Penyaluran Dana Bergulir LPDB untuk UKM Strategis, Prioritas

Di tengah perekonomian sulit saat ini lantaran anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, banyak usaha mikro kecil dan koperasi yang kelimpungan. Ancaman PHK di depan mata. Dana bergulir LPDB diharapkan tetap lancar mengalir. 

Meski kelesuan ekonomi belum menerjang usahanya,  Nafwan Tanjung (57) tak bisa menyembunyikan kecemasannya lantaran nilai tukar rupiah yang makin anjlok. Pensiunan BUMN yang kini membuka usaha budi daya Lele Sangkuriang di bilangan Cimande, Bogor, Jawa Barat ini  pantas khawatir karena pakan lelenya memang  produk impor, yang harganya ikut melambung seiring meroketnya nilai tukar dolar AS  terhadap rupiah. Waktu memulai usaha budi daya Lele Sangkuriang pada tahun 2012, Nafwan membuka 9 buah kolam, belakangan usahanya berkembang dengan meningkatnya permintaan dari  para pengepul maupun pedagang pecel lele yang langsung datang ke pembibitan lele nya. ”Waktu itu saya butuh modal untuk mengembangkan kolam, kebetulan seorang teman mereferensikan kepada LPDB yang konon bunga pinjamannya sangat murah. Alhamdulillah waktu saya mengajukan sekitar Rp 900 uta, langsung dipenuhi,” ujar pria kelahiran minangkabau ini.

Dari pinjaman pembiayaan LPDB, Nafwan membuka kolam baru hingga mencapai 75 kolam. Dengan dibantu sebanyak lima orang karyawannya, produksi lele Nafwan mencapai 1,2 ton  per bulan dengan harga jual per kg Rp 19 ribu. Nafwan yang membuka usahanya dengan bendera CV Lanbar Sedua Utama  juga membuka kursus budi daya Lele Sangkuriang karena ia
ingin berbagi pengalaman sukses dengan wirausaha pemula lainnya.

Sosok usahawan kecil yang gigih  juga berhasil memanfaatkan dana bergulir LPDB adalah Mochammad Rondy (49), pengusaha sapu ijuk di Cianjur, Jawa Barat. Memperkerjakan sekitar 50 orang, pria asal Semarang, Jawa Tengah ini mampu memproduksi 5.000 sapu ijuk dengan sebaran pasar hingga Jakarta, Surabaya, Tangerang dan Tanjung karang.

rondy

Sebagai pengusaha yang lebih banyak mengandalkan modal nekad, semangat Rondy yang hanya tamat Sekolah Dasar  patut dicontoh. Saat memulai usaha pada tahun 1998, ditengah krisis moneter yang parah, Rondy hanya punya modal Rp 20juta. Dana itu adalah  simpanan dari pekerjaannya sebagai pengawas bangunan. Tahun pertama, modalnya menyusut hingga tinggal Rp 12 juta, tapi ia tetap maju dan pada tahun kedua hasilnya sudah mulai tampak.  Penjualan sapu ijuknya cerah bahkan ia sudah bisa ekspor ke Jerman dan Taiwan. “Kalau pesanan dari luar negeri itu melalui pihak ketiga, saya hanya menyiapkan produknya saja” tukas Rondy.  Seperti halnya Nafwan, Rondy juga mendengar bahwa pemerintah menggelontorkan pinjaman pembiayaan dengan murah melalui LPDB-KUMKM. Maka secara  iseng ia mencoba mengajukan proposal pinjaman pembiayaan untuk pembelian mesin produksi. “Saya memang untung-untungan saja mengajukan pinjaman ke LPDB, karena saya gak begitu yakin apakah usaha saya ini masuk kategori yang layak dibiayai oleh pemerintah,” ujarnya.

Di luar dugaan, proposalnya mendapat respon positif dari tim penilai pinjaman dari LPDB. Pada Februari lalu, PT RN Produk,  perusahaan sapu ijuk  yang dipimpinnya mendapat kucuran pembiayaan sebesar Rp 500 juta.  “Yang saya ajukan sebenarnya Rp 1,2 miliar, tapi kan saya mitra baru yang kinerjanya belum dikenal oleh LPDB, sehingga hanya disetujui Rp 500 juta, Alhamdulillah masih bisa dipercaya,” ujarnya. Dana tersebut dipakai untuk membeli  alat cetak produksinya yang sebenarnya lebih efisien kalau ia bisa membeli mesin sapu ijuk. Kendati demikian usaha Rondy menunjukkan pertumbuhan yang terus membaik. Kini omsetnya  sekitar Rp 700 juta hingga Rp 800juta per bulan.

Bagikan ke: