Pulau Penyengat, Megahnya Kerajaan Melayu Masa Lalu

Di masa lampau, Pulau Penyengat merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Arkian, pulau ini juga merupakan ‘Mas Kawin’ dari Sultan Mahmud Syah kepada istri tercinta, Engku Putri Raja Hamidah, pada tahun 1803.

PULAU mungil di Kepulauan Riau ini punya sejarah yang luar biasa. Mungkin tidak seheroik Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat, yang mengikhlaskan daerahnya ke pangkuan Republik Indonesia. Atau Kesultanan Aceh yang menyumbang banyak demi kemerdekaan. Namun, pulau ini memiliki peran yang luar biasa dalam mempersatukan seluruh bangsa. Ya, di pulau inilah ditukis Gurindam Dua Belas, karya sastra Melayu yang menjadi tonggak perkembangan bahasa Indonesia.

Pulau Penyengat berada tidak jauh dari Ibukota Provinsi Kepulauan Riau yaitu Tanjungpinang. Dengan luas kurang lebih dua kilometer persegi, dahulu pulau ini dikenal dengan sebutan Pulau Air Tawar, karena banyak para pelaut dan pedagang yang singgah di sini untuk mendapatkan sumber air bersih. Untuk menuju pulau di muara Sungai Riau tersebut, satu-satunya akses adalah menggunakan kapal pompong yang berjarak sekitar 20 menit dari Tanjungpinang.

Di masa lampau, Pulau Penyengat merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Arkian, pulau ini juga merupakan ‘Mas Kawin’ dari Sultan Mahmud Syah kepada istri tercinta, Engku Putri Raja Hamidah, pada tahun 1803. Pulau ini berukuran panjang kurang lebih 2.000 meter dan lebar 850 meter.  Orang-orang Belanda di era kolonialisme masa lampau menyebutnya dengan nama Pulau Mars.

Pada tahun 1900, Sultan Riau-Lingga memindahkan markas kesultanan ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu. Sejalan dengan itu, namanya ditambah/disempurnakan menjadi Pulau Penyengat Inderasakti.

Mudah dimengerti jika di Pulau Penyengat terdapat berbagai peninggalan bersejarah. Di antaranya Masjid Raya Sultan Riau, Istana Engku Bilik, Balai Adat Melayu, makam para Raja dari Kerajaan Johor-Riau-Lingga, makam pahlawan nasional di bidang bahasa yaitu Raja Ali Haji (Raja Ali Haji adalah pengarang Gurindam 12, cikal bakal bahasa Melayu dan bahasa Indonesia), Gedung Tabib, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi.

Selain sebagai tempat lahirnya tata bahasa Melayu, Pulau Penyengat juga dinobatkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional. ADalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dalam lembar Keputusan Menteri No. 112/M/2018. Keputusan Menteri ini memastikan bahwa Kawasan Cagar Budaya Pulau Penyengat menjadi Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional. Luas lahannya mencakup 91,15 ha, di dalamnya terkandung 46 buah peninggalan cagar budaya.

Jika berkunjung dari arah Tanjungpinang, anda akan langsung melihat Masjid Raya Sultan Penyengat. Pendiriannya diprakarsai oleh Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman. Masjid ini merupakan masjid pertama di Nusantara yang menggunakan kubah. Kubah itu dibuat dengan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat sekitar tahun 1761-1812. Uniknya, masjid ini memiliki kombinasi gaya arsitektur yang sangat beragam, dari Melayu, Arab, India, hingga Turki.

Perat serta masyarakat membangun masjid ini sangat nyata. Pada masa Yang Dipertuan Muda VII, pada 1 Syawal 1832, Raja Abdurrahman mengumumkan mengajak seluruh masyarakat untuk bergotong royong membangun masjid. Dalam catatan, Masjid Raya Sultan Penyengat ini adalah masjid kubah beton cor pertama di Indonesia. Di masa lalu, penduduk menyumbang telur yang jumlahnya sampai berkapal-kapal. Daripada tidak kemakan, maka putih telur dijadikan sebagai perekat bangunan.

Bangunan utama masjid berukuran 18 x 20 meter. Kubahnya berjumlah 13 buah yang berbentuk seperti bawang. Jika ditambah dengan jumlah menara, total ada 17 buah menara dan kubah di masjid ini. Angka tersebut melambangkan jumlah rakaat salat selama sehari semalam.

Awalnya masjid ini berukuran kecil tetapi pada tahun 1831-1844 diperluas oleh Raja Abdurrahman Sultan Kerajaan Riau karena bangunan tidak dapat menampung jemaah yang membludak seiring waktu. Salah satu keunikan di masjid ini adalah tersimpannya mushaf berusia tua, yakni 1752 Masehi.

Tapi Pulau Penyengat tak hanya punya Masjid Sultan Riau, tapi juga beberapa situs bersejarah lainnya. Ada makam-makam para raja dan pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor, dan benteng pertahanan Bukit Kursi.

Pada tahun 1805. Sultan Mahmud atau Yang Dipertuan Muda Riau IV juga membangun beberapa benteng sebagai bentuk strategi pertahanan, salah satunya adalah Benteng Bukit Kursi. Benteng Bukit Kursi berada di atas bukit dan terbuat dari susunan pasangan batu bauksit. Areanya juga sangat luas sehingga bisa jadi tempat berkumpulnya pasukan. Di area benteng ini terdapat 8 buah meriam yang ditempatkan di semua bastion yang menghadap ke barat daya, barat laut, timur laut, tenggara, tengah, dan utara.

Bangunan kuno yang disebut Istana Kantor itu merupakan pusat kegiatan di Pulau Penyengat. Di istana ini jugalah Raja Ali Haji menulis Gurindam Dua Belas yang masyhur. Isinya nasihat untuk hidup, untuk bersahabat, serta untuk memerintah sebuah negeri. Sastrawan Melayu yang belakangan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional itu menyelesaikan karyanya pada tahun 1847.

Objek wisata lain yang bisa dikunjungi di Pulau Penyengat adalah Gedung Tabib. Bangunan ini dulunya merupakan kediaman Tabib Raja Daud yang merupakan tabib tersohor pada masa Kerajaan Riau-Lingga.

Penting diketahui adanya bangunan yang disebut Monumen Bahasa Melayu di sana. Peletakan batu pertamanya dilakukan tahun 2013 di area bekas Benteng Kursi. Monumen ini dibangun sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kepri terhadap jasa-jasa Raja Ali Haji di bidang bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia yang digunakan saat ini.

Di Pulau Penyengat juga terdapat beberapa kompleks makam raja. Salah satunya Komplek Makam Raja Abdurrahman atau Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga ke-7. Di sana juga ditemukan 50 makam lain yang terdiri dari anggota keluarga hingga penasihat kerajaan. Kemudian, ada Kompleks Makam Raja Ali Haji dan Engku Putri Raja Hamidah, makam Raja Ahmad yang merupakan penasihat kerajaan, Raja Abdullah YDM Riau Lingga IX dan Raja Aisyah, serta makam Raja Ja’far, anak dari Raja Haji Fisabilillah.

Meski era keemasan Pulau Penyengat telah lama berlalu, aroma kemegahan Pulau Penyengat tetap terasa. Baik sebagai sebuah sejarah, sebuah kehidupan, dan sebagai bukti bahwa perjuangan akan diakui bukan hanya dari pertumpahan darah, melainkan pemikiran yang cerdas juga. Berkunjung ke pulau ini sedikit banyak akan mengingatkan kita pada masa jaya Kerajaan Melayu dua abad lampau. Khususnya perjuangan fisik para leluhur melawan puak imperialis, di samping rasa mendekatkan diri pada Sang Pencipta.●(Nay)

Bagikan ke: