Nyali

Dia umumkan nama 158 pejabat pendukung peredaran narkoba. Termasuk polisi, perwira militer, tiga anggota Kongres dan tujuh hakim. Dia akan gunakan sistem tembak di tempat jika mereka coba kabur. Hasilnya dramatis. Tak kurang dari 37 walikota dan 31 perwira polisi ngeper lalu buru-buru menyerahkan diri. “Saya tidak peduli dengan HAM. Percayalah!” kata lelaki 71 tahun itu.

Sang ‘koboi’ dilantik 30 Juni 2016 sebagai orang nomor satu Filipina. Dia tidak omdo. Sejak kampanye Pilpres, ex Walikota Davao tujuh periode (sedari 1988) itu tekadnya bulat. Dia bakal mengakhiri perdagangan obat terlarang dalam 3-6 bulan. Belum empat bulan menjabat, Presiden Filipina Rodrigo Duterte sudah mengeksekusi 712 pengedar/pecandu di samping 1.067 pembunuhan liar/nonresmi. Dia juga menuding Cina sebagai sarang para gembong narkoba dan menyelundupkan drugs ke negerinya.

Efek ikutannya hebat:  4.400 pemakai/pecandu ditangkap, 8.700 orang menyerahkan diri. Mereka siap ikuti program rehabilitasi. Metode ‘petrus’ ala Duterte terbukti mangkus menyapih 600 ribu warga Filipina yang diduga ‘bersentuhan’ dengan barang haram itu. Tanpa perlu biaya banyak. LSM HAM juga tidak berkutik. Rakyat mendukung langkah reformasi pria pemilik julukan ‘The Punisher’. Digong, panggilan akrabnya, adalah walikota doyan menyelipkan dua pistol di pinggang, plus para pengawal.

Bidikan Duterte selanjutnya adalah para pengemplang pajak. Pencoleng duit negara bakal dicekal bepergian ke luar negeri. Bagi petinggi angkatan laut yang terkenal sebagai pemimpin pemberontakan militer pada 2003 dan 2007 itu, pembangkang pajak tak layak hidup nyaman; sepatutnya dijebloskan langsung ke penjara. Duterte sama sekali tidak tertarik menjalankan program amnesti pajak.

Masuk akal jika kesungguhan aksi bersih-bersih lelaki bagak ini memantik perlawanan. Menurut Inquirer (15/6), 20-an bos kriminal/bandar narkoba yang kini mendekam di dalam penjara New Bilibid Prison menyiapkan uang tunai PhP1 miliar/Rp289 miliar untuk (siapa pun) pemenggal leher Duterte, Ronald Dela Rosa/ kepala polisi, Leila de Lima/senator, atau Ricardo Rainier Cruz III/Kepala Biro Pemasyarakatan.

Rekam jejak akademisnya mentereng. Dia sarjana hukum lulusan San Beda Colege of Law, Manila. Gelar Bachelor of Arts di bidang ilmu politik dari Lyceum, Manila. Duterte menguasai masalah politik, hukum dan sosial dengan baik. Ayahnya, Vicente G Duterte, pengacara. Di kawasan, dia membangun kerjasama dengan sejumlah wilayah negara ASEAN, seperti Sulawesi Utara, Kalimantan, Serawak, dan Sabah.

Rodrigo Duterte bahkan siap mengubur Kongres untuk menciptakan pemerintahan revolusioner, “Untuk menulis ulang konstitusi Filipina,” ujarnya. Ya. Duterte bernyali karena ia berisi. Jangan bandingkan dengan pecundang  bermodal gertak sambal. Terlebih dengan penebar virus PHP pengidap mythomania.●

Salam,

Irsyad Muchtar

Bagikan ke: