SAKSI

saksi

Tempat  itu seolah  jadi kuburan terakhir yang memupus segala harapan hidup dan kebebasan. Setidaknya itu dirasakan oleh Mourad Benchellahi, juga  tawanan lainnya yang pernah mendekam di  penjara Guantanamo. Begitu sulit baginya untuk menghadapi kenyataan sebagai tawanan tentara amerika yang tanpa jeda menyiksanya secara brutal. Menista harga diri dan agamanya.

Pemuda berusia 20 tahun itu hanya ingat, satu hari di tahun 2001, ia berkelana ke Afghanistan untuk belajar bahasa Arab. Ia tidak pernah tahu bahwa tempatnya menimba ilmu itu adalah sebuah camp Al-Qaeda. Ia diculik  lantaran berada di tempat salah pada waktu yang juga salah.

Tetapi siapa mau mendengar kesaksian Mourad, atas perlakuan tak manusiawi yang dialaminya di Guantanamo. Belakangan, publik hanya tahu, penderitaan Mourad setelah membaca kisahnya yang ditulis dalam sebuah buku, Journey to Hell.  Tidak ada pengadilan dan tidak ada tuntutan, memang. Sebab Guantanamo sesungguhnya tak lebih dari sebuah arena, pelampiasan dendam dan sakit hati Amerika atas ribuan korban yang terkubur di World Trade Centre, New York.

Sehari setelah gedung kembar itu runtuh, dunia memang menjadi lain. Amerika yang terluka melampiaskan bencinya secara membabi buta, dan sontak semakin phobi terhadap Islam. Salah kaprah itu menimpa seorang warga Inggris, Moazzem Beg yang  diculik pada 31 Januari 2002  di sebuah tempat di Islamabad, Pakistan.

Kisah tragis Moazzam terbit dalam sebuah buku, Enemy Combatant: A British Muslim’s Journey to Guantanamo and Back. Publik pun tahu betapa banyak korban salah ciduk hanya lantaran mereka berwajah Arab atau berada dan bekerja di Afghanistan.

Masalahnya, bisakah kita menghakimi seseorang lantaran dari bentuk fisiknya semata. Di Barat, setelah 11 September 2001, jawabannya boleh. Di berbagai bandar udara, bahkan hingga kini, kita bakal menemui kesulitan lantaran nama atau pakaian kita identik dengan simbol Islam. Di Guantanamo, bukan soal nama yang membuat Anda menjadi objek siksaan, tapi apakah Agama Anda? Seperti dialami James Yee, seorang mualaf Amerika yang meniti karirnya di dunia militer. Ia lulus dari West Point, akademi militer paling bergengsi di Amerika pada tahun 1990. Karir Yee yang berdarah campuran Cina itu, sangat bagus dan cemerlang dengan masa abdi 13 tahun di angkatan darat Amerika. Tetapi semua berubah ketika ia bertugas di Guantanamo. Di arena penyiksaan itu, ia tak bisa menyembunyikan suara hatinya. Yee mendapati kenyataan korp militer yang dibelanya melakukan kejahatan dan pelecehan terhadap kemanusiaan.

 

Lantaran Yee tak sanggup bersikap brutal terhadap tahanan Guantanamo, sebuah skenario dirancang yang menggiringnya sebagai pesakitan. Pada 10 September 2003  ia diciduk di Bandara Jacksonville, Florida. Berbagai tuduhan dilontarkan untuk menjeratnya. Pengkhianatan, persekongkolan dengan teroris, antek Taliban hingga isu perselingkuhan ditebar. Ia memang  dibebaskan tanpa bukti bersalah, namun Yee patah arang dan memilih jadi saksi terhadap neraka yang terjadi di Guantanamo.

Bagi Moazzem, persaksian Guantanamo itu signifikan. Ia ingin mengajukan kembali akal sehat yang sering kali ditenggelamkan oleh kebencian dan prasangka. Atau Mourad yang tak pernah bisa memahami mengapa di Guantanamo orang bisa seenaknya menginjak-injak Al Quran lantaran kebencian tak beralasan.

Ketika Barack Obama memenangkan kursi presiden Amerika ke 44  pada 2009, janji pertamanya menutup  tempat paling ‘gelap’ di dunia itu tak kunjung terbukti. Bahkan saat, kursi kepresidenannya digantikan Donald Trump,  Guantanamo masih tegak angkuh. (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: