NPL NOL PERSEN SELEKTIF MEMILIH ANGGOTA

Tidak seperti koperasi simpan pinjam lainnya yang merambah anggotanya dari berbagai lapisan masyarakat, KSP Tunas Karya Pangkal Pinang justru selektif memilih calon anggotanya.

NPL nol persen

Dilihat dari  latar belakang pendiriannya berbasis credit union, wajar jika koperasi yang berkantor  di Ruko Permata  Jalan Solihin GP kota Pangkal Pinang, provinsi Bangka Belitung (Babel)  ini tidak asal pilih anggota. Umumnya Credit Union atau lebih dikenal dengan Koperasi Kredit memang hanya menyalurkan pinjaman kepada anggota yang disaring melalui proses seleksi ketat. Demikian pula dengan permodalannya  yang sepenuhnya dihimpun dari simpanan anggota.Menariknya Kopdit Tunas Karya tetap tumbuh dan berkembang menjadi koperasi sehat. Tingkat kemacetannya pun nol persen.

Tunas Karya membidik pasarnya di lingkungan sekolahan, mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA dan SMK. Mereka adalah para guru, karyawan, pensiunan dan orang-orang yang perkerjaannya berhubungan dengan pendidikan di sekolahan. Termasuk keluarga, istri dan anak. “Kami menyalurkan pinjaman hanya kepada anggota terdaftar dan tidak sepeserpun mengalir ke non anggota,”  kata pengelola Kopdit Tunas Karya Andreas Budiyono.

Pembentukan Kopdiit Tuinas Karya bermula dari inisiatif Yayasan Tunas Karya (YTK) yang bernaung di Keuskupan Gereja Katholik Pangkal Pinang. Tepatnya pada 1996 yayasan yang bergerak di sektor pendidikan ini mendirikan koperasi demi menopang kesejahteraan guru-guru dan mereka yang beraktivitas di lingkungan sekolah.

Meski lingkup operasinya hanya sekolahan, tidak membuat koperasi mati langkah. Sebaliknya perkembangan cukup signifikan. Kini anggotanya sebanyak 785 orang,  aktif bekerja di 60 unit sekolahan seluruh Babel hingga merambah kota Batam di  Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Dalaam melayani anggotanya koperasi ini meggunakan perangkat perbankan. Hampir setiap transaksi melalui transfer bank. Hanya satu dua orang saja yang mengambil pinjamannya ke kantor secara tunai. Selebihnya ditarik melalui ATM masing-masing peminjam. Pola efisien ini cukup dua orang karyawan yang rutin menunggui kantor.

Untuk kelancaran pelayanan, setiap kepala sekolah menjadi bagian dari pengurus koperasi dan bedaharawan sekolah diangkat menjadi kasir yang  mengatur aliran uang. Cara ini cukup ampuh menangkal terjadinya kredit macet, karena  pembayaran cicilan peminjam dipotong langsung dari gaji bulanannya  melalui bendaharawan sekolah sesuai kesepakatan saat akad kredit.

Plafon pinjaman bervariasi mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 500 juta sesuai kebutuhan anggota peminjam. Umumnya pinjaman seperti dijelaskan Kordinator Panitia Kredit Agustinus Sudarman,  digunakan untuk keperluan usaha, dan juga biaya pendidikan anak. Tingkat bunganya dikisaran 1,65% perbulan sliding  dengan waktu 20  hingga  120 bulan.  Untuk pinjaman di atas Rp 30 juta dikenakan agunan.

Sumber permodalan koperasi berasal dari dua sumber, yaitu Simpanan Saham yang terdiri dari simpanan pokok (SP), simpanan wajib (SW) dan simpanan suka rela yang diberikan jasa sesuai dengan perolehan SHU. Besarnya SP Rp 100.000 dan SW Rp 50.000 perbulan. Hingga 31 Desember 2015 terakumulasi sebesar Rp 3,904 miliar.

Sedangkan simpanan non saham terdiri simpanan mirip deposito yang diberikan jasa. Misalnya Simpanan Bunga Harian (Sibuhar) jasanya 4 persen pertahun dapat diambil sewaktu-waktu. Sedangkan Simpanan Sukarela Berjangka (Sisuka) bunga 6,5% pertahun. Dari simpanan ini terbukukan sebesar Rp 8,921 miliar. (SAW)

Bagikan ke: