Perum Bulog Gencarkan Operasi Pasar Beras

Foto : Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Realisasi operasi ini sejak 1 Januari-6 September 2022  mencapai sekitar 500 ribu ton beras.  

Sekretaris Perusahaan Bulog, Awaluddin Iqbal mengatakan, untuk  harga beras yang merangkak naik sejak bulan Agustus 2022, Perum Badan Logistik (Bulog) akan menyalurkan pasokan cadangan beras. Saat ini volume cadangan beras pemerintah (CPP) yang berada di gudang hampir 1 juta ton.

“Pasokan ini sangat mencukupi untuk kebutuhan stabilitas harga beras di pasar. Kita akan lakukan operasi pasar beras besar-besaran,” ujarnya.

Adapun berdasarkan data Bulog, realisasi operasi pasar beras sejak 1 Januari  hingga 6 September 2022 telah mencapai sekitar 500 ribu ton. “Target kita tahun ini lebih dari 1 juta ton. Jadi masih sangat besar beras yang harus kita salurkan,” tambah Awaluddin.

Untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga beras yang terjadi,  operasi pasar beras juga dilakukan Bulog sepanjang tahun. Menurutnya, langkah ini efektif untuk mengamankan harga beras. Dan pengeluaran stok beras yang dilakukan Bulog menggunakan prinsip first in first out (FIFO).  Yakni pasokan beras yang masuk pertama kali, harus dikeluarkan terlebih dahulu.

Kendati demikian, kata Awuladdin, operasi pasar beras juga menggunakan beras baru karena adanya permintaan pasar. “Manajemen gudang logistik itu salah satunya FIFO. Tapi demi keseimbangan pasar, maka beras yang baru masuk juga kita keluarkan untuk operasi beras pasar,” jelasnya.    

Langkah ini untuk menjawab keluhan pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang meminta agar Bulog tidak menggunakan beras impor 2018 karena sudah mengalami penurunan mutu. “Para pedagang beras di PIBC Jakarta minta Bulog gencar operasi pasar beras karena mulai terjadi tren kenaikan harga. Tapi mereka meminta agar Bulog tidak menggunakan beras impor,” kata Awaluddin.

Ketua Koperasi PIBC Jakarta, Zulkifli Rasyid mengungkapkan sejak Agustus 2022 Bulog telah menggelar operasi pasar beras untuk menurunkan harga.Hanya saja khususnya di PIBC, operasi pasar dilakukan dengan cara  menggabungkan beras dalam negeri dengan beras eks impor tahun 2018 dengan rasio beras lokal 20 ton dan impor 10 ton.

“Kedua beras itu dijual Bulog seharga Rp 8.300 per kilogaram (kg).  Pedagang pasar tidak mau menebus beras impor. Karena dia rugi, berasnya jelek,” kata Zulkifli. Beras impor itu berasal dari Vietnam dan India yang didatangkan ke Indonesia tahun 2018, ketika pada akhir 2017 terjadi situasi krisis beras. Dan PICB menurutnya, merupakan barometer untuk seluruh Indonesia. “Kami berharap agar khusus Jakarta, Perum Bulog dapat menggelar operasi pasar beras dengan produksi lokal seluruhnya,” tandas Zulkifli. (s1).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.