Pendapatan Asuransi Jiwa Turun 12,3 Persen

Foto : Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Penurunan disebabkan menurunnya pendapatan premi yang berkontribusi sebesar 90,7 persen.

Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Budi Tampubolon menyampaikan catatan pendapatan industri asuransi jiwa menurun 12,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 120,2 triliun pada semester I-2021 menjadi Rp 105, 4 triliun di semester I tahun 2022.

Menurutnya, penurunan ini cenderung disebabkan oleh menurunnya pendapatan premi yang berkontribusi sebesar 90,7 persen terhadap total pendapatan.

”Menurunnya pendapatan premi berdampak pada pendapatan industri asuransi jiwa menurun  12,3 persen secara yoy pada semester I-2022 atau menjadi Rp 105,4 triliun,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (6/9/2022).  

Lebih rinci Budi menjelaskan, total pendapatan premi pada paruh pertama tahun 2022  tercatat sebesar Rp 95,7 triliun atau turun 8,9 persen (yoy) dari Rp 105,1 triliun pada semester I-2021. Berdasarkan produknya, asuransi jiwa unit link masih mendominasi total pendapatan industri asuransi jiwa dengan kontribusi sebesar 59,3 persen, sementara 40,7 persen lainnya berasal dari produk asuransi tradisional.

Produk tradisional dan unit link secara keseluruhan menurun masing-masing sebesar 4,6 persen (yoy) dari Rp 40,9 triliun menjadi Rp 39 triliun serta 11,7 persen (yoy) dari Rp 64,2 triliun menjadi Rp 56,7 triliun. Kendati demikian, pendapatan premi untuk produk asuransi kesehatan meningkat 15,9 persen (yoy) dari Rp 7,4 triliun menjadi Rp 8,6 triliun.

Sementara berdasarkan bisnis, menurutnya,  premi bisnis baru berkontribusi sebesar 61,8 persen terhadap total pendapatan premi, sedangkan  38,2 persen lainnya berasal dari premi bisnis lanjutan. “Pendapatan premi bisnis baru dan lanjutan mencatatkan penurunan, masing-masing sebesar 13,3 persen (yoy) dari Rp 68,1 triliun menjadi Rp 59,1 triliun dan 0,9 persen (yoy) dari Rp 36,9 triliun menjadi Rp 36,6 triliun,” urai Budi.

Sedangkan berdasarkan kanal distribusinya, seluruh kanal mencatatkan penurunan yaitu sebut dia, bancassurance, keagenan, dan alternatif, masing-masing turun 7 persen (yoy), 9,1 persen (yoy), dan 10,9 persen (yoy).

Berdasarkan unit usahanya tercatat pendapatan premi unit usaha konvensional turun 11 persen (yoy) dari Rp 95,3 triliun menjadi Rp 84,8 triliun, namun unit usaha syariah mampu tumbuh 11,5 persen (yoy) dari Rp 9,7 triliun menjadi Rp 10,9 triliun.

Adapun pendapatan premi asuransi perorangan turun 11,4 persen (yoy) dari Rp 93,13 triliun menjadi Rp 82,51 triliun. Sedangkan asuransi kumpulan tumbuh 10,5 persen (yoy) dari Rp 11,92 triliun menjadi Rp 13,17 triliun. (S1).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.