Satonda, Danau Purba Air Asin

Danau eksotis ini terbentuk ribuan tahun silam. Lahir dari letusan gunung api di kedalaman seribu meter di dasar laut. Bisa ditempuh 3-4 jam perjalanan darat dari Kota Dompu, NTB. Sayangnya, kalangan wisman lebih mengenal destinasi ini ketimbang wislok.

rumah panggung satonda

Danau Satonda di Pulau Satonda, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat/NTB, ini unik. Pulau ini unik karena berupa daratan vulkanis yang terbentuk pascaletusan gunung api di dasar laut sedalam 1.000 meter, ribuan tahun lalu. Itu sebabnya lingkungan di sekelilingnya menyerupai lautan purba ditandai dengan adanya stromatolit. Stromalit adalah bakteri yang hidup dalam lingkungan ekstrem yang muncul pada zaman Kambrium.

Istimewanya, anau Satonda merupakan satu-satunya habitat di bumi ini yang sempurna bagi perkembangan stromatolit pada masa kini. Danau yang terbentuk di kawah Satonda pada awalnya merupakan danau air tawar. Letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin, hingga hari ini.

Gunung api Satonda konon jauh lebih tua dari Gunung Tambora, atau tumbuh bersamaan dengan beberapa gunung api parasit yang tersebar di sekeliling Tambora. Danau yang terbentuk di kawah Satonda dulunya terisi air tawar. Letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin hingga hari ini.

Dua ilmuwan Eropa, Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak melakukan penelitian cermat di sana pada tahun 1984, 1989 dan 1996. Hasil penelitian mereka menyimpulkan, Satonda adalah fenomena langka karena airnya yang asin dengan tingkat kebasaan (alkalinitas) sangat tinggi dibandingkan air laut pada umumnya. Kedua sarjana itu berpendapat, basin Satonda muncul bersamaan dengan terbentuknya kawah tua yang berumur lebih dari 10.000 tahun. Bermacam-macam penelitian lain dapat dilakukan. Misalnya, kandungan sedimen, mikrobiologi, biokarbonat, bahkan penelitian berbasis kimiawi

Pulau yang berada dalam wilayah Desa Nangamiro, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat itu luar biasa memesona bila dipandang dari puncak Gunung Tambora, sekitar 30 km dari sana. Bahkan kerap disebut, mendaki Gunung Tambora tanpa menyambangi Pulau Satonda bagai sayur tanpa garam. Agak disayangkan, Pulau Satonda justru lebih populer di kalangan wisatawan mancanegara. Pulau ini biasanya mereka jadikan tempat singgah kala berkunjung ke Taman Nasional Komodo.

Potensi alam lautnya kaya dengan terumbu karang. Di karang-karang tersebut hidup pula beragam jenis ikan hias dan makhluk laut lainnya. Bahkan penyu sisik  juga kerap terlihat mondar mandiri di sini. Sudah pada tempatnya jika Menteri Kehutanan dan Perkebunan menetapkan Pulau Satonda sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) pada tahun 1999. Tidak akan ada izin ekplorasi, meski di sana disebut-sebut terdapat kandungan mineral dalam jumlah lumayan.

Selesai menghabiskan waktu di pantai yang terbilang sepi tetapi tetap cantik menawan, ada baiknya Anda melakukan pendakian menuju danau kawah. Mulailah berpetualang dari kawasan tengah pulau. Bersusah-susah dahulu (hasilnya) bersenang kemudian. Di awal perjalanan Anda harus berjalan menanjak. Sesampai di atas puncak Gunung Satonda, semua rasa lelah Anda akan terbayar lunas oleh indahnya alam.

Dari ketinggian di puncak sana, Anda akan melihat kawah berbentuk angka delapan yang menawan. Danau cantik dan unik berwarna hijau tersebut dinamakan Danau (purba) Satonda. Airnya tenang berada di tengah kaldera yang dikepung oleh pohon-pohon yang hijau dan menularkan rasa damai tenteram. Suara kicauan burung akan menemani momen indah Anda sekaligus jadi musik alam yang sesungguhnya.

Satonda memiliki kaldera sedalam 1.000 meter berukuran 3 x 2 km. Sedangkan danau yang terbentuk di Pulau Satonda itu pun tak kalah cantik. Berada pada ketinggian 300 meter dari permukaan air laut, Anda dapat menikmati danau yang kondisinya mirip laut zaman purba dikelilingi tebing terjal. Kawah Satonda menyerupai angka delapan dengan diameter 950 meter (sebelah Selatan) dan 400 meter (sebelah timur).

Di tepi danau, Anda akan melihat pohon yang berbuah batu. Batu-batu tersebut memang sengaja digantungkan oleh wisatawan yang sempat berkunjung ke sana. Ini terkait dengan y\tahyul yang dipercaya sebagian masyarakat setempat. Batu-batu yang digantung tersebut mewakili doa dan harapan. Namanya pohon Kalibuda. Orang sering menyebutnya pohon harapan. Konon, barang siapa yang menggantungkan batu pada pohon di tepian Danau, keinginannya dapat terkabul.

Pulau Satonda terletak sekitar 3 kilometer dari daratan Pulau Sumbawa, tepatnya dari Semenanjung Sanggar. Berada dalam kawasan laut flores serta berada dalam wilayah administratif Desa Nangamiro, Kecamatan Tambora, Kabupaten Dompu, NTB. Akses untuk menuju pulau ini, bisa ditempuh dari Desa Nangamiro ataupun Desa Labuan Kananga.

Bagaimana cara  mencapai Pulau Satonda? Perlu waktu 3-4 jam perjalanan darat dari Kota Dompu, Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya untuk menuju pulau ini Anda dapat menggunakan perahu cadik bermotor dari desa terdekat, yaitu Desa Nangamiro.
Tiba di Pulau Satonda bagi yang suka dengan tantangan alam bisa langsung mendaki untuk melihat dengan jelas danau purba Satonda dari atas bukit. Lama perjalanan trekking ini kurang lebih 1,5 jam.

balapan kuda

Jika bertolak dari Pelabuhan Nangamiro, perjalanan kepulau Satonda dapat ditempuh 30 menit sampai satu jam menggunakan perahu. Sepanjang pejalanan aut, jika beruntung, Anda akan menyaksikan aksi lumba-lumba yang melintasi perairan Laut Flores. Alternatif lain adalah dengan cara naik kapal pesiar dari Pulau Bali atau Lombok, mengambil jurusan Flores. Kapal pesiar memang kerap mampir di Pulau Satonda sebelum melanjutkan perjalanan (biasanya) menuju Taman Nasional Komodo.

Dari Sumbawa Besar, Anda dapat menempuh perjalanan menuju Desa Nangamiro selama 8 jam berkendara. Keindahan Pulau Satonda dengan stromalit dan segenap keunikan alamnya yang memukau itu sungguh anugerah. Pemberian Sang Pencipta yang patut dijaga dan dilestarikan bersama. Moga saja pesona alam Pulau/Danau Satonda terpelihara dengan baik. Sehingga, hendaknya, dapat pula dinikmati oleh bergenerasi anak cucu cicit di masa depan. Wallahu a’lam bishshawaab. (Dody M.)

Bagikan ke: