OJK Kembangkan Ekosistem Green Bond

Foto : Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Melalui prinsip keuangan berkelanjutan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengarahkan pembangunan peduli lingkungan dan sosial masyarakat.

Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1B OJK, Novira Indrianingrum mengatakan, OJK berupaya mengembangkan ekosistem green bond sebagai inisiatif untuk mengembangkan keuangan berkelanjutan di pasar modal. 

Adapun pengembangan ekosistem green bond yang dilakukan OJK di antaranya review POJK 60/2017, Handbook Penerbitan Green Bond, dan local verifier green bond.

OJK juga akan mengembangkan stewardship principles atau prinsip-prinsip kepengurusan untuk mendukung pengembangan keuangan berkelanjutan di pasar modal.

“Mengenai standar dan regulasi, kita akan mengembangkan ekosistem green bond dan kajian tentang assurance untuk Laporan Berkelanjutan,” kata Novira.

Dari sisi produk, OJK akan mengembangkan reksa dana berkelanjutan dan bertanggung jawab. Sedangkan dari sisi infrastruktur, dilakukan pengembangan infrastruktur pelaporan keuangan berkelanjutan.

“OJK  juga sedang persiapan membentuk pasar karbon atau carbon exchange yang menerapkan cap & trade,” ungkapnya.

Novira menjelaskan, sistem carbon market akan menggunakan sistem kuota atau allowance. Nantinya setiap perusahaan, kegiatan usahanya akan ditentukan berdasar nilai ekonomi karbon (NEK) yang diberikan oleh pemerintah. 

NEK tersebut mengatur jumlah kuota batas pengeluaran emisi dalam satu tahun oleh masing-masing perusahaan. Kemudian, pada akhir tahun setiap perusahaan akan melakukan pengukuran dan melaporkan hasil emisi karbon dalam kurun waktu empat bulan setelahnya.

“Setelah empat bulan, perusahaan harus setor ke pemerintah seberapa banyak emisinya. Jadi ini wajib dilakukan monitor dan diukur,” ujarnya.

Menurutnya, melalui laporan emisi karbon tersebut akan muncul pasar karbon. Bagi perusahaan yang melebihi kuota emisi, maka perusahaan tersebut bisa membeli kuota kepada perusahaan yang memiliki sisa kuota emisi yang menyebabkan terjadinya trading.

“Ini sedang disiapkan dan OJK mendapat mandat dari pemerintah untuk melaksanakan pasar karbon,” ujarnya.

Selanjutnya kata Novira,  Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menjadi pelaksana perdagangan pasar karbon. Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah bahwa perdagangan karbon merupakan bursa saham. Meskipun secara yurisdiksi merupakan bursa komoditi.

Ia menegaskan, pengembangan keuangan berkelanjutan merupakan komitmen OJK 

untuk mengarahkan pembangunan yang peduli dampak lingkungan dan sosial masyarakat.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.