PKBL PT Krakatau Steel Komitmen perkuat Bisnis UKM

Kendati menempatkan posisi sebagai pelaku ekonomi terbesar di negeri ini, keberadaan usaha mikro kecil dan koperasi (UKM) masih belum menggembirakan. Selain terkendala faktor permodalan, manajemen  dan teknologi,  akses pasar juga lemah sehingga diperlukan pemihakan sepenuh hati.  Pernyataan itu mengemuka dalam seminar yang digelar PKBL PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten, awal Februari lalu. Seminar bertema Sinergi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Krakatau Steel dengan Lembaga Keuangan Mikro dan Koperasi itu dibuka oleh  General Manager   Security & General Affair PT Krakatau Steel Agus Nizar Vidiansyah yang didampingi Manager Community PKBL PT Krakatau Steel Adriana Peris.   Seminar yang dihadiri sekitar 60 peserta  dari berbagai utusan LKM dan Koperasi itu membahas potensi dan peluang ekonomi koperasi dengan pembicara Muhammad Taufik dari Dewan Koperasi Indonesia Wilayah Banten dan Pemimpin Redaksi Majalah PELUANG Irsyad Muchtar. Kelemahan koperasi dalam berbisnis, kata Taufik karena masih banyak orang yang tidak bisa membedakan antara usaha koperasi dan persero. Naasnya, kerancuan persepsi itu juga didukung oleh aparat pemerintah yang juga awam dengan  usaha koperasi.  Sementara Irsyad Muchtar lebih banyak menyoroti berbagai koperasi besar baik di dalam maupun luar negeri yang terbukti mampu keluar dari kutukan kerdil (condemn to be small) itu. Koperasi hanya akan menjadi besar dan sukses berbisnis apabila pengelolanya punya visi dan persepsi terhadap koperasi sebagai badan usaha. “Yang banyak muncul di negeri kita adalah pengelolaan koperasi ala paguyuban, yang hanya melulu menunggu bantuan murah  pemerintah. Koperasi dengan visi seperti ini jelas tidak akan bsia masuk ke jalur bisnis profesional,” pungkas Irsyad.

PKBL Krakatau Steel

Komitmen Pemberdayaan

Sementara itu Adriana Peris dalam sambutannya mengatakan

PKBL  bertujuan  untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. “Koperasi punya potensi ekonomi yang sangat besar karena berada langsung di tengah masyarakat, namun kapasitas manajemen dan teknologinya masih lemah. Itu sebabnya kami terpanggil untuk ikut membantu pengembangan ekonomi milik rakyat banyak ini,” ujarnya. Sejak diluncurkan pada 1992, hingga kini PKBL PT KS  telah  melakukan pembinaan terhadap 9.196 mitra binaan dengan total dana yang sudah disalurkan mencapai Rp 149,2 miliar.  Tahun ini, PKBL PT KS mengalokasikan Rp 16 miliar dengan penerima manfaat terbesar adalah para pedagang  kecil yang bergabung dengan Koperasi Pedagang Pasar  (Koppas) Cilegon.   Adriana menambahkan, Koppas Cilegon bermitra dengan PKBL: PT KS sejak 2012 dan telah menyerap dana lebih dari Rp 10 miliar. Koperasi ini terbukti mampu menunjukkan tanggungjawabnya dalam pengembalian pinjaman dimana kelancaran angsuran lebih dari 95%  atau tingkat kredit bermasalahnya nol persen.

Bagikan ke: