Tanri Abeng, From Zero to Hero

Yatim piatu sejak usia 10 tahun memaksanya mandiri. Tanri Abeng kecil mengawalinya dengan jualan pisang. Kerja keras yang jadi prinsip hidupnya. Predikat ‘Manajer 1 Miliar’ membuatnya risi.


DI JAJARAN manajer puncak negeri ini, nama Tanri Abeng hanya bisa disetarakan dengan Ir. Yamani Hasan (terakhir Direktur Utama). Manajer jempolan ini seumur  hidup hanya berkarier di sebuah korporasi: PT Unilever Indonesia. Yang membedakan di anytara mereka, Tanri berpindah-pindah perusahaan, pernah jadi menteri, dan pada usia lanjutnya memilih berkiprah di dunia pendidikan, dengan mendirikan Tanri Abeng University di UlujamiPesanggrahanJakarta Selatan

Pada awal tahun 2012, ia menjabat CEO OSO Group, menggantikan Oesman Sapta Odang (founder). OSO Group bergerak di bidang pertambangan, perkebunan, transportasi, properti dan hotel. Di sini, dalam keterlibatannya yang relatif pendek, kecemerlangan Tanri mulai menurun. Sebelumnya, 2007, ia dihadiahi penghargaan dan gelar khusus dari Harian Online KabarIndonesia sebagai “Begawan Manajemen Indonesia 2007”.

Melanjutkan studi dari Universitas Hasanuddin, dengan brevet MBA, dimulai dari management trainee di Amerika Serikat, Tanri melejit dalam waktu singkat. Pada usia 29 tahun ia sudah menduduki jabatan Direktur Keuangan dan Corporate Secretary di perusahaan multinasional Union Carbide (1969-1979).

Tahun 1979, ia pindah ke perusahaan produsen bir BelandaHeineken, PT Perusahaan Bir Indonesia (Indonesian Beer Company). Meski tidak bisa berbahasa Belanda dan tidak minum bir, ia jadi CEO perusahaan tersebut setelah diwawancarai 15 menit. Tanri mengubah nama nama perusahaan itu menjadi Multi Bintang Indonesia. Pada tahun 1982, PT MBI mencatat laba delapan kali lipat, menjadi Rp4 miliar, dari Rp500 juta dibanding ketika ia bergabung.

Ketika ditarik Aburizal Bakrie ke Bakrie Grup sebagai Presdir, korporasi ini memiliki lebih dari 60 anak perusahaan yang beroperasi di beragam industri. Dengan beberapa reformasi, kinerja Bakrie & Brothers membaik. Perusahaan penjualan tahunan sekitar US$50 juta, pada akhir tahun 1996 ditutup menjadi US$700 juta. Saat itu ia sempat dijuluki sebagai ‘Manajer Satu Miliar’ lantaran ia mendapat bayaran sebesar itu. Embel-embel ini membuatnya risi.

Tahun 1998 ia ditunjuk Presiden Soeharto sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN pada Kabinet Pembangunan VII, dilanjutkan dengan jabatan yang sama di Kabinet Reformasi Pembangunan pimpinan Presiden Habibie. Ia juga memegang banyak posisi senior noneksekutif di sejumlah organisasi kepemerintahan dan LSM. Seperti, Komisi Pendidikan Nasional, Badan Promosi Pariwisata, Dana Mitra Lingkungan, Asosiasi Indonesia Imggris, Institut Asia-Australia, Yayasan Mitra Mandiri, Wakil Ketua Dewan Bisnis Indonesia-Malaysia, Komisaris Utama PT Telkom Indonesia, Komisaris Utama PT Pertamina ( Persero).

Tanri Abeng lahir di Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan, 7 Maret 1942, dari sebuah keluarga miskin.  Pada usia 10 tahun, kedua orangtuanya meninggal. “Saya karena terpaksa sejak umur 6 tahun sudah punya perilaku entrepreneurship. Karena keluarga saya begitu miskin, seminggu saya jualan 1 sisir pisang cukup untuk jajan saya satu minggu. Saya masuk sekolah menengah saya sudah mengetik sendiri dari sekolah saya stensil langsung saya jual,” tuturnya dalam sebuah kesempatan.

Mungkin tak banyak yang tahu, Tanri Abeng senantiasa shalat fardhu di awal waktu. Sepenting apa pun acara yang tengah dihadapi, dia akan menundanya dan izin pamit begitu terdengar panggilan shalat.●(dd)

Bagikan ke: