Penglipuran, Desa Kecil dengan Prestasi Mendunia

Desa Penglipuran di Bangli, Bali, dinobatkan sebagai Desa Terbersih ketiga di Dunia, menurut Green Destinations Foundation, setelah Desa Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda.

INILAH sebuah kompleks permukiman penduduk yang asri dan ramah lingkungan. Namanya Desa Penglipuran. Sebuah desa adat yang terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan/Kabupaten Bangli, Bali. Di desa tradisional ini masyarakatnya masih memegang teguh tatanan budaya yang diwariskan oleh para leluhur mereka. Suasana perkampungan yang unik dan indah. Berbeda dengan desa-desa lain di Pulau Dewata.

Sebagai obyek wisata di Bali dan sekaligus desa wisata, di kompleks permukiman desa ini tersedia sebuah homestay. Penglipuran merupakan tempat yang tepat untuk merasakan ketenangan, keheningan serta kenyamanan sebuah desa tradisional; dengan kearifan lokal dan penduduknya yang ramah. Sesuai untuk bermalam, merasakan atmosfer alam anti-mainstream.

Mulai dari pantainya yang menenangkan, bentangan alamnya yang mengagumkan, pesona bawah lautnya yang spektakuler, keharmonisan masyarakatnya, hingga suguhan kulinernya yang merepresentasikan eksotisme desa itu dalam citarasa.

Lokasinya strategis dan mudah dijangkau. Berdekatan dengan tempat wisata lainya di kawasan pariwisata Bangli seperti objek wisata Kintamani, Pura Kehen dan air terjun Tukad Cepung, sehingga sering dikemas menjadi paket tour di Bali. Untuk menikmati dan berkunjung ke desa Penglipuran, dikenakan biaya tiket masuk. Harga tiket Rp25.000/orang dewasa dan Rp15.000/anak-anak. Harga tersebut sudah termasuk biaya retribusi parkir.

Tak sulit menjelaskan bahwa masyarakat desa ini berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Mereka bermigrasi permanen karena suatu hal ke Desa Kubu Bayung, yang kini menjadi Desa Penglipuran. Di desa inilah mereka akhirnya menetap sambil tak lupa menjaga dan mengamalkan kearifan budaya yang mereka bawa dari tempat asal.

Misalnya, jika ketahuan mencuri, maka si pencuri diwajibkan melakukan sesajian dengan persembahan 5 ekor ayam dengan bulu berbeda pada 4 pura leluhur penduduk setempat. Sanksi ini akan memberikan efek rasa malu kepada si pelaku. Jika di Bali terkenal dengan tradisi dan upacara Ngaben dengan mengkremasi jasad yang sudah meninggal; di desa tradisional Penglipuran tidak ada pembakaran mayat. Jasad tubuh orang meninggal langsung dikubur.

Awalnya, desa ini hanyalah sebuah desa dengan penduduk berpikiran sederhana yang ingin mempertahankan kebudayaan nenek moyang, leluhur. Bersih dan rapi tampaknya begitu menyatu dengan pola hidup mereka. Itu sebabnya pada tahun 1993 desa adat ini ditetapkan sebagai Desa Wisata Penglipuran dengan Surat Keputusan (SK) Bupati No.115 tanggal 29 April 1993.

Di awal peresmiannya sebagai desa wisata, Penglipuran memperoeh penghargaan Kalpataru. Soanya, masyarakat setempat dianggap mampu menyelamatkan lingkungan. Mereka mampu mempertahankan dan memelihara 75 hektare hutan bambu dan 10 hektare vegetasi lainnya yang menjadi ciri khas desa itu.

Pada tahun 1995, Penglipuran memperoleh Kalpataru. Penghargaan lebih lanjut yang disabet berasal dari TripAdvisor berupa The Travellers Choice Destination 2016. Meski sebenarnya penghargaan ini dijatuhkan pada Pulau Dewata sebagai pulau kedua terbaik setelah Kepulauan Galapagos di Ekuador. Nama Desa Wisata Pengliburan pun kerap diperbincangkan.

Green Destinations Foundation menobatkan desa ini sebagai Desa Terbersih Ketiga di Dunia, setelah Desa Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda. Setiap 30 meter terdapat tempat sampah. Selain itu, pihak desa juga menerapkan sejumlah aturan adat ketat. Khususnya tentang keberadaan kendaraan bermotor.

Berkat kebersihan dan kerapiannya, desa wisata yang terletak di Kabupaten Bangli ini juga berhasil menyabet beberapa penghargaan diantaranya Kalpataru, ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) pada tahun 2017, dan yang terbaru, destinasi ini masuk dalam Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Rumah warga di Desa Penglipuran secara arsitektur tampak unik karena punya pola seragam. Keseragaman ini dilihat dari bentuk angkul-angkul, luas lahan bangunan, dan pembagian denah ruangan. Setiap rumah di Desa Penglipuran memiliki kamar tidur, ruang tamu, dapur, balai-balai, lumbung, dan tempat sembahyang. Keseragaman tersebut membuat desa ini khas dan berbeda dengan desa adat lainnya di Bali. Semua rumah di desa ini ukurannya sama persis. Seragam tapi tak sama.

Selain untuk tata ruang desa, konsep Tri Mandala juga diaplikasikan pada rumah penduduk dengan ketentuan hampir sama. Bagian utama hanya untuk tempat beribadah, tengah (kamar dan dapur) untuk beraktivitas sehari-hari, dan bagian luar digunakan sebagai tempat menjemur baju atau serta kandang ternak.

Masyarakat setempat juga percaya bahwa hutan bambu ini adalah bagian dari awal sejarah keberadaan mereka. Hutan bambu ini juga bukan hanya berfungsi untuk memperindah. Fungsi lainnya adalah sebagai kawasan resapan air. Itulah mengapa hutan bambu ini juga kerap disebut sebagai hutan pelindung desa.

Pesona lain yang ditawarkan Desa Penglipuran adalah sebuah festival budaya tahunan yang disebut Penglipuran Village Festival. Acara ini biasanya diselenggarakan di akhir tahun dengan rangkaian kegiatan yang beragam. Mulai dari parade pakaian adat Bali, Barong Ngelawang, parade seni budaya, dan berbagai lomba lainnya. Salah satu ritual besarnya adalah Ngusaba yang biasa dilakukan untuk menyambut Hari Raya Nyepi. Setiap 15 hari, masyarakat datang ke Pura Penataran untuk bersembahyang.

Desa Wisata Penglipuran bisa dibilang surga bagi para pecinta karya seni. Sebab ada banyak banget kerajinan tangan yang bakal Sobat Pesona temui, mulai dari kerajinan anyaman bambu, berbagai aksesoris, serta pernak-pernik tradisional yang dijual langsung di depan rumah para perajin lokal. Kuliner yang wajib dicicipi adalah loloh cemcem dan tipat cantok. Loloh cemcem merupakan minuman tradisional khas Desa Wisata Penglipuran berwarna hijau yang terbuat dari berbagai rempah-rempah. Sedangkan tipat cantok adalah makanan berbahan ketupat dan berbagai sayuran yang direbus dan diaduk dengan dengan bumbu kacang.

Lokasi desa ini hanya 60 km dengan jarak tempuh  1 jam 30 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Secara georafis terletak pada ketinggian 600—650 m dari permukaan air laut, sehingga memiliki suhu yang cukup sejuk. Jumlah penduduk per Januari 2021 adalah 1.111 orang dengan jumlah 27 KK. Mata pencaharian penduduk adalah perajin, pedagang souvenir, kuliner, pertanian, pengelola home stay, karyawan, PNS, pemandu wisata dan pelaku pariwisata lainnya.● 

Bagikan ke: