Sungailiat, Kota Tua nan Stagnan

Sebelum Pangkalpinang jadi ibu kota Provinsi Bangka Belitung, kota utama pulau timah itu Sungailiat. Inilah ibu kota kabupaten se-Pulau Bangka, ketika masih berinduk ke Provinsi Sumsel. Sayang, dinamika di kota tua ini berjalan lamban.

DUA setengah abad sudah usia kota ini. Tepatnya 252 tahun. Hari jadi Kota Sungailiat 7 Rabiulawal tahun 1186 H atau 27 April 1766 M. Belanda tampaknya merancang kota ini sebagai kota untuk bewristirahat. Lihat saja jalanannya dirancang lebar seperti Palangkaraya, dengan kapling perumahan yang begitu luas dan pepohonan yang terawat rapi. Lagipula, posisi Sungailiat di masa lalu jauh lebih strategis dibanding Pangkalpinang.

Terdiri dari 6 kelurahan dan 1 desa, satu hal paling menarik adalah tentang kebersihannya.  Masyarakat kota tampaknya sudah sangat akrab dengan budaya bersih. Amat jarang terlihat sampah di pekarangan rumah ataupun di got-got pinggiran jalan raya. Bahkan pasar-pasar di kota tua ini hampir selalu apik. Pasukan Kuning (Dinas Kebersihan Kota) bekerja efektif sejak menjelang mentari terbit.

Julukan Kota Berteman (Bersih, Tertib dan Aman) terbukti bukan moto Sungailiat yang asal tempel. Tahun 2013, mereka meraih Piala Adipura yang ke-8 (delapan)—setelah tahun 1997, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010. Setelah beberapa tahun terakhir tanpa penghargaan untuk kategori bidang kebersihan lingkungan, tahun 2012 kota hanya memperoleh sertifikat Adipura. Bagusnya, pegawai dan masyarakat secara rutin menggairahkan Gerakan Jum’at Bersih.

April tahun lalu, Sungailiat kembali menggeliat. Ada gelombang wisatawan sport tourism. Sedikitnya 19 negara berebut posisi tercepat, terkuat, terhebat di acara Sungailiat Triathlon 2017, 20-22 April 2017. “Ini kali keempat, event internasional yang merupakan kerja bareng antara Kemenpar dan Pemkab Bangka, Babel,” kata Menpar Arief Yahya. Sport tourism adalah kegiatan turisme yang memadukan antara olahraga renang, bersepeda, dan marathon. Dari tahun ke tahun, animo wisman yang ikut dalam triathlon ini semakin besar.

Acara ini biasanya diikuti 400-an peserta dari sedikitnya 19 negara seperti Aljazair, Australia, Austria, AS, Belanda, Brasil, Filipina, Jerman, Jepang, Italia, Inggris, Kanada, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, Spanyol, Swedia, Rumania, dan Prancis. “Wisman sport tourism ini 60 persen akan menjadi repeat visitor. Kalau mereka merasa nyaman dengan alam dan budayanya, mereka akan datang  lagi,” ujar Arief Yahya.

Penyelenggaraan acara ini semakin baik, semakin besar, dan mampu memberi dampak yang signifikan dalam hal pariwisata. Tahun 2017 tidak hanya Triathlon tapi ada event lain berupa mountain bike. “Kami ingin mempromosikan potensi pariwisata Kabupaten Bangka. Oleh karena itu, rute dalam Triathlon tahun ini digagas melewati obyek-obyek wisata unggulan Kabupaten Bangka,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Nusantara, Esthy Reko Astuti.

Geliat perekonomian di Kabupaten Bangka, khususnya di Sungailiat, tampak jelas dengan meningkatnya pembangunan rumah toko (ruko) seperti di sepanjang jalan strategis, di antaranya di  Jl Jenderal Sudirman dan Jl Pemuda. Dengan pesatnya pertumbuhan ruko ini, “Sekarang Sungailiat jadi kota seribu ruko,” ujar Yusroni Yazid, Bupati Kab Bangka 2006-2013. Tidak aneh, mengingat banyak kota di Nusantara tumbuh jadi “kota ruko” ala Batam.

Berkunjung sehari dua ke kota tua ini tentu menyenangkan. Obyek wisatanya banyak, dan tak kalah cantik dibanding Belitung misalnya. Pasar kuliner dan pusat jajan tersedia di beberapa titik kota. Untuk mereka yang terbiasa dengan riuh rendah kota besar,  tidak terlalu menarik untuk mukim atau berkunjung yang agak lama. “Agar betah di sini, kita harus punya banyak hobi. Entah itu main sepakbola, mancing, gaple, termasuk ngopi di kedai-kedai,” sebut Yusroni.

Pantai-pantai Cantik & Puri Tri Agung

Kota tua ini kaya dengan destinasi wisata pantai. Yaitu Pantai Parai, Pantai Tongaci, Pantai Tikus Emas, Pantai Turun Aban, Pantai Rebo, Pantai Teluk Uber, Pantai MatrasPantai Batu BerdaunPantai Tanjung Pesona,  dan Bukit Fathin. Pantai Matras,  misalnya, berukuran cukup luas. Fasilitas di pantai ini belum lengkap. Namun, pantai ini tetap menjadi tujuan liburan yang diminati banyak pengunjung lokal.

Pantai Parai Tenggiri, 15 menit dari pusat Kota Sungailiat, atau 40 km dari Pangkalpinang, ibukota Provinsi Bangka Belitung, disebut-sebut sebagai pantai paling indah di Bangka Belitung. Di sini fasilitas pariwisatanya memadai, menyenangkan, dan dikelola secara profesional. Pantai ini dilengkapi wahana permainan yang menyenangkan buat anak-anak. Destinasi Parai Tenggiri tidak pernah sepi pengunjung, meski tiket masuk terbilang mahal. Harga penginapan di sekitar pantai mencapai jutaan rupiah.

Pantai Rambak baru terkenal ketika tahun 2009, semenjak dibukanya akses ke sana. Hanya 10 menit perjalanan dari Kota Sungailiat. Selain bisa menyusuri pesisir pantai, dari pantai ini akan bisa langsung menuju ke Pantai Teluk Uber dan Pantai Tanjung Pesona.

Pantai Tikus merupakan kawasan pantai yang masih alami, belum tersentuh tangan-tangan jahil manusia. Pemandangan di pantai ini terasa semakin indah karena adanya bukit terjal dan hamparan batu granit, serta air yang kebiruan. Selain itu, di puncak bukit terdapat sebuah kuil peribadatan yang berbentuk bulat. Inilah yang menjadi ciri khas pantai ini. Pantai Tikus akan ramai dikunjungi ketika akhir pekan. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung bukan hanya orang Bangka Asli. Tapi juga banyak wisatawan dari luar daerah yang datang.

Pagoda Puri Tri Agung Sungailiat mirip dengan obyek wisata di Cina. Butuh waktu 12 tahun untuk menyelesaikan  bangunan di atas bukit ini. Dari kota Pangkalpinang menuju Pagoda Puri Tri Agung hanya perlu 1 jam. Pagoda ini melambangkan ajaran Tri Dharma, meliputi kongfuciusme, Buddhisme, Taoisme. Walaupun berupa rumah ibadat, siapa pun diperbolehkan datang untuk mengenal ragam wisata religi yang ada di Pulau Bangka.

Sejak diresmikan penggunaan Pagoda Puri Tri Agung, 18 Januari 2015. Bukan hanya wisatawan lokal Bangka, melainkan juga wisatawan dari luar Bangka. Arsitektur dan bangunan megah pagoda ini sangat khas bercorak Cina. Selain untuk wisata religi, masyarakat etnis Bangka kerap menjadikan Pagoda Puri Tri Agung sebagai background untuk foto outdoor pasangan pengantin pranikah.●(dd)

Bagikan ke: