Pisang Raket, Perjuangan Para Ibu Desa Ladong, Mantan Pengungsi Tsunami

Ilustrasi Rismawati dan Produk Bangketnya-Foto: Dokumentasi Pribdi.

ACEH BESAR—Pisang Raket adalah Kudapan  yang bisa ditemui di Desa (Gampong) Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.  Bahannya adalah pisang uwak/pisang monyet, yang sudah masak, diiris tipis, lalu disusun di atas media jemur.

Menurut cerita Rismawati, pelaku kuliner Bangket Bina Seujahtera di Perum Dusen Indrapatra, Desa Ladong usaha ini berawal dari komunitasnya, yang menjadi salah stau bagian dari  korban tsunami  pada Desember 2004.

Komunitas Rismawati berasal dari Aceh Jaya awalnya mengungsi ke Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besarpada 2005.  Saat itu  pekerjaan susah. Para ibu-bu kemudian tertarik pada pohon pisang uwak yang banyak tumbuh di  Aceh Besar untuk jadi olahan yang tahan lebih dari seminggu.

Dibuatnya seperti pisang sale, dengan media jemur dan para ibu-ibu belajar dengan tekun dan akhirnya sukses. Mereka melakukan ini untuk membantu suaminya menari nafkah.

“Pada 2008 barak pengungsian kami direlokasi oleh Pemerintah Aceh Besar berkerjasama dengan Canadian Red Cross ke Desa Ladong dekat dengan Benteng indrapatra,” kenang Risma kepada Peluang, Kamis (15/4/21).  

Pekerjaan membuat pisang raket tetap dilakukan bahkan bekerja sama dengan pemasok pisang Pasar Induk Lambaro. Keahlian para ibu bertambah yang dulu irisannya tebal, kini semakin tipis.  

Awalnya para ibu Desa Ladong ini menjual dengan cara titip di kedai atau warung-warung. Pada perkembangannya permintaan pisang raket semakin meningkat.

 Ukuran pisang ini  bermacam-macam tergantung permintaan konsumen. Ada lembaran, ada potongan kecil. Pisang ini berbeda dari kerikipik pisang dari pisang mentah. Pisang raket dibuat pisang masak. 

Kelebihannya, lanjut Risma, pisang ini tidak pakai pengawet, tidak pakai pemanis, alami, hanya gunakan tepung beras tambah garam. Pisang raket bukan menggunakan minyak kiloan, tetapi minyak dikemas label halal, tepung beras ada label halal.

“Para penjual kue di pasar tradisional Aceh mengolahnya  jadi oleh-oleh pada turis domestik atau turis asing.  Hanya mereka tidak mau pakai merek kami, tetapi merek mereka,” kata Risma.

Bersatu Hadapi Masalah

Bukan hanya soal mereka.  Media PLUT Aceh pada 2019 melaporkan cara ini  hanya untuk bisa bertahan hidup.  Harga pisang rakit per buah dijual sekitar 800 rupiah ke Pasar Lambaro. Namun para agen pasar kemudian menjual dengan harga Rp20.000 ribu per kemasan yang berisi 3 buah pisang rakit.

Padahal untuk mendapatkan pisang itu, para ibu hebat ini , setiap hari bernagkat ke Lambaru sejak jam tiga diri hari, yang jaraknya sekitar 50 km dari tempat tinggal mereka. Di sana mereka membeli pisang, sekitar jam 7 pulang ke komunitas.

“Tahun 2018, saya mengajak ibu-ibu membentuk kelompok supaya produk kami punya legalitas di terkenal di tempat  produksi Desa Ladong, bukan di toko-toko suvenir tempat kami menitip.  Saya kemudian mengusulkan agar nama kelompoknya Bangket Bersama. Awalnya hanya 20 orang kelompok ibu-ibu pengusaha pisang raket, yang masing-masing punya brand sendiri,” papar Risma.  

Kini Risma dan para ibu sedikit bernafas lega.  Desa itu sudah menjadi sentra pisang raket, pertama di Aceh dan anggotanya bertambah, karena 90 persen penduduk perempuan di desa itu pekerjaannya membuat pisang raket.

Ilustrasi Gotong Royong_foto: Plku Aceh

Risma sendiri mempunyai brand bernama Bina Bangket Seujahtera.  Produk awalnya pisang Raket, kemudian saya munculnya  Pisang  Toesoek, bentuknya lebih tebal, perekat lidi. Ke depan dia akan meluncurkan  Pisang Kres seperti dari Bogor. Produksi Pisang Raketnya sekitar 200 lembar pisang atau650 bungkus per bulan dengan harga Rp10 ribu per bungkus dengan berat masing-masing 100 gram.

Risma juga mencium peluang usaha dari Ikan Kering yang terpinspirasi, dari banyaknya orang tidak bisa makan ikan asin, Ikan Kering bangkit rasanya tawar. Komunitas ini kebeutlan terletak  di pesisir prospek  usaha ikan, daerah kami adalah penghasil terbesar di Aceh.  Risma berharap akan menjadi sentra penghasil ikan kering terbesar di Aceh.

Mensiasati Pandemi

Dampak pandemi juga terasa bagi komunitas ibu-ibu ini. Omzet Risma sendiri menurun dari Rp6,5 juta menjadi Rp1 juta per bulan. Dia dan para ibu kembali menitip dikedai, tidak di pasar swalayan. Tapi bukan ibu-ibu hebat namanya, kalau tidak pandai bersiasat agar tetap punya penghasilan.

Jadi kalau ada seorang ibu yang maih punya pisang, temannya tidak, maka ibu yang tidak punya pisang membantu membelah dan menjemur. Yang membantu diberi gaji oleh yang punya pisang. Demikian sebaliknya, bergantian.

“Ini cara gotong royong dan saya sendiri juga pernah ke tempat anggota membantu membelah pisang dan menjemur,” kata dia, seraya mengatakan ikut mendorong para ibu menggunakan onsel cerdas berjualan secara daring.   

Selain itu Risma bergabung dengan Koperasi Industri Tanyoe Aceh karena belajar dari kondisi pandemi. Sinergi dengan koperasi untuk pemasaran.  Koperasi akan mnerapkan sistem pembelian produknya bukan konsinasi seperti di pasar swalayan. Bukan tidak mungkin mendapatkan kesempatan untuk ekspor (Van).

Bagikan ke: