Resto Keluarga Nyentrik Ala MJS

Nuansa unik, antik dan eksotik masih mendominasi rumah tinggal gaya tahun 1950-an yang terletak di bilangan Setia Budi Jakarta Selatan itu. Pemiliknya, Sulistyo Wimbo S. Hardhito, menyulap rumah kuno itu menjadi sebuah resto bernuansa keluarga.

Jika Anda pencinta kuliner, kurang lengkap kiranya jika belum singgah ke Warung MJS di Setia Budi Jakarta Selatan. Dengan suguhan interior unik, antik bahkan mistis, seolah jadi oase sejuk di tengah kebisingan ibukota yang akrab dengan sibuk dan macet. Warung bernuansa Jawa ini, dan menu utama yang disuguhkan juga khas Jawa Tengah terdiri atas ruangan indoor dan outdoor. Di bagian indoor, kita  disuguhkan berbagai koleksi antik, mulai beragam jenis topi dari mancanegara, botol-botol kecap dari berbagai daerah, wayang, lukisan hingga radio tua dan sepeda ontel. Pemiliknya, Sulityo Wimbo S Hardhito, biasa dipanggil Pak Wim, memang punya hobi yang unik. Selain kolektor barang antik, mantan direksi PT Indosat ini juga penggemar traveling. Hampir banyak daerah di seantero dunia telah dijelajahinya.Pak Wim, yang juga sukses menjabat Direktur Komersial PT Kereta Api (2009-2014) dan Direktur Utama PT Pelni (2014 – 2016) ini bahkan pernah melintasi Grand Canyon Amerika Serikat dan Kutub Utara.

Tetapi MJS warung metamorfosis dari Mbah Jingkrak Setia Budi ini tidak melulu menyuguhkan aneka barang antik milik Pak Wim.  Di bagian outdoor, terdapat kolam dan gazebo dihiasi alat musik gong dan topeng-topeng dengan berbagai ekspresi. Sejumlah mainan anak-anak, seperti bola, kapal-kapalan dan kuda-kudaan menghiasi permukaan kolam. Terdapat pula jembatan untuk mencapai seberang kolam. Pendek kata di warung yang dibangun di atas lahan seluas 3.000 meter persegi itu, anda seolah  berada di rumah sendiri.

“Saya senang ketemu banyak orang, makanya agar rumah saya ini gak sepi, saya jadikan warung,” kata Wimbo pekan lalu saat kami singgah untuk berbuka puasa di warung uniknya itu.

Ide membuat warung itu muncul pada tahun 2007, saat Wimbo selesai mengabdi 25 tahun di PT Indosat. “Saya memang ingin punya rumah cukup besar yang berada di tepi jalan, tapi agar tidak mubazir lalu saya buka usaha kuliner, karena bisa saya cuma itu,” tuturnya lagi. Usaha kuliner adalah aktivitas baru yang digeluti. Agar tidak salah melangkah di bisnis baru itu, ayah dua anak ini bergabung dengan Mbah Jingkrak, sebuah resto waralaba yang berdomisili di Semarang, Jawa Tengah.  Dipadu dengan kreasi menata restoran dan pelayanan ala keluarga, usaha kuliner ini ternyata mampu menggaet banyak pelanggan. Bahkan nama Mbah Jingkrak kemudian melekat dengan embel-embel Setia Budi, tempat warung ini berlokasi.

Sepuluh tahun mengusung bendera Mbah Jingkrak Setiabudi, sejak tahun lalu, Pak Wim mendirikan usaha sendiri dengan nama Warung MJS. “Konsepnya gak ada yang berubah,yaitu bagaimana membuat orang senang. Makanannya masih khas Jawa Tengah, namun ada beberapa menu tambahan ala Jakarta,“ujar Pak Wim seraya mengajak kami melihat aneka menu yang terpampang di meja panjang di ruang  utama warung.

Selain itu, sejak dua tahun lalu, operasional dan manajemen warung sepenuhnya diserahkan  kepada kedua anaknya, karena Pak Wim bertekad untuk menikmati masa pensiunannya dengan jalan-jalan dan olah raga,

Tentang perubahan nama menjadi MJS, menurut birokrat yang terakhir menjabat Dirut Angkasa Pura I (2015-2016) ini, tidak ada pengaruh dengan jumlah pelanggan. “Bagi pecinta kuliner, kalau rasanya sudah pas di lidah, mereka pasti akan datang lagi,” cetusnya sambil menambahkan jumlah tamu yang datang ke MJS rerata sekitar 350 orang per hari.

Konsep pelayanan ala keluarga yang diterapkan Pak Wim, terbukti mampu menjaga kepuasan pelanggan sehingga mereka selalu ingin datang dan datang lagi. Salah satu layanan ala keluarga itu adalah dipintu  depan tamu sudah bisa menikmati minuman gratis, selagi makan bisa mengambik kerupuk gratis dan seusai makan boleh mengambil pisang gratis. Selain itu, tamu yang masih ingin bersantap, tetap dilayani hingga larut malam, namun pemesanan menu ditutup sejak jam 22.00,

Mengenai padatnya tamu yang datang, MJS hanya menyediakan reserve (kursi pesanan) sebanyak 50%, sisanya adalah untuk tamu yang kebetulan lewat atau mereka yang memang baru pertama kali berkunjung. “Kalau semua kursi sudah dipesan, kasihan mereka yang jauh-jauh datang malah gak dapat tempat,” tukas Pak Wim.

Dengan jumlah pegawai sebanyak 70 orang termasuk tukang masak sebanyak tujuh orang, Pak Wim berharap usaha yang dirintisnya dapat membantu pemerintah dalam mengkampanyekan kuliner nasional sekaligus mengurangi angka pengangguran (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: