Sunariati, Inovator Kopi Laos Instan dan Olahan Tanaman Obat dari Lawang

Sunariati dan produk inovasinya-Foto: Dokumentasi Pribadi.

LAWANG—Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Lawang,  Kabupaten Malang, Jawa Timur kerap menggelar sejumlah pelatihan budi daya dan olahan komoditas  pertanian guna melahirkan entrepreneur. Di antara entrepreneur hasil didikan BBPP Ketindan adalah Sunariati, seorang ibu rumah tangga di Mulyoarjo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Alumni Sastra Indonesia IKIP Malang Angkatan 1977 ini bergabung dengan BBPP Ketindan sejak 2016.  Sunariati kemudian memutuskan ikut pelatihan pembuatan kopi laos instan, namun baru menemukan resepnya setelah 1,5 tahun, sesuai selera pasar sambil mengurus perzinan hak merek dan hak paten produksi.

Kopi laos instan itu yang diproduksinya terdiri  Kopi, laos, jahe, rempah-rempah dan gula dengan menggunakan merek Ummiku kopi laos instan total 200 pieces per bulan dengan beberapa varian. Kopi dipasarkan di antaranya dengan menggunakan marketplace dan media sosial.

Kopi Laos instan untuk semua umur  dijual dengan harga jual Rp27.500 per pieces dengan isi 100 gram harga reseller  Sementara untuk Kopi Laos Lanang isi 130 gram harga reseller Rp110  ribu ini tanpa gula tambah bahan  tanaman Purwaceng  untuk stamina.  Produknya tahan selama 15 bulan.

Selain itu dia juga memproduksi Awet Ayu Khusus Wanita dengan bahan tanaman obat (toga), seperti  rimpang, temu kunci, kencur.

“Saya terus melakukan berbagai inovasi, seperti memproduksi secang instan, temulawak instan, ada sabun bidara, sabun temulawak, membuat kue rasa kopi dan kelor,” ujar Suniariati ketika dihubungi Peluang, Minggu (18/4/21).

Sunariati juga mengaku berburu bibit-bibit tanaman yang mulai langka di pasaran yang manfaatnya banyak sekali.

Mantan guru sebuah sekolah swasta di Surabaya selama 21 tahun ini menggelar pelatihan kursus untuk ibu rumah tangga dan generasi muda terkait tanaman obat. Dia juga menggelar pelatihan bisnis  dengan peserta maksimal lima orang.

Suniariati juga terlibat  yang terlibat mendirikan rumah Tahfiz Al Qur’an. Santrinya tidak dipungut biaya dan pendirian P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya) dengan nama Milenial Ummiku untuk salah satu sumber pendanaan rumah Tahfiz. 

Materi yang diberikan dalam pelatihannya adalah pembuatan mie herbal, pembuatan sabun, baik itu sabun untuk wajah maupun sabun mandi Biaya yang dikenakan untuk pelatihan Rp4,5 juta per orang untuk satu paket.

Meskipun semua usahanya terdampak pandemi Covid-19, Sunariati dan teman-temannya tetap akan meneruskan dan mengembangkan usahanya.

“Rencana usaha selanjutnya, memfokuskan produk Kopi Laos dan magang pembuatan Kopi Laos Instan, sabun mandi, pembuatan mie herbal, pembuatan minuman siap saji tanpa bahan pengawet tahan 6 bulan,” pungkasnya (Van).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *