Properti Kelas Menengah Makin Seksi

Pengembang properti menjadikan kelas menengah sebagai target pasar utama dalam memasarkan produknya.  Perilaku kelompok ini umumnya membeli rumah untuk ditinggali dan memiliki daya beli yang cukup.

Harapan membaiknya pertumbuhan ekonomi dan berkah program tax amnesty diprediksi akan mendorong geliat di sektor properti. Kelas menengah sebagai pasar terbesar dalam perekonomian dibidik pengembang properti. Oleh karenanya tidak heran jika pengembang berlomba-lomba membangun properti untuk memenuhi kebutuhan mereka, baik sebagai hunian maupun instrumen investasi.

Segmen properti kelas menengah dikisaran harga Rp300 juta hingga Rp800 juta per unit merupakan yang terlaris dimata konsumen. Riset Rumah123 menunjukan penjualan rumah tapak dan vertikal di rentang harga tersebut menunjukkan tren meningkat pada 2016. Untuk rumah tapak (landed house) penjualannya tumbuh 200% sedangkan apartemen tumbuh sebesar 178%. Pembeli umumnya merupakan pasangan muda yang ingin memiliki rumah untuk ditinggali. Diperkirakan ada 55 juta orang segmen keluarga muda dengan daya beli yang cukup baik.

Selain melonjaknya angka penjualan, juga terjadi pertumbuhan proyek properti. Perusahaan pengembang kakap mulai melanjutkan proyek yang sempat tertunda pada tahun lalu. Hal ini dibarengi dengan pengembangan proyek-proyek baru demi memanfaatkan momentum pasar.

Indonesia Property Watch (IPW) juga memprediksi pasar properti tahun ini akan lebih bergairah dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun lalu,  riset IPW menunjukkan tekanan muncul pada kuartal II di mana ada penurunan pergerakan pasar perumahan sebesar 13,3%  secara kuartal atau turun 49,8% secara tahunan. Namun, memasuki kuartal III, tren kenaikan mulai terlihat dari jumlah unit terjual yang naik sebesar 11,8% pada kuartal III dan 12,5%  pada kuartal akhir.

Pada tahun ini, IPW memprediksi kenaikan terbesar terjadi di segmen menengah ke bawah. Hal ini  tidak lepas dari beragam faktor seperti relaksasi loan to value (LTV) dari Bank Indonesia, pemangkasan perizinan, pemotongan PPh final, dan suku bunga KPR yang cenderung menurun. Selain itu adanya dana repatriasi hasil amnesti pajak dan pembangunan infrastruktur yang masif. Perbankan yang kian agresif menyalurkan kredit properti juga berperan dalam mendorong geliat industri ini.

Salah satu pengembang besar yang melirik properti kelas menengah adalah Lippo Grup dengan meluncurkan Urban Homes.  Mengusung konsep apartemen dengan harga terjangkau untuk generasi dan keluarga muda dengan dukungan fasilitas gaya hidup terpadu. Urban Homes berupa unit apartemen 2 kamar seluas 40 dan 55 meter persegi yang berdasarkan survei merupakan yang disukai target pasar. Apartemen ini dijual dikisaran hraga Rp438 juta dengan cicilan Rp3 jutaan/bulan.

Urban Homes pertama dibangun di Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Apartemen ini terdiri dari 1.080 unit yang dilengkapi dengan sarana transportasi terpadu. Selain itu, ada fasilitas lain seperti sarana bermain dan berolahraga serta ruang publik yang memadai untuk sarana interaksi penghuninya.

Selain Lippo Grup, pengembang properti pelat merah juga tidak mau ketinggalan menangkap potensi bisnis dari kelas menengah. PT PP Properti Tbk akan melanjutkan strategi bisnisnya dengan membidik pangsa pasar kelas menengah. Pada tahun ini, PP sedang mengembangkan hunian untuk mahasiswa di kawasan Bandung dan Malang. Hal ini melanjutkan kesuksesan tahun sebelumnya yang membangun Evencio di Depok dan Alton di Semarang. Kedua properti ini merupakan student apartment yang berkonsep apartemen bebas narkoba.

Dari bisnis properti hunian ini, PP menargetkan pemasaran sebesar Rp2,99 triliun dan laba bersih sebesar Rp438 miliar, atau tumbuh masing-masing sebesar 20 persen dibandingkan realisasi 2016. Perusahaan yang baru saja melakukan aksi korporasi dengan right issue sebesar Rp1,5 triliun ini serius menggarap potensi pasar yang tersedia.

Potensi pasar kelas menengah juga dilirik oleh PT Summarecon Agung Tbk. Salah satu pengembang “kelas berat” ini berhasil menjual 128 unit rumah Burgundy Residence pada klaster Orchard di Summarecon Bekasi hanya dalam waktu tiga jam sejak diluncurkan pada akhir Mei lalu. Peluncuran Burgundy Residences diklaim sebagai jawaban dari permintaan warga Bekasi yang tertarik dengan konsep perumahan klaster di kota Summarecon Bekasi dengan harga yang lebih ramah di kantong.

Klaster Orchard merupakan area pengembangan dari kota Summarecon Bekasi Harga rumah yang ditawarkan berkisar Rp1,1 miliar hingga Rp 1,7 miliar. Padahal, berbagai klaster perumahan Summarecon Bekasi sebelumnya dipasarkan dengan kisaran harga di atas Rp2 miliar atau untuk kelas menengah atas.

Dengan daya beli kelas menengah yang relatif terjaga dan memang membutuhkan rumah tinggal, wajar jika kelompok ini menjadi incaran para pengembang properti. Pada sisi lain, kelompok masyarakat atas memilih wait and see dalam berinvestasi sementara segmen bawah kesulitan dalam pendanaan. (drajat).

Bagikan ke: