Sanggar Wibowo Dari Restoran ke Koperasi

Dengan perubahan mindset dan modernisasi ke dalam koperasi, dia yakin kita bisa bersaing di kancah bisnis Indonesia. Ini sebuah tantang-an besar, dan dia menyiapkan diri untuk itu.

Daya tarik kuliner membuat Sanggar Wibowo mantap melanjutkan pendidikannya ke Southwest Regional College of TAFE (Technical And Further Education), Jurusan Commercial Cookery. Dua tahun dia bekerja sesuai dengan basis pendidikannya. Dia chef dan bergelut di dapur komersial, mulai dari restoran keluarga hingga makanan cepat saji seperti “Burger King”. Tak sampai dua tahun, Sanggar memutuskan pulang kampung.

sanggar wibowo

Pada 2009, ia mengikuti panggilan hati yang lebih konstruktif. Sebetulnya, Sanggar tidak pernah jauh dari koperasi. Anak pertama dari 4 bersaudara ini toh besar di lingkungan koperasi. Keluarganya termasuk pendiri KUTT Suka Makmur di era 1968 1970 an. Sanggar mulai terlibat sebagai penerjemah untuk peternak Australia, yang saat itu memberikan bimbingan sukarela bagi para peternak KUTT Suka Makmur.

Posisi Executive Assistant dijabatnya selama setahun. Di sini dia belajar banyak mengenai pengelolaan koperasi baik secara teknis, manajerial maupun strategis. Pemikiran baru, energi segar
dan kerja keras membuatnya dipercaya menjadi General Manager KUTT Suka Makmur. Posisi yang dijabatnya sejak pertengahan tahun 2011. Dia bertanggung jawab merencanakan strategi kebijakan koperasi secara menyeluruh, memonitor pelaksanaan, mengevaluasi dan menganalisa hasil implementasinya. Posisi GM menuntutnya untuk jeli melihat peluang bisnis baru, kreatif dan
memiliki inisiatif agar unit bisnisnya bisa menghasilkan produk yang bersaing di kancah bisnis nasional hingga internasional.

Mempraktikkan kepengurusan dan pengawasan oleh anggota untuk anggota, Sanggar dituntut lentur dalam melakukan pendekatan pribadi. Sebab, “Mengelola ribuan anggota dan pengurus yang
usianya di atas saya mendorong saya mengembangkan people and managerial skill yang baik. Saya pun selalu membuka diri untuk belajar dari orang-orang sekitar saya yang ahli di bidangnya,” ujarnya.

Untuk dunia perkoperasian di Tanah Air secara umum, Sanggar Wibowo mempunyai mimpi besar. “Indonesia mampu menghentikan impor bahan pangan. Bangsa ini begitu kaya sumber daya
alam, dan koperasi mampu menjadi penggerak agri bisnis dan ekonomi di Indonesia melalui unit-unit bisnisnya,” ujarnya. Dengan perubahan mindset dan modernisasi kedalam koperasi, dia yakin kita bisa bersaing di kancah bisnis Indonesia. Ini sebuah tantangan besar, memang.

Pengalaman sebagai chef di restoran mengajarkan saya tentang time management dan skala prioritas. Fokus sangat penting karena saya kini mengurus begitu banyak hal, sedangkan kita hanya punya 24 jam sehari. Jadi, saya harus smart and efficient working dari hari ke hari”, tuturnya optimistis.

Bagikan ke: