NTT, Tekanan Sejumlah Masalah & Aset Bagus Sumber Daya Alam

Nusa Tenggara Timur (NTT) tentu tak cuma komodo atau Danau Tiga Kelimutu. Potensi wisatanya tersebar cukup banyak, baik di daratan maupun di lautan, hanya saja belum tergarap dengan baik. Prospek memulihkan kedigdayaan produktivitas ternak sapi sebagai primadona, misalnya, masih sangat terbuka.

         

IKON paling masyhur NTT, salah satu provinsi yang terletak di paling selatan Indonesia, tentulah komodo. Kadal raksasa warisan zaman purba itu hanya terdapat di lima pulau: Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami. Penduduk asli pulau Komodo menyebutnya “ora”. Binatang 3 meter/70-90 kg ini mampu memanjat, berdiri bertumpu pad ekornya, dan meyncium bangkai atau hewan sekarat dari kejauhan 9,5 km. Jumlahnya saat ini ditaksir 2.000-an ekor. Habitat “New 7 Wonders of Nature” ini dilestarikan di Taman Nasional Komodo, areal daratan dan lautan seluas 173.300 ha

Oleh Unesco, taman nasional ini dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer pada 1977 taman nasional ini dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia pada 1977, selanjutnya dinyatakan sebagai World Heritage Site (Situs Warisan Dunia) dan Man and Biosphere Reserve (Cagar Biosfer Dunia) pada 6 Maret 1980. Pemerintah RI menetapkannya sebagai simbol nasional pada 1992, sebagai Kawasan Perlindungan Laut di tahun 2000 dan sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada tahun 2006.

Jauh-jauh sebelumnya, pada tahun 1915, pemerintah Belanda telah menetapkan Pulau Komodo sebagai wilayah konservasi alam untuk binatang komodo. Wilayah itu kini secara administratif termasuk  dalam Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Di lingkungan Taman Nasional Komodo terdapat empat kampung dengan 5.000-an penduduk Muslim yang mata pencaharian umumnya nelayan. Kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara pada 2013 tercatat 800.000 orang, naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang 348.000 wisatawan.

Provinsi NTT memiliki banyak potensi ekowisata yang menggiurkan. Selain komodo, NTT memiliki beberapa daya tarik, seperti Danau Tiga Warna Kelimutu, budaya Pasola di Sumba, budaya penangkapan ikan paus secara tradisional di Lembata, Megalitik di Sumba, perkampungan adat di Waerebo, Bena, Suku Boti dan di Sumba, Pariwisata Religi Samana Santa di Larantuka, teluk Maumere, gelombang laut untuk peselancar di Nemberala Rote, dan Alor yang memiliki taman laut indah, Alquran tertua di Asia, prosesi Jumat Agung di Larantuka, Flores Timur, selain desa-desa adat.

pantai ntt

Provinsi yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste dan Australia ini merupakan provinsi kepulauan yang terdiri dari 1.192 pulau besar dan kecil, pulau yang memiliki nama sebanyak 473 buah, dan pulau berpenghuni sebanyak 43 buah.

Luas wilayah daratannya 47.349 km², luas lautan 200 km², panjang pantai 5.700 km2 yang terdiri dari 22 kabupaten/kota dan jumlah penduduk 5,3 juta jiwa. Potensi pariwisata bahari di NTT sangat menjanjikan, baik untuk diving, surfing, snorkeling, fishing, dan lainnya karena lautnya yang luas. NTT memiliki laut yang bening, banyak terumbu karang, dan keanekaragaman biota laut yang unik. Salah satunya adalah dunia bawah laut yang ada di Alor. Alor merupakan salah satu taman laut terindah di dunia.

Di dalam RPJMD 2014-2018, Pemprov mencanangkan keinginan mewujudkan NTT menjadi provinsi pariwisata di tahun 2018. Hanya saja, persoalan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) begitu kompleks dengan berbagai keterbatasan.

Bukan sekali dua kita mendengar puso/gagal panen melanda wilayah itu. Pun kisah miris tentang minimnya air bersih, gizi buruk, rendahnya kualitas pendidikan, pasokan listrik yang tak memadai dan tak tersebar hingga human trafficking menjadi realitas tak sedap tentang NTT sejauh ini.

Kekeringan mungkin sudah menjadi keseharian saat musim kemarau di NTT, dengan rekahan tanah selebar 5-10 centimeter. Rata-rata pertanian hanya bisa dilakukan ketika musim hujan tiba. Solusi atas kekeringan ini dirasakan minim, meski pemerintah menyebut sudah melakukan berbagai upaya pendampingan petani. Bantuan kepada petani berupa sarana pertanian, benih, pupuk, alat pompa air secara reguler. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT minim dana untuk mengatasi masalah kekeringan. Dana bantuan pemerintah pusat habis sejak 6 November 2014. Nyatanya, dana bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 4 miliar hanya bisa membantu warga selama empat bulan.

Kemarau panjang di Indonesia umumnya terjadi bersamaan dengan kejadian El-Nino. Dampak kekeringan sangat dirasakan di sektor pertanian tanaman pangan yang menjadi tumpuan bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Potensi pertanian lahan kering yaitu sekitar 1.528.308 ha berdasarkan kelas kesesuaian lahan terdiri dari daerah kecocokan tinggi, sedang dan terbatas. Sedangkan potensi lahan pertanian basah seluas 284.103 ha yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten/kota, sebagian telah dikelola dan dibagi berbagai daerah irigasi.

Di bidang pendidikan, kualitas pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih tergolong rendah dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Kendala utama kemerosotan kualitas pendidikan di NTT adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) tenaga pendidik. Saat ini, 44,63 persen dari 80.000 guru di NTT masih berijazah SMA. Alhasil, transformasi pendidikan di NTT belum bisa dikatakan berkembang.

Kendala lainnya adalah penyerapan tenaga guru yang tidak berimbang antara daerah perkotaan dan pedesaan. Provinsi NTT termasuk daerah dengan tingkat kelulusan terendah Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK Tahun Ajaran 2012/2013.

Kabar paling tidak menyenangkan datang dari National Project Coordinator IOM Indonesia, medio Februari lalu. Nusa Tenggara Timur dinyatakan sebagai provinsi dengan kasus perdagangan orang tertinggi di Indonesia pada 2014. Sedikitnya 7.193 orang telah teridentifikasi sebagai korban tindak pidana perdagangan orang. Mereka, 82% perempuan dan 18% laki-laki, mendapatkan bantuan langsung berupa biaya pemulangan, rehabilitasi, penuntutan hukum dan reintegrasi sosial.

Usut punya usut akar permasalahan, “78 persen terjerat situasi perdagangan orang akibat kemiskinan dan tidak dapat berkompetisi pada pasar tenaga kerja dalam negeri karena pendidikan dan keterampilan yang tidak memadai,” tulis Nurul Qoiriah, National Project Coordinator IOM Indonesia dalam siaran persnya. Kombinasi kemiskinan dan rendahnya kualitas pendidikan berdampak langsung terhadap derajat kesehatan masyarakat. NTT kini bergulat menanggulangi angka kesakitan, kecacatan, dan kematian yang cukup tinggi akibat penyakit-penyakit menular dan tidak menular.

Kompleksnya masalah kesehatan tersaji dari data Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Fasilitas kesehatan berada di 2.585 desa di 197 kecamatan pada 16 kabupaten/kota, 14 unit RSU, 222 unit puskesmas, 869 unit puskesmas pembantu dan 1.076 unit polindes. Jumlah tenaga kesehatan juga sangat kurang. Dokter Umum baru ada 216 orang dari 438 orang yang dibutuhkan (kekurangan 222 orang), bidan desa baru 2.046 dari 2.564 orang yang dibutuhkan (kekurangan 518 orang), perawat baru 1.630 orang dari 2.678 orang yang dibutuhkan (kekurangan 1.048 orang), dokter gigi untuk puskesmas baru ada 57 orang dari 230 orang yang dibutuhkan (kekurangan 173 orang) dan dokter spesialis baru 45 orang dari 106 orang yang dibutuhkan (kekurangan 61 orang).

Masalah gizi kurang dan gizi buruk yang dialami anak-anak NTT menjadi sorotan nasional. Riset kesehatan daerah tahun 2013 memperlihatkan, 29% balita mengalami masalah gizi buruk, terparah di Kab Rote Ndao dan Timor Tengah Selatan, kecuali di lima kabupaten dari 21 kabupaten/kota di NTT yaitu Nagekeo Manggarai Timur, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sabu Raijua. Pada tahun 2012, sebesar 14,1% bayi dan anak NTT memiliki masalah gizi. Yang asupan gizi balitanya relatif baik terdapat di Kabupaten Belu, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Lembata, Sikka, dan Sabu Raijua.

 

Minim Listrik dan Prospek Sapi

 

Dari 566 pulau yang termasuk dalam wilayah NTT, sekitar 42 pulau di antaranya berpenghuni, aliran listrik baru dapat dinikmati oleh masyarakat di 14 pulau. Itu pun 99% listriknya berasal dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Kebutuhan BBM telah menelan biaya hampir 70% dari total biaya operasional PLN Wilayah NTT. Padahal, NTT memiliki banyak potensi energi terbarukan yang tersebar, yakni, air, angin, matahari, dan panas bumi (geothermal). Potensi air dalam banyak dalam skala kecil dan menyebar, potensi angin di pulau Sumba dan Timor mencapai 7 m/detik. ”Potensi matahari besar karena musim kemarau di NTT, terutama di Sumba dan Timor berlangsung selama 9-10 bulan. Potensi geotermal terutama di Pulau Flores, menyebar hampir di semua kabupaten yang me­miliki gunung berapi.

Topografi NTT diyakini cocok untuk pembibitan dan pengembangan ternak sapi di Indonesia. Di era 1970-1980-an NTT telah mengekspor ternak sapi dan kerbau ke luar daerah, kemudian di ekspor ke Hongkong, selain untuk memenuhi stok daging nasional. Bahkan hingga era 1990-an, NTT merupakan salah satu gudang ternak nasional yang berada di urutan kedua setelah Jawa Timur.

Potensi lahan pertanian dan peternakan di NTT mencakup 34,57 % dari total luas wilayah daratan atau sama dengan 1,637.040 ha. Dari jumlah tersebut yang cocok untuk dikembangkan sebagai persawahan (pertanian lahan basah) hanya seluas 2,67% atau 126.510 ha. Selebihnya yakni 31,90% atau 1.510.530 ha dapat dikembangkan bagi pertanian lahan kering. Dalam jumlah luas areal lahan  kering tersebut termasuk 828.840 ha yang dapat dikembangkan sebagai areal padang penggembalaan untuk peternakan sapi, kuda dan kerbau serta ternak kecil seperti babi dan kambing.

Pemeliharaan ternak dalam skala besar sulit dikembangkan di NTT karena masalah kepemilikan lahan. Sebab, sebagian besar lahan di NTT adalah milik ulayat.

Pengembangan sektor peternakan terkendala karena peternak masih menggembalakan ternaknya secara tradisional. Pagi mereka menggiring ternaknya ke padang, sore mengantar kembali ke kandangnya. Sementara kondisi alam NTT itu hijau di musim hujan dan kering kerontang di musim kemarau. “Infrastruktur utama untuk ternak adalah penyediaan air bersih lewat pembuatan embung atau waduk di berbagai wilayah. Hanya dengan air yang cukup, NTT mampu menyediakan pakan ternak. Saat ini, NTT kesulitan air. Pada musim kemarau, bukit dan lembah gundul karena rumputnya tak bisa hidup,” ujar Yusuf L. Henuk, guru besar Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, NTT.

Secara umum, ketersediaan hijauan rumput alam di NTT pada musim hujan (3-4 bulan) berada dalam jumlah cukup bahkan berlebihan dan sebaliknya pada musim kemarau (8-9 bulan) ketersediaan rumput alam masih cukup tetapi kualitasnya menurun drastis. Kendala utama ini bertumpu pada iklim dengan musim kemarau yang panjang tanpa hujan selama 7-9 bulan. Rumput menjadi kering dengan nilai gizi yang sangat rendah. Ternak mengalami penurunan berat hingga 50% akibat rendahnya konsumsi pakan dan daya cerna selama musim kemarau.

Dengan meyakini deskripsi masalah sebagai sebagian dari jawaban, maka upaya menemukan jawaban yang utuh untuk recovery produktivitas peternakan (pembibitan dan penggemukan) sapi di jalur nontradisional kiranya menjadi tak terlalu sulit, bukan?

Bagikan ke: