Sebab Musabab Kurs US$ Meroket  

Sejak reformasi didengungkan, 17 tahun silam, baru kali ini kurs rupiah kembali mendekati catatan rekor buruknya pada 1998. Penghasilan rerata keluarga terasa tak memadai diukur dari membubungnya harga hampir seluruh kebutuhan sehari-hari. Yang paling terpukul oleh situasi ini adalah kalangan ekonomi menengah, menengah-bawah dan bawah.

Kurs dolar yang kian meroket terhadap rupiah menyebabkan harga-harga kebutuhan membubung. Akibat peningkatan harga, orang-orang akan beralih ke kebutuhan pokok lainnya yang dirasa harganya masih terjangkau untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Rupiah sudah menyentuh angka Rp 14.104 per satu US$ (3/9). Kira-kira apa saja penyebab dolar yang terus menguat terhadap rupiah? Penulis Pradiksa Suryachandra mencatat 10 hal.

Secara garis besar penyebab melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS bisa dibagi menjadi dua, yaitu faktor eksternal dan internal perekonomian. Faktor eksternal yang paling umum diketahui adalah perkenomian AS yang setahun belakangan semakin baik. Pertumbuhan ekonomi AS terakhir mencapai 2.5%, sementara inflasi mencapai 1,6%, bahkan, pada Januari 2015 terjadi deflasi, yakni -0.1%. Inflasi di AS dikatakan baik jika tidak lebih dari 2%.

dollar meroket

Walaupun sebelumnya AS melakukan kebijakan quantitative easing (mencetak uang untuk dibelikan surat berharga pemerintah AS sendiri), inflasi AS tidak meningkat karena dolar AS beredar ke seluruh dunia. Akibatnya, efek inflasi tidak bergitu besar, bahkan hampir tidak ada. Tingkat pegangguran di AS juga menurun tajam hingga sekarang berada di level 5,7%, meski belum menyentuh angka normal: 4%.

Berikut data beberapa mata uang negara lain yang juga ikut terpengaruh karena menguatnya US$: Euro. Dolar US mencapai titik tertingginya dalam 10 tahun terakhir. Pertengahan 2005, per satu euro dihargai sekitar 1,25 dolar. Setelah itu euro terus berjaya dan mencapai puncaknya pada Juli 2008. Sempat satu euro dihargai dengan 1,58 dolar. Namun, sejak April 2011 dolar terus meningkat dan sebaliknya euro justru melemah. Juli ini satu euro bisa dibeli hanya dengan 1,09 dolar US.

Yen. Tidak berdaya melawan dolar AS. Kekuatan dolar berada pada angka 123,88 yen. Setelahnya dolar terus melemah hingga titik terendah pada Oktober 2011, ketika dolar AS berharga 76 yen. Tetapi ketika itu terjadi, dolar justru terus meningkat hingga 125 yen sampai saat ini.

SGD. Saat ini untuk membeli satu dolar AS diperlukan 1,38 dolar Singapura, melampaui rekor yang dicatat pada April 2011 sebesar 1,31 dolar. Kurang lebih setahu kemudian grafik dolar AS bergerak ke kanan atas. AUD. Di hadapan dolar Australia, saat ini harga dolar AS dihargai paling mahal sejak Juli 2009. Sekarang, untuk harga satu dolar AS, dolar Aussie mencatatkan nilai 1,36 dolar. CAD. Walaupun satu dolar AS pernah di angka 0,94 dolar Kanada, sekarang warga Kanada harus merogoh kocek 1,3 dolar Kanada untuk menubus 1 dolar AS.

  1. 1. Membaiknya Ekonomi Amerika Serikat. Pemulihan ekonomi Amerika pasca-krisis 2008 membuat The Fed/Bank Sentral Amerika merencanakan tapering off atau pemangkasan quantitative easing, disebut juga stimulus ekonomi. Rencana Gubernur The Fed, Ben Bernanke, sejak Mei 2013 itu menjadi awal penguatan dolar terhadap keuangan global. Sebaliknya, mata uang Indonesia mempunyai karakteristik khusus soft currency, atau sensitif terhadap kondisi ekonomi inte Krisis finansial, spekulasi di pasar finansial dan ketidakstabilan ekonomi bisa mengakibatkan jatuhnya nlai soft currency.
  2. Terus tertekan oleh signal buruk The Fed. Nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai berfluktuasi tajam ketika The Fed berencana mengurangi pembelian obligasi pada Mei 2013. Merujuk pada hal tersebut, timbul kekhawatiran pemulihan ekonomi di Amerika Serikat akan memiliki dampak kembalinya modal dan mempengaruhi pasar keuangan dunia.
  3. Mata uang loyo melanda seluruh dunia. Pemulihan ekonomi Amerika yang diikuti dengan pemotongan stimulus oleh The Fed berdampak pada penguatan dolar terhadap mata uang global. Dibandingkan dengan mata uang yang lain, rupiah tidak terlalu anjlok, namun, tidak juga menggembirakan. Posisinya yang di tengah-tengah di antara mata uang negara lain juga tidak terlalu menguntungkan.

Ringgit Malaysia memimpin pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS, hingga turun -16,79 %, kembali ke titik terendahnya sejak krisis keuangan Asia 1998. Begitu pula dengan yuan, yang mencapai level terendah yakni 6.451 yuan per US$, terendah sejak Agustus 2011. Di dataran Asia, Won Korea Selatan melemah 7,9%; Baht Thailand melemah 7, dan Yen Jepang melemah 4,8%.

  1. Booming harga komoditas telah berlalu. Pelemahan mata uang di dunia terhadap Amerika membuat permintaan barang komoditas turun. Akibatnya, harga komoditas andalan ekspor Indonesia anjlok. Ini berdampak pada neraca perdagangan yang memperburuk pelemahan rupiah. Ekspor Indonesia tercatat US$12,56 miliar pada Mei 2015, turun 15,24% dibanding perolehan Mei 2014 atau minus 4,11% dari bulan sebelumnya.

Penurunan ekspor terjadi pada hampir semua komoditas unggulan dan ke hampir seluruh negara mitra dagang. Delapan ekspor komoditas yang tercatat paling anjlok adalah: batu bara; minyak nabati; tekstil dan produk tekstil; alat listrik, ukur, fotografi; barang logam tidak mulia; karet olahan; kayu olahan.

  1. Kinerja ekspor kian merosot. Pelemahan rupiah ikut didorong oleh menurunnya kinerja ekspor Indonesia. Ketika rupiah melemah, seharusnya ekspor mengalami kenaikan. Namun, karena produk Indonesia didominasi komoditas yang harga dan permintaannya sedang anjlok, kontribusi terhadap neraca perdagangan tidak signifikan.
  2. Impor barang cukup tinggi. Sejak enam tahun terakhir impor barang modal dan konsumsi melonjak sehingga menekan neraca perdagangan Indonesia. Hal ini ikut mendorong pelemahan rupiah terhadap dolar yang terjadi sejak 2013. Meski terjadi penurunan impor pada satu tahun terakhir, hal ini tidak cukup signifikan untuk menahan laju pelemahan rupiah.

Lonjakan impor berupa barang konsumsi mengalami peningkatan besar di kuartal pertama tahun ini mencapai 48,2%. Impor barang konsumsi yang dilakukan untuk buah-buahan itu adalah buah yang tidak ditanam di Indonesia. Namun, kenaikannya masih lebih rendah dibanding 2010 lalu yang mencapai 63,3%. Angka impor dari barang konsumsi berasal dari bahan bakar yang tidak diproduksi di Indonesia yang mencapai 60%, barang-barang automotif dan buah-buahan dari Cina.

  1. Tiga tahun neraca perdagangan anjlok. Neraca perdagangan Indonesia terus merosot dalam tiga tahun terakhir. Penurunan ini terlihat dari data Bank Indonesia yang mencatat aktivitas ekspor impor secara free on board dan Kementerian Perdagangan yang melaporkan aktivitas perdagangan secara keseluruhan. Penurunan neraca ini terjadi seiring melemahnya pasar komoditas dunia akibat menurunnya permintaan global.
  2. Bom waktu peninggalan rezim lama. Pelemahan nilai tukar rupiah mulai terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini. Selain dipicu oleh faktor eksternal, pelemahan ini juga disebabkan oleh defisit transaksi berjalan mulai terjadi sejak 2012. Kendati sudah berusaha, pemerintahan sebelumnya belum bisa membalik defisit neraca transaksi berjalan menjadi surplus.
  3. Sejajar Turki dan Brazil, rawan karena defisit. Mata uang negara-negara ini tergolong negara yang rawan karena mengalami defisit transaksi berjalan yang cukup besar. Mata uang negara-negara yang memiliki transaksi berjalan surplus justru lebih aman atau risiko lebih kecil.

10. BI hati-hati, walau Malaysia dan Rusia kuras devisa. Penguatan dolar Amerika Serikat membuat negara-negara melakukan intervensi valas terhadap pasar domestik. Bank Sentral Rusia benar-benar menguras cadangan devisa dengan membeli dolar untuk menyelamatkan rubel sehingga pelemahannya tertahan di 44.9% dalam enam bulan. Di saat yang sama, Bank Indonesia justru menahan diri sehingga cadangan devisa tidak terganggu bahkan mengalami peningkatan.

Bagikan ke: