Senjakala Bemo Jakarta

Nostalgia tentang bemo mungkin terpateri pada bak belakangnya. Enam penumpang duduk berhadapan di ruang sempit dalam posisi beradu lutut. Dari bunyi cempreng knalpotnya mengepul asap sarat polusi.

 

SETENGAH abad sudah usianya. Kendaraan roda tiga dengan bentuk imut, yang dikenal dengan nama bemo (becak motor), merayap di ruas-ruas tertentu di Jakarta. Makin ke sini posisi kendaraan yang memuat 7 penumpang itu makin terpinggirkan. Tersalib dan tergencet oleh moda transportasi kota Jakarta yang terus berkembang. Ya oleh angkotan kota, bus, taksi, busway, kancil, helicak, bajaj, ya juga oleh sepeda motor yang di tiap rumah wargaterparkir 2-3 buah bahkan lebih.

Bemo Roda 3

Kendaraan yang hampir menjadi benda purbakala itu kini memang masih bisa dijumpai di segelintir lokasi. Trayek operasi bemo makintercekik, kayak ikan tergiring jaring. Kayak sukuAborigin di Australia atau Indian di AmerikaSerikat.Bemo saat ini hanya beroperasi di trayek tertentu: di Karet, Tanah Abang, Stasiun Jakarta Kota, Bendungan Hilir, dan Grogol. Sosok fisiknya menyuguhkan pemandangan nelangsa. Peyot, berkarat, cat kusam, tambalan dempul di sana-sini. Kalau berjalan, suaranya yang cempreng sembari memuntahkankepulan asap menyebar polusi.

Bemo menjadi sarana angkutan favorit di negeri kita era tahun 60-an, 70-an, sampai awal 80-an. Saking lekatnya ingatan orang pada bemo, sampai-sampai bentuknya sering diasosiasikan pada bentuk muka seseorang. Anda tentu masih ingat dengan salah satu komedian terkenal Alm. Wahyu Sardono alias Dono Warkop DKI, kan? Karikaturis ini dikenal luas sebagai dengan sebutankocak: Dono Bemo.

Belakangan muncul wacana bemo sebagai pengganti becak. Keran impor bemo dibuka dari pabrikan pembuatnya, Daihatsu, di Jepang. Namun, umur bemo dibatasi hanya seperempat abad. Kendaraan roda tiga yang berbentuk unik dan lucu ini dengan mudah diterima masyarakat. Walaupun berada di dalam bemo terasa sempit. Di negeri asalnya, Jepang, bemo memang dirancang sebagai angkutan barang. Maka, begitu dipasangkan tempat duduk, ruangan yang tersedia tak memadai. Enam penumpang di belakang yang duduk salingberhadapan itumau tau mau beradu lutut.

Rencana melikuidasiangkutanrodatigaitutidak pernahbenar-benarberhasil karena substitusi bemo tidak pernahterumuskandenganperencanaan yang matang. Bemo sebetulnya tidak hanya hadir di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain seperti di Bogor, Bandung, Surabaya, Malang, Padang, Denpasar, karena kendaraan ini sangat praktis, lincah, dan mampu menjangkau jalan-jalan yang sempit, di samping dapat melaju jauh lebih cepat daripada becak.

Kendaraan umum keluaran 1960-an itupertama kali diresmikan beroperasi sekitar tahun 1971-1972 oleh Pemda DKI.Dengansegalakemampuannyameyesuaikandiri di habitat yang makintakramah, bemoboleh jadimerupakan sebuahciripengenal Jakarta. Di Ibukota, bemo pernah berjaya di masanya sebagai kendaraan umum populer dan banyak digunakan berbagai kalangan. Namun seiring dengan perputaran waktu, keberadaannya makin tergencer ke pinggir, tersekat, bahkan tersingkirkan.

Semulabemo beroperasi seperti taksi, belakangan dibatasi daerah operasinya di rute-rute tertentu saja, dan akhirnya dipinggirkan ke rute-rute kurus yang tak disentuh oleh bus kota. Jalur bemo dari Bendungan Hilir, umpamanya, awalnya mencapai pasar Tanah Abang. Namun, ketika jalur pasar Tanah Abang semakin macet, jalur Bendungan Hilir-Tanah Abang pun dibagi dua. Pertama, jalur Bendungan Hilir hingga sekitar Perusahaan Air Minum (PAM) DKI. Jalur kedua, dari sekitar daerah Karet-Sudirman hingga pasar Tanah Abang.

Bagaimanapun pengebirian dan pembonsaian yang dialami kendaraan imut yang nyaris identik dengan Jakarta itu, bemo menjadi salah satu kendaraan yang akrab bagi siswa sekolah-sekolah di sekitar Bendungan Hilir, Pejompongan, dan Karet. Bemo pun punya tempat tersendiri di hati ibu-ibu yang untuk pulang-pergi berbelanja ke pasar, atau para karyawan yang tak memiliki motor/mobil.

Di perempatan Grogol, Jakarta Barat, jika kita berjalan sedikit ke arah Jalan Prof. Dr. Latumeten, di situ menjadi pangkalan bemo-bemo yang akan membawa penumpang ke beberapa tujuan. Bemo merah untuk jurusan Grogol-Duta Mas, bemo kuning untuk jurusan Grogol- Fajar, dan bemo biru untuk jurusan Grogol- Pedana. Ada manajemen yang rapi di bawah kepemimpinan Mumu. Ibu dua anak ini menjadi ketua semacam perkumpulan pengemudi bemo di kawasan Grogol. Mumu sudah mengurus para sopir bemo selama 26 tahun.

Wanita ini mengaku sudah bosan dengan kedatangan wartawan. Dia menyebut beberapa wartawan surat kabar terkenal, radio bahkan televisi pernah mewawancarai dirinya perihal keberadaan bemo. “Tapi kenyataannya apa? Bemo tetap saja digaruk (dirazia),” katanya mengeluh. Dia mencatat, sejak 2008, di kawasan itu takkurangdari61bemo yang dibawa oleh Dinas Perhubungan untuk dimusnahkan.

Mumu ingat benar, pertama kali sejumlah bemo diangkut pada Agustus 2008 dan terakhir Januari 2010. Selama ini, kata dia, Dinas Perhubungan enggan duduk satu meja untuk menyelesaikan persoalan yang sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. “Kami bukannya tidak mau mengikuti peraturan. Kalau memang mau musnahkan, tolong beri solusi. Jangan main garuk aja,” ujar Mumu bersungguh-sungguh.

Di Jakarta, penggunaan bemo sebagai angkutan perkotaan mulai disingkirkan pada 1971, disusul oleh Surabaya dan Malang pada tahun yang sama. Pada 1979, Pemerintah Daerah Surakarta mengambil langkah yang sama. Di Bogor, kendaraan roda tiga ini oleh Pemda setempat sudah “dipensiunkan” sejak bulan Februari 2008.Beringsutkepinggir, sebagaimanahalnyadialamipuakBetawi di Jakarta, menjadipilihantakterelakkan.

Razia bemo dilakukan Dinas Perhubungan karena pengoperasian angkutan lingkungan roda tiga itu dinilai ilegal, melanggar Instruksi Gubernur (Ingub) No. 33/1996 tentang Peningkatan Pelayanan dari Angkutan Bemo menjadi Bus Kecil. Bemo dihapuskan karena dianggap sudah terlalu tua, tidak aman dan asapnya menyebabkan polusi. Bemo digantikan oleh mobil penumpang tanpa hidung berkapasitas mesin 1.300 cc. Sejak keluarnya instruksi itu, jumlah bemo yang beredar di Ibukota kian ciut. Dari angka 1.800 turun drastis menjadi 800 buah.

Penertiban bemo telah berlangsung sejak 1996. Pada saat itu telah didata sebanyak 1.096 izin bemo dibekukan untuk dilakukan peremajaan dengan angkutan pengganti bemo (APB). Namun angkutan itu kembali marak terutama di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh angkutan umum lainnya. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, mengatakan, bemo yang beroperasi saat ini ilegal, karena izinnya sudah dibekukan 15 tahun lalu. Namun sayangnya, penertiban yang dilakukan oleh Dishub selalu terkendala karena para sopir bemo itu dibekingi oleh preman. “Kita terus berupaya agar bemo bisa secepatnya dihapuskan,” kata Udar.

Wajar jika sebagian orang menganggap bemo akan benar-benar punah dan digantikan angkutan umum yang baru seperti. Namun, umur kendaraan roda tiga yang awalnya didatangkan dari Jepang dan pabriknya pun sudah ditutup sejak tahun 1972 ini ternyata panjang. Kreativitas penciptaan komponen tiruan ternyata ‘menyelamatkan’ bemo dari kepunahan. Jumlah bemo yang beredar di Jakarta terus melonjak hingga 1.144 armada. Rinciannya,di Jakarta Pusat 276 armada. Jakarta Utara (398), Jakarta Timur (258), Jakarta Barat (42), dan Jakarta Selatan (179).

Gejala sedikit peningkatan jumlah bemo di tahun-tahun terakhir boleh jadi ibarat sehat sesaat menjelang ajal final datang menjemput. Sudah terlalu lama masalah ini terkatung-katung. Padahal, dalam tarik ulur berkepanjanganyang serba tanpa titik terang itu, yang jadi pertaruhan adalah keberlangsungan hidup sejumlah pengendara beserta istri dan anak -anaknya. Untuk itu, diperlukan penanggulangan masalah yang jitu dan sekaligus manusiawi.

Bagi warga Jakarta yang sempat familier menggunakan jasa bemo sebagai alat transportasi harian di masa lalu, musnahnya kendaraan imut ini niscaya menyedihkan. Diam-diam kita merasa tak ikhlas. Tapi, entah lebih menyedihkan yang mana dibandingkan dengan menyaksikan geliat kehidupan dunia kerdil bemo yang megap-megap. Bagai kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau.Wallahu a’lam bishshawab.

Bagikan ke: