Stempel Kolonial di Tubuh Benteng

Datang mengunjungi benteng-benteng di Nusantara ibarat safari ke ratusan abad silam. Dengan time tunnel di tangan. Jumlahnya hampir 500 buah. Yang tertua ada di Makassar, Fort Rotterdam (1545). Saksi bisu  jejak puak kolonial dan perlawanan rakyat.

            city bird eyes

Catatan sejarah berkabar tentang 459 benteng di Tanah Air. Bangunan angkuh peninggalan bangsa-bangsa kolonial Eropa itu tertebar lumayan merata Di antaranya 303 di Sumatera, dan 159 di Jawa. Namun, yang secara fisik bisa ditemukan hanya 177 benteng. Hampir 300 hilang digerus zaman. Didera panas dan hujan berabad-abad. Lapuk, keropos, rubuh perlahan dan menyisakan sebagian batang tubuh atau pondasinya sebagai bukti.

Sebagian besar benteng yang terdata dan ditemukan dalam keadaan setengah utuh atau tinggal puing reruntuhan. “Hanya lima persen yang utuh. Sisanya setengah utuh atau tinggal reruntuhan,” kata Bambang Eryudhawan, manajer Proyek Inventarisasi Benteng. Proyek ini digarap sebagai kerja sama Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) Indonesia dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sejak 2007. PAC Architecs and Consultants bertindak sebagai pelaksana. Pendanaan didukung pemerintah Belanda.

Inventarisasi lapangan ke lokasi benteng yang bertebaran itu berlangsung dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, 2007-2008, terinventarisasi 107 unit: di Maluku (54), di Maluku Utara (46), di Papua dan Papua Barat (4). Pada tahap kedua, 2008-2009, terinventarisasi 177 benteng di wilayah Jawa dan Sumatera. Pada tahap ketiga terinventarisasi: di Kalimantan (9), Sulawesi (134), Bali-NTB-NTT (12).

Di antara  lima persen sisa kedigdayaan masa lampau yang masih utuh adalah Benteng Willem I di Ambarawa, Benteng Willem II di Ungaran, Benteng Vredeburg di Yogyakarta, Benteng Pendem di Cilacap, dan Benteng Van der Wijk di Gombong. Selain itu, bisa pula disebut Benteng Kuta Batee, Benteng Iskandar Muda, dan Benteng Indraprasta di Nangroe Aceh Darussalam.

Tidak sedikit pula benteng-benteng yang terbengkalai atau hanya menjadi bagian dari permukiman tanpa status kepemilikan yang jelas. “Hampir semua benteng yang ditemukan kepemilikannya memang tidak jelas. Jadi, kita tidak tahu juga siapa yang bertanggung jawab mengelola dan merawat peninggalan sejarah ini,” kata Bambang Eryudhawan.

Benteng tertua yang didirikan di wilayah yang kemudian bernama Indonesia itu adalah Fort Rotterdam di Makassar. Untuk menjawab pertanyaan “mengapa di sana, bukannya di Jawa”, diperlukan kajian historiografi yang mendalam untuk menafsirkan secara teknis-ilmiah dari rekonstruksi kondisi sosial kemasyarakatan dan skema demografi Nusantara pada abad ke-16.

Ihwal arti penting an strategisnya pilihan perdana mendirikan benteng di sana dikuatkan oleh fakta berikut. Dan itu bukan kebetulan. Di Provinsi Sulawesi Selatan tercatat pernah berdiri 13 benteng lain menyertai Fort Rotterdam; yaitu Benteng Ana’Gowa, Benteng Balanipa, Benteng Baro’Boso, Benteng Barombong, Benteng Galesong, Benteng Garassi, Benteng Kale Gowa, Benteng Mariso, Benteng Pankkukang, Benteng Sanrobone, Benteng Somba Opu, Benteng Tallo, Benteng Ujung Tanah.●(dd)

Bagikan ke:

2 thoughts on “Stempel Kolonial di Tubuh Benteng

  1. Thank you for your article.Much thanks again. Keep writing.

  2. I loved your article post.Thanks Again. Fantastic.

Comments are closed.