Nirmala Darningsih Hadirkan Tauco Rumahan Berkelas

Nirma Draningsih-Foto: Istimewa.

MEDAN—Sejak puluhan tahun lalu, keluarga Nirma Darningsih memproduksi tauco  hanya untuk memenuhi konsumsi keluarga besarnya saja. Ilmu membuat tauco diajarkan neneknya kepada ibunya dan akhirnya kepada dia.

Namun kemudian alumni Magister Ilmu Manajemen Universitas Sumatera Utara ini melihat peluang pasar untuk usaha tauco.  Masyarakat menginginkan kehadiran tauco yang halal sekaligus hygienis.  Akhirnya pada 2015 warga Jalan KUD Hedung Johor, Medan itu menjadikan tauco rumahan dengan brand Tauco Qu untuk  dijual ke pasar.  Pada 2019 ia mulai mengurus legalitas dan kemudian menjadi mitra binaan Pertamina hingga produknya mulai naik kelas.

“Jadi kita ingin menaikkan nilai tauco yang sekadar Rp2 ribu perak per bungkusnya. Dijual di pasar dan diikat dengan karet, yang nggak tahu kita asal, prosesnya bagaimana. Diubah jadi lebih menarik dan dalam kemasan. Produksinya, mulai dari dapur kita jaga kualitasnya dan gunakan bahan yang halal,” jelas Nirma.

Dalam proses pembuatannya, sebut Nirma tauco ini diproduksi dengan menggunakan fermentasi alami. Mengandalkan suhu ruang. Sehingga dalam proses pembuatannya membutuhkan waktu setidaknya 45 hari untuk kawasan Medan Johor. Saat ini usahanya sudah memiliki sertifikat halal. Juga sudah punya NIB/IUMK, Dinkes PIRT dan saat ini, masih tahapan untuk BPOM.

Nirma mengungkapkan, produksi rata-rata 300 kilogeam per bulan. Harga reseller minimal pengambilan satu lusin Rp13.500 per botol isi 200 gram. Secara luring (fisik) Produk Tauco Qu Udang hadir di beberapa gerai, mulai dari 212 Mart, Bhalal Mart MUI, sejumlah pasar swalayan di kota Medan dan Gedung Smesco Paviliun Sumatera  Utara di Jakarta.

Sementara untuk pemasaran, secara daring  Nirma mengaku mengandalkan media online seperti marketplace dan Instagram. Tauco Qu ini juga sudah dijadikan oleh-oleh dan dibawa ke sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Brunai Darussalam.

Sebagai pengusaha  staf pengajar  sebuah universitas di Kota Medan ini mengaku  ikut terdampak usaha bahkan masih juga ditambah dengan naiknya harga kadelai.

“Alhamdullilah. Produk ini memiliki ketahanan yang lama (empired date 1 tahun lebih) jadi tidak begitu terkendala. Hanya saja akibat kenaikan harga kedelai dan udang pukul,  isi per botol dikurangi dari 220 gram per botol sekarang jadi 200 gram.  Kualitas bahan dan proses tetap sama. Karena Itu yang menjadi keunggulan produk ini,” jelas Nirma ketika dihubungi Peluang, Selasa (20/4/21).

Ke depan Nirma bertekad memperbaiki kualitas produk terutama dari sisi packaging dengan sasaran menembus ekspor secara resmi. Selama ini ada beberapa pedagang dan pribadi yang membawa produk ini ke luar negeri seperi Malaysia, Brunai dan  Sharjah di Uni Emirat Arab.

Dia juga menyebutkan banyak produk UKM yang berkualitas dan bagus tapi sangat sulit masuk pasar modern karena persyaratan listing yang memberatkan pelaku usaha. Selain itu UKM menghadapi kendala kemasan masih di pesan dari luar Sumatera sehingga beban biaya produksi jadi tinggi.. Apalagi pemesannya tidak dalam  jumlha besar. Inilah salah satu yang membuat harga produk sedikit lebih Mahal.

Untuk mengatasi kendala itu, UMKM seperti Tauco Qu  mencari Bapak Angkat terutama pemerintah untuk  membantu UMKM Itu naik kelas dan pendampingan pemerintah sebagai pemangku kebijakan untuk membuka pasar UMKM.

Ke depan dia berharap dapat bekerja sama dengan pemerintahan Kecamatan Medan Johor untuk klaster usaha Tauco Qu dengan harapan usaha Rumah Tangga ini bisa naik kelas menjadi Industri Kecil Menengah yang bisa memberikan kontribusi buat pemerintahan setempat dan mampu menyerap tenaga kerja (Van).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *