SABUK

MENCIPTAKAN Belt and Road Initiative (BRI), Sabuk dan Jalan Cina, merupakan agenda besar Tiongkok. Proyek ini memungkinkan Cina mengucurkan dana hingga US$8 triliun ke seluruh Eropa, Asia dan Afrika, sejak 2010. Baik yang bersifat bilateral, multilateral maupun fasilitas kredit. Mereka mampu meminjamkan dana lebih besar dengan tenggat yang lebih pendek tinimbang yang diberikan Bank Dunia. Dan kolonialisasi ekonomi 5.0 ini, menurut Center for Global Development, menimbulkan kekhawatiran negara-negara kreditor.

Studi itu mengevaluasi tingkat utang dari 68 negara, termasuk Indonesia, kepada Cina dan bank-bank Cina. Ditemukan tak kurang dari 23 negara yang berisiko mengalami kesulitan utang saat ini. Delapan negara di antaranya dalam kondisi mengkhawatirkan dan bisa terancam bangkrut. Mereka bisa berakhir dalam jebakan utang RRC, sebagaimana dikutip The Print.

Pakistan memproyeksikan tambahan utang sekitar US$62 miliar, dimana porsi Cina 80%; Djibouti—Dalam dua tahun, ULN publik, yang dijamin pemerintah, meningkat dari 50% menjadi 85% dari PDB; Di Maladewa, Cina invest di tiga proyek paling menonjol: US$830 juta untuk peningkatan bandara internasional, US$400 juta untuk pengembangan pusat populasi baru dan jembatan, dan relokasi bandara pelabuhan utama (tanpa perkiraan biaya).

Di Laos—Kereta api Cina-Laos senilai US$6,7 miliar, atau hampir 50% PDB negara miskin itu; Mongolia—US$1 miliar untuk investasi infrastruktur PLTA dan jalan raya. Montenegro—US$1 miliar untuk proyek infrastruktur jaringan transportasi Montenegro dengan negara-negara Baltik; Tajikistan—untuk membiayai investasi infrastruktur di sektor kelistrikan dan transportasi, berutang ke Cina hampir 80% dari total peningkatan ULN Tajikistan selama 2007-2016; Kyrgyzstan—sebagian besar pembangunan infrastrukturnya dibiayai ULN sebesar US$1,5 miliar/40% dari total ULN negara.

Di Indonesia, posisi Cina melejit jadi investor terbesar keempat. Investor asing nomor wahid masih Singapura. Jangan salah, Singapura berinvestasi secara murni, business as usual. Bertolak belakang dengan niat bisnis Tiongkok yang berwatak extended quasi terithory, meluaskan wilayah untuk memanfaatkan wilayah tersebut, bukan menaklukkan secara konvensional. Jadi, produknya Cina, uangnya Cina, SDM pun Cina. Indonesia dapat apa dari Turnkey Project begini? Kita terkesan membangun infrastruktur, tapi sejatinya zonk. “Ini harus direview,” ujar Mardigu Wowiek.

Sebuah langkah bernyali yang ditunjukkan Presiden Tanzania, John Magufuli, April tahun lalu, terkait perjanjian utang dengan Cina, patut diacungi jempol. Magufuli membatalkan pinjaman dari Cina senilai US$10 miliar/Rp145 triliun (kurs Rp14.500) yang di-acc pendahulunya, Jakaya Kikwete. Dana utang yang direncanakan untuk membangun pelabuhan di Sungai Mbegani di Bagamoyo itu dibatalkan lantaran syarat dan ketentuannya yang melecehkan akal sehat. “Persyaratan perjanjian pinjaman Cina hanya dapat diterima oleh seorang pria mabuk,” kata Presiden John Magufuli.●

Salam,

Irsyad Muchtar

Bagikan ke: