Pembelajaran Energi dari Sana Sini

Bukansoal teknologi atau keekonomian; tapi dukungan kebijakan, visi pemimpinnya, dan perubahan paradigma para pengambil kebijakan energi. Belumterlambat untuk hijrah ke sumber energi terbarukan yang bersih. Atau tetap terjebak di abad kegelapan bahan bakar fosil?

sumber energi

Hambatan dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia bukanlah masalah teknologi atau keekonomian, melainkanmasalah sosial dan politik.Terutama paradigma pengambil kebijakan yang menganggap energi terbarukan mahal dan hanya cocok diterapkan di negara-negara maju seperti negara-negara Skandinavia dan Eropa Barat.

Paradigma yang keliru ini tentunya perlu diluruskan.Tren global saat ini sedang mengarah pada peralihan sumber energi fosil ke energi terbarukan. Nia Ketiga tengah ramai mengembangkan energi terbarukan dengan target yang ambisius. Etos kelima negara berikut ini layak diteladani.

Kosta Rika, Ambisi 2015. Negara di kawasan Amerika Tengah ini salah satu negara yang paling maju memanfaatkan energi terbarukan. Sekitar 98% kebutuhan energinya saat ini dipenuhi oleh sumber-sumber energi terbarukan: air, angin dan panas bumi. Tahun 2015,  Kosta Rika mencatatkan rekor mampu memenuhi 100% kebutuhan energinya selama 94 hari berturut-turut.

Costa Rican Institute Electricity (ICE), semacam PLN di negeri itu, menargetkan, Kosta Rika akan menjadi negara pertama di dunia yang seluruh kebutuhan energinya dipasok sumber-sumber energi terbarukan pada 2025.

Afganistan, Pola Desentralisasi. Negeri ini kita dengar hanya tentang perang, ledakan bom, atau pertikaian politik antarfaksi. Dibalik semua itu, Afganistan sangat serius mengembangkan sumber-sumber energi terbarukan bagi pemenuhan kebutuhan listrik untuk sekitar 30 juta populasinya. Perpecahan sosial, baik secara politik maupun geografis, menginspirasi pengembangan energi terbarukan yang terdesentralisasi. Belasan ribu rumah tangga di bagian utara negeri ini memenuhi kebutuhan listriknya berbasis energi surya, angin dan mikro hidro.

Uruguay, Kemitraan Menyeluruh. Pada Konferensi Perubahan Iklim Paris , 2015, Uruguay mengumumkan capaian besar. Bahwa 94,5% kebutuhan listrik negaranyadipasok dari sumber-sumber energi terbarukan, yang dicapai dalam waktu kurang dari 10 tahun.  Uruguay memanfaatkan secara maksimal hampir seluruh potensi sumber energi terbarukan di negeri itu: mikro hidro, angin, biomassa, dan surya.

Hal paling mengesankan, semua itu dicapai tanpa subsidi pemerintah atau membebankankan harga listrik tinggi kepada konsumen. Prestasi besar Uruguay ini sama sekali tanpa keajaiban teknologi dan kebijakan ekonomi yang  rumit. Tanpa membangun PLTN, bahkan tak ada pembangunan PLTA skala besar di kawasan Amerika Selatan itu dalam dua dekade terakhir. Kata kuncinya, menurut Ramon Mendez, Kepala Kebijakan Perubahan Iklim Uruguay, adalah proses pengambilan kebijakan yang jelas,  iklim regulasi yang mendukung pengembangan energi terbarukan, dan kemitraan yang kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Cina, Meninggalkan Batu Bara. Para pemimpin di Cina menyadari, pertumbuhan ekonomi yang mereka nikmati dibangun dengan mengorbankan kesehatan ratusan juta rakyatnya.  Mereka menyadari, model pembangunan ekonomi mereka yang sangat tergantung pada bahan bakar fosil sangat rentan bagi ketahanan energi negeri itu.Sejak tahun 2013, Cina membatasi penggunaan batubara dan beralih ke penggunaan sumber-sumber energi terbarukan: angin dan surya.

Pada tahun 2014, Cina berinvestasi sekitar US$90 miliar dolar bagi pengembangan energi bersih. Dengan kemampuannya memenuhi 60% kebutuhan saat ini, Cina tampil sebagai negara adikuasa dalam pengembangan dan pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan di dunia. Sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan menggantikan peran batu bara yang berdampak polusi.

India, Bidik 100 Gigawatt pada 2022. Ketika Presiden Joko Widodo menargetkan memenuhi kebutuhan listrik Indonesia dari sumber energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, PM Narendra Modi di India menargetkan membangun 175 Gigawatt pembakit listrik bersumber energi terbarukan pada tahun 2022, dimana100 Gigawatt diantaranya akan dihasilkan dari energi surya. Dengan dukungan kebijakan dan perubahan paradigma para pengambil kebijakan, India yakin akan mencapai target ambisiusnya.

10 Fakta (yang) Menguatkan

1-3Penggunaan energi surya meningkat 15 kali lipat dan energi angin meningkat 3 kali lipatdi seluruh dunia sejak 2007; Biaya untuk menghasilkan energi matahari dan angin menurun secara signifikan; Energi terbarukan sekarang menjadi ‘mainstream’: di negara-negara OECD (the Organization for Economic Co-operation and Development), 80% penambahan generasi jaringan listrik baru hingga tahun 2020 diharapkan sudah menggunakan energi terbarukan.

4-5.Semua negara memiliki andil besar dalam penggunaan energi angin, surya dan energi terbarukan lainnya.Tahun 2013, Spanyol menjuarai penggunaan energi angin adalah sumber energi listrik, melebihi energi dari nuklir, batubara dan gas. Energi terbarukannya menjawab 42% total kebutuhan listrik di daratan; Menurut Agensi Energi Internasional (the International Energy Agency), setiap negara kini dapat menggunakan energi angin/suryadengan biaya yang efektif.

6-8. Energi terbarukan sekarang menyediakan 22% kebutuhan listrik dunia; Tingkat pertumbuhan membuktikan energi terbarukan dapat dengan cepat digunakan dan ditingkatkan; Bank-bank investasi terkemuka mulai menyarankan investor untuk beralih pada investasi energi terbarukan.

9-10. Energi terbarukan ditujukan bagi masyarakat dan berguna untuk membangun ketahanan.  Energi terbarukan membuat akses terhadap listrik bagi 1,3 miliar orang di duniamenjadi lebih terjangkau; 100% energi terbarukan adalah solusi yang harus diambil. Energi terbarukan dapat memenuhi semua kebutuhan energi kita. Sebagaimana temuan IPCC, potensi teknis dari penggunaan energi terbarukan jauh lebih tinggi daripada semua permintaan energi global.

Setiap hari ada lebih banyak contoh dari energi terbarukan yang digunakan dan diperbaiki di seluruh planet kita yang rapuh.Meski demikian, industri bahan bakar fosil yang kuat bersama sekutu mereka masih memegang kendali. Pertanyaan besarnya menjadi: anda ingin berada di sisi mana? Terjebak di abad kegelapan bahan bakar fosil, atau berjemur di bawah sinar matahari dan angin dari masa depan energi bersih?(dd)

Bagikan ke: