Surplus Khazanah di Ranah Minang

Sumatera Barat mujur memiliki keragaman obyek wisata yang layak membuat daerah lain iri. Dari alam yang asri perawan, unik, artistik, arkais; laut dan keistimewaannya; warisan budaya purba, hingga dukungan kuliner dan infrastrukturnya; semuanya oke. Sayangnya, dunia pariwisatanya praktis jalan di tempat lantaran kendala sosial budaya.

           

Obyek wisata alam jenis apa pun dapat ditemukan di Sumatera Barat. Sebut saja pantai indah berpasir putih, berombak tinggi; pegunungan segar jernih; perbukitan; air terjun, danau, sungai, ngarai, goa; semuanya ada. Ikon Minangkabau masa lalu seperti Jam Gadang, Danau Singkarak/Maninjau, Lembah Anai dan Harau kian paripurna dengan tambahan Janjang Koto Gadang, Puncak Langkisau dan megakonstruksi Kelok 9 nan monumental.

Wisata kulinernya? Jangan ditanya. Menu rumah makan ‘Padang’ cukup sukses menawarkan standardisasi cita rasa Indonesia. Rendang daging sapi, misalnya, dikenal sama populernya dengan gulai itik lado hijau, aneka samba lado, tambusu (usus), gajeboh (jeroan), ampiang dadiah (sejenis yogurt), minuman kawa daun dan teh telur. Selain diterima secara nasional; secara berseloroh lazim terdengar… Kalau saja di bulan ada penghuninya, bisa dipastikan bakal ada rumah makan Padang.

Lembah Anai dan Lembah Harau

Lokasi wisata air terjun Lembah Anai sangat dikenal. Air terjun di pinggiran jalan setinggi 35 meter ini—anehnya, orang Minang menyebut aia mancua/air mancur—berada di bagian barat Cagar Alam Lembah Anai. Bagian dari aliran Sungai Batang Lurah Dalam dari Gunung Singgalang menuju ke patahan Anai. Dari Kota Padang, lembah eksotis yang dilalui jembatan kereta api di atas jalan raya ini dapat ditempuh sejam perjalanan darat.

lembaha harau

Dua jam perjalanan menuju Payakumbuh, ada Lembah Harau. Lembah berbukit dan bergelombang ini diapit dua bukit cadas terjal ±150 m. Di sekitarnya terpampang tebing granit terjal 80-300 m. Di sana dijumpai jurang/celah alam, tebing dan beberapa gua. Lima air terjun (sarasah) terselip di antara Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang. Hewan lindung seperti monyet ekor panjang, siamang, harimau Sumatera, beruang, tapir, landak, burung kuau, enggang hidup nyaman di cagar alam dan suaka margasatwa ini.

Bagian istimewa di lokasi cagar alam semenjak 19 Januari 1933 ini adalah Lembah Gema (Echo Valley). Jika Anda berteriak, suara Anda akan menghasilkan gema yang sempurna, memantul sebanyak tujuh kali. Sepanjang yang diketahui, inilah satu-satunya lembah di dunia yang dapat menghasilkan gema sempurna. Berkombinasi dengan ratusan menhir era megalit di Mahat, permandian mata air Batang Tabik, kota galamai Payakumbuh memang kaya destinasi.

 

Singkarak dan Maninjau

singkarak

Dua ikon Sumbar klasik melekat pada Danau Maninjau dan Danau Singkarak. Danau Maninjau (140 km dari Padang, 36 km dari Bukittinggi) luasnya 99,5 km². Danau Singkarak terbentuk karena peristiwa tektonik atau pergeseran atas patahan sehingga membentuk lubang yang dalam (lebih dari 200m) sedangkan Danau Maninjau terbentuk dari peristiwa vulkanik yang merupakan kaldera dari Gunung Tinjau. Di tepian danau cantik inilah sastrawan-ulama besar Buya Hamka biasa bermain melalui masa-masa kecilnya.

Danau Singkarak seluas 1.000 ha (70 km dari Padang) mulai dikenal luas pada 1905. Melalui jurnal biologi milik Ernst Haeckel, peneliti ekosistem dari Jerman, keindahan Singkarak diabadikannya dalam sebuah lukisan. Dua hal istimewa dari danau ini. Pertama, ikan bilih yang gagal dikembangbiakkan di luar Danau Singkarak. Kedua, panjang danau tektonik ini terus tumbuh. Awalnya 3 km, bertambah menjadi 8 km, 13 km dan sekarang sekitar 23 km.

Pamor Singkarak makin berkibar sejak Tour de Singkarak digelar, 2009. Kejuaraan tahunan resmi internasional Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International) ini bekerja sama dengan Amaury Sport Organisation, penyelenggara Tour de France. Dalam pacu gowes selama sepekan antara April dan Juni itu, rombongan melintasi Lembah Harau, Danau Maninjau, Kelok 44, Danau Diatas, dan Danau Dibawah dan tentu saja Singkarak.

 

Langkisau, Lawang & Kawasan Mandeh

Suka olahraga terbang layang? Angin dan lokasi Langkisau sangat cocok. Wajar jika setiap tahun dihelat Festival Paralayang di sini, baik lomba paralayang tingkat nasional maupun internasional. Nikmati sensasi Bukit Langkisau di Painan (Pesisir Selatan) atau Puncak Lawang di Kabupaten Agam, sambil memandang Danau Maninjau dari ketinggian. Dari puncak Bukit Langkisau wisatawan akan dapat menyaksikan relief alam Kota Painan, Sago dan alam pantai serta barisan pulau-pulau dengan lampu kapal bagan para nelayan.

Sekitar 20 menit perjalanan dari Bukittinggi menuju Matur, sebelum Danau Maninjau, terhampar ladang tebu di sepanjang jalan menuju Puncak Lawang. Mata pencaharian masyarakatnya tercermin dari situ. Di bukit dengan bentuk melandai itu terhampar luas rumput hijau. Secara visual tampak bersambungan dengan Samudera Hindia. Kalau sudah begitu, nantikanlah saat-saat matahari jingga terbenam (sunset).

Di Pesisir Selatan terbentang Kawasan wisata terpadu Mandeh, 56 km dari Padang. Kawasan ini merupakan gugusan pulau yang membentang seluas 18 ribu ha di Teluk Carocok, ditunjang dengan topografis yang landai serta kekayaan biota laut. Bagusnya pula, air di kawasan laut ini tidak berombak. Menurut Andrinof Chaniago, mantan Menteri Percepatan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, keindahan kawasan ini tak kalah dari Raja Ampat di Papua Barat. Lokasi terbaik untuk snorkeling atau diving ada di Pulau Cubadak.

 

Great Wall Mini Fort de Kock

Jam Gadang hingga kini menjadi ikon sekaligus tujuan wisata di Bukittinggi. (Selesai dibangun pada 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris/controleur Fort de Kock (Parijs van Sumatera/Bukittinggi). Dibangun dengan biaya sekitar 3.000 Gulden, jumlah yang fantastis saat itu. Sejak didirikan, atap menaranya telah tiga kali berubah. Renovasi terakhir 2010. Dalam salah satu versi, sejarah penulisan aneh angka IIII (bukan IV) pada jam itu arkian titah King Louis XIV (1638- 1715). Raja berdalih, itu demi ketidakseimbangan visual—dengan angka VIII di seberangnya.

Miniatur Great Wall Cina (8.851 km) nan megah menghubungkan kawasan Bukittinggi dan Agam. Menelusuri bentangan 1 km tiruan Tembok Raksasa yang disebut Janjang Koto Gadang itu, mata Anda disuguhi gagahnya Ngarai Sianok, persawahan asri dan tebing-tebing gahar. Destinasi penting kota yang pernah ditunjuk jadi ibukota RI pada 19 Desember 1948 adalah Lubang Jepang. Hal lainnya, goa bawah tanah ±2 ha yang dibangun Jepang (1942-45) dengan cara paksa/romusha untuk tempat pertahanan serdadu dan menyiksa tahanan perang.

 

Ombak Mentawai & Tabuik Gandoriah

Penggemar surfing tahu, Mentawai itu salah satu lokasi terbaik di dunia. Kepulauan Mentawai meliputi empat pulau besar yakni Pulau Sipora, Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Siberut adalah pulau terbesar, serta satu-satunya Pulau yang memiliki layanan pelayaran reguler yang menghubungkan Siberut dengan Pulau Sumatera, terutama Padang. Mentawai juga menawarkan objek wisata trekking ke hutan pedalaman tropis habitat beraneka satwa yang masih asri hijau alami.

Di sekitar Pulau Nyang Nyang dan Pulau Karamajat memiliki ombak 4 meter, salah satu ombak tertinggi di dunia. “Meski tidak seperti Hawaii, Mentawai bukan main indahnya,” kata Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Di surga para peselancar ini terdapat 33 area diving. Dari 71 spot surfing, dua di antaranya masuk dalam 10 ombak terbaik di dunia versi Surfer Magazine“. Yaitu Spot Lances Right di Katiet dan Spot Macaronies di Silabu. Di dua tempat ini barel atau terowongan ombaknya konsisten. Ombak terpanjang di dunia (100 meter) hanya ada di sini.

Pantai Gandoriah di Kabupaten Pariaman alias Kota Sala Lauak (60 km dari Padang) merupakan pantai dengan hamparan pasir putih dibalut hembusan angin sepoi dan gugusan pulau-pulau kecil. Di pantai inilah berakhir ritus Tabuik yang digelar tiap 10 Muharram sejak 1831 itu. Tabuik (tabut/keranda usungan jenazah) adalah pesta tahunan masyarakat Pariaman. Konteksnya, memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain. Di Bengkulu, ritus serupa dikenal dengan nama Tabot.

Mahakarya Konstruksi Kelok 9

Dahulu, para pengendara ngeri melalui kelok 9. Ruas jalannya zig-zag menuruni lereng bukit, yang telah dibangun sejak zaman Hindia Belanda (1908-1914). Kini, melewati lokasi ini dijamin tidak akan membosankan siapa pun. Ditopang 30 pilar yang kokoh dengan ketinggian 10-15 m. Kelok 9 yang 25 km dari Payakumbuh itu—di KM 146 & 148 (dari Pakanbaru)—jadi tempat melancong, sekadar rehat atau berfoto ria sembari menikmati suasana lembah indah, hutan dan jurang di antara Cagar Alam Air Putih dan Cagar Alam Harau.

Megakonstruksi Kelok 9 memang fenomenal. Terdiri atas enam jembatan (980 m) dan jalan raya biasa di lereng bukit (1.557 m). Jalur padat ini dilalui 6.800 kendaraan per hari, melonjak jadi 11.350 pada hari libur. Kelok 9 ini membentang meliuk-liuk menyusuri dua dinding bukit terjal, enam kali menyeberangi bolak balik bukit dengan tinggi tiang-tiang beton bervariasi hingga 58 meter. Inilah karya anak bangsa yang berkonsep green construction dan memanfaatkan produksi dalam negeri. Jembatan

Saat diresmikan Presiden Yudhoyono menyebut jembatan yang dibangun 2011-13 ini sebagai ikon konstruksi nasional yang monumental. Andai saja kolomnis MAW Brouwer mukim di Minang, bukan Pasundan, niscaya futurolog dan kolomnis kelahiran Delft—yang keinginannya jadi WNI tak kunjung terkabul hingga akhir hayat (1991)—mendahului Sapta Nirwandar, mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk bilang, “Alam Minangkabau lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”.

Psikologi Kultur Parewa

Dengan surplus destinasi begitu rupa—direktori lokasi wisata papan tengah tak ditampilkan di sini—mengapa pariwisata Sumbar sulit berkembang? Mengapa jauh tertinggal dibanding Bali, Yogyakarta, Bandung, Batam dan Sumatera Utara? Sosiolog senior Muchtar Naim menyebut 26 tahun lalu, perkembangan pariwisata terkendala oleh perilaku dan sikap masyarakat. Kendala sosial-budaya (semisal premanisme) memerlukan solusi yang tuntas dan menyeluruh agar program pariwisata bisa berkembang di ranah Minangkabau.

Sikap dan perilaku masyarakat umum, pada hemat Andrinof Chaniago, menjadi penghambat utama pariwisata di Sumbar. “Jumlah wisatawan yang hanya 60.000 orang/tahun itu terlalu kecil dibanding potensi Sumbar yang sedemikian besar,” katanya. Pengamat pariwisata Imran Rusli berpendapat, perilaku paling parah adalah pelayanan. “Mungkin karena masyarakat berasal dari kultur parewa (pendekar) dan penghulu (pemimpin), lelaki Sumbar paling emoh melayani. Maunya dilayani. Mereka tak mau tahu dengan konsep kepuasan pelanggan”. (Dody M.)

Foto

  1. Kelok 9 seutuhnya (tampak atas/kejauhan)
  2. Lembah Harau
  3. Lembah Anai, dengan air terjun dan kereta api
  4. Laut Mentawai tempat surfing
  5. Danau Singkarak/Rombongan Tour de Singkarak
  6. Danau Maninjau
  7. Tabut Pariaman di Pantai Gandoria
  8. Jam Gadang
Bagikan ke:

One thought on “Surplus Khazanah di Ranah Minang

  1. Setelah membaca artikel ini Saya baru tahu ternyata padang cantik juga ya. Tidak kalah dengan aceh ataupun Medan. 🙂

Comments are closed.