RAT KSP Tunas Jaya Persaingan Ritel (Makin) Tidak Sehat

tunas jaya benhil

Untuk kesekian kali, Koperasi Serba Usaha Tunas Jaya meminta Pemrov DKI Jakarta membenahi iklim persaingan tidak sehat pasar ritel. Namun, agaknya teriakan itu hanya membentur ruang hampa. Faktaya, minimarket, mall dan hypermarket tumbuh subur. Hingga akhir 2015 jumlah minimarket tercatat 3.600 unit atau rata-rata berdiri 13 minimarket di setiap kelurahan di DKI Jakarta. Jumlah terebut belum termasuk serbuan sekitar 300-an mal dan hypermarket.

Dengan layanan profesional serta modal kuat, minimarket tidak hanya menggusur usaha warung-warung kecil dan koperasi serba usaha yang pernah jadi icon kelurahan. Tetapi juga berani melanggar aturan main usaha minimarket yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta.

“Tahun lalu pemprov ancam akan menutup minimarket yang beroperasi 24 jam, nyatanya sampai kini ancaman itu cuma gertak di atas kertas. Minimarket terap saja beroperasi 24 jam,” kata Ketua KSU Tunas Jaya Sugiharto. Ia menumpahkan uneg-uneg nya itu saat berbicara di depan pejabat Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta, Ainur Rofiq, dalam Rapat Anggota Tahunan KSU Tunas Jaya ke XXXIX, 21 Februari di Jakarta.

Persaingan tidak sehat usaha ritel di Jakarta, kata Sugiharto, bukan kabar baru. Sudah berulang kali dia menyampaikan agar Pemprov DKI Jakarta konsisten dengan regulasi yang dibuatnya (Perda No. 2 Tahun 2002). Namun imbauan tersebut hanya membentur angin. Pelanggaran peraturan mulai dari izin lokasi yang dekat dengan pasar rakyat hingga izin operasi terus berlangsung. Bahkan seorang pejabat di Pemrov DKI Jakarta pernah mengatakan koperasi agar introspeksi, kenapa tokonya tergerus oleh minimarket yang merebak ke tengah kampung.

Selain dihajar kebijakan pasar yang tidak sehat, kinerja KSU Tunas Jaya sepanjang tahun 2015 terpukul oleh melambannya perekonomian.

“Pelambanan ekonomi sangat memengaruhi daya beli anggota koperasi yang umumnya usaha mikro dan kecil. Kebanyakan usaha mereka warung sembako yang dikepung oleh minimarket, supermarket, hypermarket dan mall,” kata Sugiharto. lantaran daya beli yang menurun tersebut, imbasnya menjalar ke koperasi dimana perolehan usaha hanya naik tipis. Realisasi pendapatan KSU Tunas Jaya per tahuh buku 2015 sebesar Rp 63,75 miliar sedangkan pengeluaran dan biaya-biaya sebesar Rp 63,39 miliar. Atau terdapat selisih surplus Rp 353 juta. Namun modal sendiri mengalami penurunan dari Rp 4,491 miliar pada 2014 menjadi Rp 4,464 miliar tahun 2015.

Militansi anggota dalam menabung sangat menolong koperasi ini menjaga kinerjanya. Terlihat dari penerimaan tabungan sebesar Rp 32,775 miliar sedangkan dana yang ditarik Rp 30,469 miliar. Sementara pinjaman disalurkan Rp 22,357 miliar.

Dalam progran usaha tahun 2016, koperasi beraset Rp 37,3 miliar (naik 6% dari tahun 2014 sebesar Rp 35,0 miliar) menargetkan pencapaian usaha sebesar Rp 68,882 miliar dengan kontribusi terbesar dari tabungan Rp 33,7 miliar. (Irm)

Bagikan ke: