Rumah Tenun Magelang Menembus Pasar Ekspor

Serat alam dan produk kerajinan tenun dari Rumah Tenun Magelang. Foto : Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Sekitar 90 persen produk unggulan Rumah Tenun Magelang diekspor ke mancanegara.

Rumah Tenun Magelang, yang berada di Tonoboyo Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah hadir membawa konsep eduwisata dari bahan serat alam yang diolah dan dibuat menjadi kerajinan interior bernilai tinggi.

“Kami melakukan edukasi kepada masyarakat tentang serat alam dapat diolah jadi kerajinan tenun,” kata Rif Fatka Ridwan dari Rumah Tenun Magelang, dalam diskusi Cerita Kriya bertajuk Membangun Ekosistem Hulu-Hilir untuk Memastikan Bisnis UMKM Berkelanjutan, di Gedung Art Bali, Bali Collection, The Nusa Dua dalam keterangan resminya, Rabu (14/9/2022).

Ia menjelaskan, Rumah Tenun Magelang bukan sekadar rumah tenun biasa. Di dalamnya, ada cerita kain tenun yang dinarasikan, dimulai dari petani yang menanam, memanen, produksi, hingga jadi sebagai tenun.

Mitra Rumah Tenun Magelang adalah petani tanaman serat, maka komunikasi dengan mereka terus dilakukan secara intensif.

“Tujuannya agar hasil sesuai harapan. Karena dengan perawatan yang tidak maksimal, hasil yang didapat juga tidak akan sesuai,” ujar Rif Fatka.

Menariknya lagi, kata dia, mitra penyeratan suwi dan sambung serat adalah para ibu-ibu dengan jumlah ratusan orang.

Rif Fatkan menunjukkan produk tirai uyang yang diproduksi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dengan bahan serat alam, sebagai produk unggulan Magelang.Produk ini sudah dijual ke mancanegara, seperti Amerika Serikat (AS) melalui butik.

“Sekitar 90 persen produk unggulan kami diekspor keluar negeri, terutama Amerika Serikat,” ujarnya.

Selain tirai uyang, ada juga produk wallcovering dan karpet, serta hasil produk lainnya. “Bahan bakunya adalah serat alam, yang banyak ditemui di sekitar kita. Seperti rami, abaca, kudzu, eceng gondok, dan lainnya,” urainya.

Di masa pandemi Covid-19, Rumah Tenun Magelang tetap bisa survive. Bahkan, akan meluaskan sayap hingga menembus pasar Eropa.

“Secara rutin, kami diskusi dengan buyer untuk proses produksi, desain, dan juga kendala,” jelas Rif Fatka.

Menurut Rif Fatka, antara buyer dan pihak penjual saling mengunjungi untuk mengembangkan produk ke depan.

“Kami juga mendapatkan berbagai macam penghargaan dari Amerika Serikat,” imbuhnya.

Dikatakan dia, kesuksesan Rumah Tenun Magelang tidak diraih dengan mudah. Penuh perjuangan untuk mewujudkan hingga menjadi seperti sekarang.

Rif Fatka bercerita, Rumah Tenun Magelang didirikan pada 1988 oleh Saryanto Sarbini, Aryantie Saryanto, dan Sri Susilodewi Aryadini.

Awalnya, hanya sebagai supplier untuk perkantoran dan hotel. Produknya pun didapatkan dari perajin di Majalaya dan Pekalongan.

Setelah usaha semakin berkembang, pada tahun 1992 Rumah Tenun Magelang memutuskan untuk memproduksi sendiri.

Bahkan tidak butuh waktu lama, tahun 1993 melalui Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) memulai kerjasama dengan pembeli luar negeri. Tahun 1996, berkembang lagi menjadi suplier bagi perusahaan-perusahaan.

“Seiring dengan mendapatkan buyer dan produksi berjalan lancar. Kami memutuskan untuk membangun Rumah Tenun Magelang yang berkembang sampai saat ini,” pungkasnya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.