Risiko Tinggi Polusi Jabodetabek (625)

Kualitas udara Jakarta hanya sehat 70-80 hari dalam setahun. Di Asia Tenggara, Jakarta paling berpolusi urutan empat, disusul Bandung di urutan lima. Senin—Jumat, udara Jakarta mengkhawatirkan.

 

KAUM urban yang tinggal di kota-kota besar berpotensi terpapar polusi. Buruknya kualitas udara harus diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan tubuh yang berisiko pada kematian. Data WHO 2016 menempatkan Jakarta dan Bandung dalam sepuluh kota dengan pencemaran udara terburuk di Asia Tenggara.

Enam bulan terakhir, Greenpeace Indonesia memantau 21 stasiun di wilayah Jabodetabek. Hasilnya, kualitas udara di semua lokasi buruk, tidak sehat atau tidak sehat untuk kelompok sensitif. Tiga area dengan kualitas terburuk yakni Cibubur, Warung Buncit, dan Gandul (Depok).

Kriteria teknisnya angka PM 2,5  (particulate matter). PM2,5 adalah kandungan partikel-partikel halus di udara yang berukuran setara 2,5 mikron. Temuan serupa dikemukakan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Angka PM 2,5 hari di lokasi-lokasi tersebut jauh melebihi standar WHO yaitu 25 mikrogram (mg)/m³ dan Baku Mutu Udara Ambien Nasional yaitu 65 mg/m³,” kata Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu.

Data Januari- Juni 2017 menunjukkan, Cibubur, Warung Buncit, dan Gandul (Depok) menempati tiga besar tingkat PM 2.5 tertinggi, yaitu 106, 97, dan 84. Pada 22 Juni 2017, pemantauan di 12 lokasi menunjukkan dua kondisi udara: tidak sehat dan sangat tidak sehat. Kondisi terburuk terpapar di Jaksel dengan paparan 91 mg/m³ dan Jakpus 59 mg/m³. Kondisi ini berbahaya bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

Besaran angka PM 2.5 itu biasanya dihasilkan dari pembangkit listrik, pembakaran mesin transportasi, dan aktivitas industri. Partikel ini dapat terhirup dan mengendap di organ pernapasan. Endapan ini dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak, bahkan kanker paru-paru.

Akibatnya, kemungkinan kita meninggal karena stroke meningkat dua kali lipat.  Di Cibubur, risiko stroke meningkat hingga 150%, penyakit jantung 105%, dan ISPA pada anak 105%. Di Warung Buncit, peningkatan risiko stroke hingga 146%, penyakit jantung 102%, dan ISPA pada anak97%. Sedangkan di Gandul, Depok, persentasenya mencapai 139% untuk stroke, 97% untuk penyakit jantung, dan 84% untuk ISPA pada anak. “Anak-anak cenderung menyerap polutan lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Sebab, anak berusia tiga tahun menghirup udara dua kali lebih banyak dibanding orang dewasa,” kata Bondan.

ISPA juga menjadi kasus terbesar penyakit di beberapa kecamatan di Jabodetabek. Di Cengkareng angka ini mencapai 2.867 kasus, di Duren Sawit 2.789, Matraman 2.150, Kalideres 2.078, Cempaka Putih 1.216, Pademangan 1.268, Cilincing 1.058, Kebon Jeruk 1.081, Kembangan 1.045, Tebet 921, Pasar Minggu 804, Pancoran 794, Kebayoran Lama 630, Setia Budi 608, Senen 594, dan di Cilandak 568 kasus.

Direktur Eksekutif Komisi Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan, di Jakarta, 58,3% warga menderita penyakit terkait pencemaran udara. “Total medical cost yang dikeluarkan masyarakat pada 2010 mencapai Rp38,5 triliun. Di tahun 2016 meningkat jadi Rp51,2 triliun,” katanya.

Greenpeace Indonesia merekomendasikan pemerintah DKI Jakarta untuk melakukan pemantauan kualitas udara secara memadai. Dan koordinasi lintas lembaga untuk mencapai kualitas udara yang layak. “Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi dan pendidikan mengenai bahaya kesehatan akibat polusi udara,” kata Bondan.

Buruknya kualitas udara di Jakarta dapat terlihat dari Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang angkanya lebih dari 100. ISPU adalah laporan kualitas udara kepada masyarakat yang menerangkan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam/hari/bulan.

Kualitas udara Jakarta masuk dalam kondisi ISPU sehat hanya 70-80 hari dalam setahun. Hari Senin hingga Jumat, ISPU Jakarta tergolong tak sehat.

Penggunaan masker dapat menekan angka terpaparnya polusi udara sekira 20 persen. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan. Cara lain, tidak berolah raga pada siang hari karena paparan polusi sedang tinggi, dan seminggu sekali menghirup udara sehat di luar kota.●(dd)

Bagikan ke: