Nightmare

AGRESI ekonomi Tiongkok tengah mewabah. Cirinya dua. Yakni jika ada perusahaan BUMN Tiongkok dan digital marketplace milik Tiongkok di suatu negara. Agresi ekonomi berarti kolonisasi. Sumber daya alam negara sasaran dikuras. Tahapannya kuasai dulu pasarnya, lalu jaringan distribusinya, lalu jaringan produk Tiongkok masuk, lalu caplok sistem pembayaran nontunai asing atau pembayaran nontunai milik lokal.

Agresi berikutnya adalah pasar digital atau marketplace. Lalu cekik ekonomi kelas bawah dari negara yang sedang diagresi dengan mendapatkan dolar dari negara yang diagresi agar multi currency internasional negara yang diagresi kering kerontang. Semua itu terbungkus rapi dengan propaganda, “Manisnya ekonomi negara anda jika bergabung dengan Tiongkok.” Itu PHP mereka. Anehnya, tak sedikit negara yang sudi jadi selir sang Kaisar Tiongkok.

Di dalam negerinya, Tiongkok kasih insentif. Setiap dapat dolar dibayar renmimbi tiga kali lipat. Misalnya, baju batik dicetak di Tiongkok, dijual di marketplace. Batik Indonesia, buatan Indonesia, harga pasarannya Rp150 ribu. HPP garmen di Solo katakan Rp80 ribu. HPP ini harga pokok di seluruh dunia sama. Di marketplace tadi dijual Rp50 ribu. Pabrik sejagad raya juga bingung: bagaimana mungkin menjual di bawah HPP?

Para reseller panik. Borong barang Tiongkok tadi. Jual di offline, di online, di tempat lain dengan harga Rp80 ribu. Pabrik batik di Pekalongan, Solo, Bandung klojotan dan tewas. Begitulah strategi menumpas produksi, membunuh ekonomi UKM di sebuah negara. Apa tauke Tiongkok yang dapat US$4 per baju itu untung? Jelas rugi. Tapi, ketika US$4 tadi masuk ke Tiongkok, dolar diganti dengan renmimbi yang nilainya 300%. Mereka dapat US$12 atau Rp150 ribu. Modal tetap Rp80 ribu.

Pedagang untung, underlying printing renmimbinya ada dua: dolar yang nilainya sepertiga dan manufaktur sektor produktif Tiongkok. Gak bakal rugi mereka. Gak bakal inflasi. Itulah teori MMT (Modern Monetary Theory) adalah gagasan teori yang diprakarsai Mardigu Wowiek. Secara prinsip, MMT tak punya batasan untuk pembiayaan. Negara yang pakai MMT hanya Tiongkok dan Amerika, ketika yang lain terbelenggu teori ekonomi Adam Smith, John Maynard Keynes,” ujar Mardigu Wowiek.

Di Amerika, Jo Biden membanjiri ekonomi dalam negeri dengan stimulus keuangan, istilah populernya: printing money, sebanyak US$1,9 triliun, toh tak terjadi inflasi. Tiongkok juga pakai MMT. Strateginya sama tapi beda target market. Dengan satu strategi printing money, Tiongkok dapat dolar, meningkatkan produksi mereka, mematikan UKM negara koloninya, dan ekspansif menyedot wilayah-wilayah baru berikut. Masak yang simpel begini aja gak bisa ditiru para pejabat ekonomi dan keuangan negara kita? Rada musykil memang selama pengelola negara belum steril dari keikutsertaan para old mind.●

Salam, Irsyad Muchtar

Bagikan ke: