konservasi Rawa Singkil Suaka Margasatwa yang masuk ke dalam wilayah Kota Subulussalam berkisar 3.177 ha. Di sini tercatat beberapa spesies yang lain, di antaranya 20 jenis mamalia, 15 jenis reftelia/amfibia dan 17 jenis biota air.

Sementara itu juga teridentifikasi beberapa spesies flora, seperti 40 jenis tumbuhan air, 134 jenis tumbuhan bawah dan 130 jenis tumbuhan berkayu. Oleh karena itu, Amri mengharapkan pemerintah daerah kiranya dapat memberdayakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal yang bergerak di bidang lingkungan untuk bersenergi dengan instansi terkait guna merumuskan program-program berbasis lingkungan yang teruji serta terukur

Pemerintah daerah, kata Amri, kiranya dapat memikirkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berbasis konservasi melalui manfaat keanekaragaman hayati yang ada. Misal dengan membuat pusat penelitian konservasi bertaraf internasional (hutan pendidikan) dan ekowisata.●(Zian)

Bagikan ke: