Peran Perempuan dalam Penguatan Sektor IKM

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita saat membuka pameran IPEMI di Gedung Kemenperin, Jakarta, Rabu (31/8/2022). Foto : Istimewa. Foto: Istimewa.

Jakarta (Peluang ) : Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat dari 4,4 juta industri kecil menengah (IKM), sebanyak 47 persen adalah pengusaha perempuan.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita mengatakan, perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa, termasuk mendorong kemajuan industri nasional, di antaranya sektor industri kecil menengah (IKM) di Indonesia.

Hal ini menurutnya dapat dilihat dari jumlah signifikan pengusaha perempuan pada sektor IKM yang andil menciptakan lapangan pekerjaan dan memberdayakan masyarakat. Sehingga IKM tidak bisa dipisahkan dari industri secara keseluruhan, karena sangat  berkaitan dengan peran perempuan.

Partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi telah mampu menciptakan lapangan, meningkatkan pendapatan, taraf hidup dan kesejahteraan keluarga. Bahkan terbentuknya wirasusaha baru ( WUB) perempuan yang diperuntukan bagi pasar lokal,domestik maupun ekspor.

“Dari total pengusaha sektor IKM sebanyak 4,4 juta, itu sebesar 47,32 persen atau sebanyak 2,08 juta merupakan pengusaha perempuan. Dari sisi penyerapan tenaga kerja perempuan di sektor IKM mencapai 4,65 juta orang atau 48,24 persen dari total jumlah tenaga kerja IKM,” ungkap Reni pada pembukaan pameran produk unggulan Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) di Gedung Kemenperin, Jakarta, Rabu (31/8/2022).    

Menurutnya, ini menjadi bukti kalau perempuan memiliki kesempatan sama dengan laki-laki dalam berkontribusi pada sektor industri, khususnya pada skala IKM.

Saat ini lanjut dia,  pelaku usaha termasuk IKM dihadapkan dengan kondisi pasar yang terus berubah.  Sehingga pelaku IKM harus berinovasi dan terus melakukan adaptasi model bisnis yang dijalankan.

Kejelian dalam membaca kebutuhan konsumen menjadi penting sehingga para pelaku IKM dapat mengembangkan inovasi yang tidak terbatas pada produk. Namun juga pada berbagai aspek lain seperti strategi pemasaran, manajemen, distribusi, pengemasan dan aspek bisnis lainnya.

“Selama pandemi kita juga sudah melihat banyak sekali contoh adaptasi strategi bisnis yang dilakukan oleh pelaku usaha industri besar maupun  berskala kecil dan menengah,” ujar Reni.

Menurutnya, berbagai contoh strategi adaptasi dapat dijadikan pelaku IKM  dalam menjalankan bisnis. Pemanfaatan marketplace sebagai sarana berjualan dapat menjadi salah satu opsi yang bisa dimaksimalkan agar para pelaku usaha mampu menjangkau cakupan pasar lebih luas.

Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka terus berupaya mengembangkan industri nasional khususnya yang masih berskala IKM melalui program peningkatan kompetensi SDM, pengembangan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin/ peralatan serta promosi dan pameran diberikan kepada pelaku IKM untuk meningkatkan daya saing dan kapasitasnya. Sementara untuk meningkatkan akses pasar Kementan memiliki program e-Smart IKM.

Selain itu, Kemenperin juga mendorong IKM dapat memanfaatkan berbagai fasilitas pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan lembaga pembiayaan perbankan/non perbankan lainnya. “Ini untuk memperkuat struktur modalnya,” ujar Reni.

Melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, Kemenperin mengajak masyarakat untuk mendukung keberlangsungan IKM dan UMKM dengan membeli produknya.   

Gerakan ini menurutnya, selain berdampak langsung kepada IKM, juga berpengaruh kepada sektor pendukunya seperti perajin, pegawai, penyedia bahan baku, logistik dan sektor terkait lainnya.

“Kami berharap dengan pelaksanaan berbagai program dan kolaborasi dengan pihak lain termasuk Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia bisa memberikan manfaat besar bagi penguatan daya saing IKM,” ucap Reni.

Ketua Umum IPEMI, Ingrid Kansil menambahkan, pihaknya berupaya membangun pemikiran untuk mengembangkan usaha. Dengan begitu dapat membuka lapangan pekerjaan serta mengurangi pengangguran.

Sejak IPEMI berdiri 21 April 2015, keanggotaanI sudah tersebar di ratusan kota dan 800 kecamatan. “Inshallah ini semangat baru kita bangkit setelah terkendala karena pandemi. Kita masih susun database, dirapikan, dan itu tidak mudah banyak kendala di antaranya akses,” pungkas Ingrid. (S1).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.