Ingin Swasembada Buah-buahan Pemerintah Canangkan Gerakan Revolusi Oranye

Jakarta – Ironis memang kita sebagai negara agraris semua kbutuhan pagan masih impor. Menjamurnya buah impor di tanah air salah satunya. Selain rendahnya jumlah produksi juga kualitasnya masih kalah. Sementara pemerintah tidak menaikkan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Wajar jika kesempatan ini dimanfaatkan para pengusaha untuk mendulang keuntungan.

Berkaca dari kondisi demikian barangkali sehingga pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mencanangkan ‎Gerakan Revolusi Oranye (GRO). Tujuan program tersebut guna mendorong buah Nusantara bisa bersaing dengan produksi negara lain. Sekaligus untuk menekan impor buah. Jika program ini berhasil menurut Mentan Amran Sulaiman petani dapat meningkatkan penghasilannya hingga Rp 120 triliun.

Imbuh Mentan, GRO merupakan gerakan pengembangan buah Nusantara secara revolusioner dalam skala perkebunan. Untuk merealisasikan program ini ‎pihaknya akan mengembangkan lahan perkebunan mencapai 400 ribu hektar (ha). Khusus periode 2016 merencanakan 100 ribu ha. “Jika program ini berhasil maka petani buah lokal di seluruh Indonesia kita prediksikan akan mendapatkan tambahan pendapatan sekitar Rp 120 triliun,” ujarnya kepada wartawan di kantornya di Jakarta, Senin (9/5).

Sementara Herry Suhardiyanto, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), menambahkan gerakan tersebut muncul karena keprihatinan minimnya buah lokal sehingga buah impor menyerbu pasar lokal. Padahal negeri kita memiliki keanekaragaman hayati dengan tanahnya yang subur.

Tambah Herry dalam gerakan tersebut, maka perkebunan buah akan ditata dan tanaman buah yang ditanam juga akan disesuaikan dengan kondisi alam di wilayah setempat. Demikian bibitnya juga unggul sehingga akan menghasilkan buah berkualitas.

‎Festival Buah dan Bunga

Entah terkait program GRO atau tidak yang diperkirakan telah terealisasikannya lahan 100 hektar untuk tanaman buah-buahan. Pemerintah pada Novembr nanti akan menyelenggarakan Festival Buah dan Bunga Nusantara (FBBN) bertaraf internasional. Bunga yang dipamerkan dalam gelaran tersebut merupakan hasil produksi petani lokal dan berlangsung di Bogor, Jawa Barat, pada 17-20 November 2016.

Menteri Pertanian mengungkapkan, penyelenggaraan FBBN ini bentuk implementasi perintah agar lndonesia mengenalkan buah dan bunga kepada dunia. Dengan cara memamerkan buah dan bunga unggulan berpotensi ekspor, sekaligus mendatangkan pembeli dari berbagai negara.

FBBN lnternasional ini diperkirakan menghadirkan 500 pengusaha skala internasional. Mereka antara lain para importir, distributor, wholesaler, agent dan retailer, produsen olahan makanan dan minuman, Asosiasi eksportir, Institusi Pemasaran Internasional, serta lembaga kerja sama perdagangan internasional.

Dalam festival tersebut juga akan menampilkan kelompok produk benih dan bibit, pupuk, pestisida dan hormon, buah dan bunga segar, buah dan bunga olahan, industri kesehatan berbahan baku buah dan bunga, industri pariwisata berbasis kebun buah dan bunga Nusantara, peralatan pertanian, mesin pertanian, media pertanian, outlet buah dan bunga, dan lembaga keuangan.

Negara peserta FBBN meliputi negara anggota ASEAN, Asia, seperti Cina, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Timur Tengah, seperti UAE, Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Jordan, Australia dan New Zeland, Eropa, dan Amerika.

Diperkirakan 10 ribu‎ pengunjung dalam negeri akan menghadiri acara ini. Mereka berasal dari berbagai kalangan, baik pelaku usaha buah dan bunga Nusantara, segar maupun olahan, termasuk berbagai sarana penunjang, institusi pemerintah, maupun masyarakat umum. Saw/Dbs.

Bagikan ke: