Nasionalisme Di Balik Tas Kulit Ular

Penilaian negatif  tidak selamanya buruk, asal direspons secara tepat. Seperti ditunjukkan Anto Suroto, produsen tas  merek Scano. Usahanya dipicu dari pandangan yang meremehkan produk Indonesia.

anto-s

Sebagai konsultan hukum bisnis, Anto Suroto sering bertemu dengan calon investor dari luar negeri yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Dari sekian banyak kliennya, investor asal Jepang menilai produk asal Indonesia kurang berkualitas. Alih-alih marah, penilaian tersebut justru menantang jiwa nasionalismenya.  Anto yang merupakan seorang doktor jebolan University of California Berkeleyini ingin membuktikan bahwa produk lokal tidak kalah kualitasnya dibanding luar negeri.

Mulailah ia mengembara ke berbagai negara seperti Jepang, Eropa, dan Amerika untuk belajar pembuatan tas dari kulit reptil seperti ular. Untuk proses belajarnya ini sendiri Anto merogoh kocek sendiri yang cukup dalam sebesar Rp1,5 miliar. Setelah merasa bisa, Anto memberanikan diri memproduksi tas dari kulit ular dengan merek Scano pada 2002. Proses produksinya dilakukan di Tangerang dan Jakarta. Sedangkan modal usaha cukup besar senilai Rp500 juta. Sejak awal ia membidik pasar ekspor dengan pertimbangan besarnya potensi dan faktor daya beli konsumen. “Pasar ekspor lebih menjanjikan secara ekonomis,” ujar Anto.

Bukan hal mudah dalam menembus pasar ekspor. Tiga tahun pertama usahanya jatuh bangun. Bahkan untuk meyakinkan pasar, ia menerapkan sistem titip barang. Barang dikirim dalam jumlah banyak dan hanya yang terjual saja yang dibayar oleh mereka. Cara ini sebenarnya berisiko besar karena perputaran uang tertahan dan bisa tidak laku. Selain itu ia juga rajin mengikuti pameran-pameran di luar negeri yang diselenggarakan pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM serta Kementeian Perindustrian.

tas-kulit-ular

Selain memproduksi tas tangan, ada pula tas kantor,clutch, dompet, sepatu, pakaian, berbagai aksesori wanita lainnya berbahan baku kulit ular. Jenis ularnya adalah kulit phyton karena dinilai memiliki keunikan warna tersendiri. Untuk penggunaan kulit ular ini, Scano punya sertifikat CITES (Convention International Trade In Endangerered Species of Wild Fauna and Flora), izin perdagangan antarnegara yang berkaitan dengan flora dan fauna. Sertifikat ini sebagai jaminan bahwa produknya tidak mengancam kelangsungan hidup binatang tersebut.

Anto menambahkan, keunggulan produknya terletak pada ekskluvitas karena diproduksi secara hand made. Setiap modelnya pun dibuat one of a kind, alias tidak ada model yang sama. Tidak heran jika harga produknya relatif mahal berkisar antara Rp2 juta – Rp4 juta, tergantung tipe dan motif  kulitnya. “Produk  Scano ditujukan pada masyarakat menengah ke atas,” ujarnya.

Setelah berhasil menembus pasar ekspor, barulah ia membidik domestik. Salah satu outletnya ada di gedung SMESCO, Jakarta Selatan.

Kini Anto bisa bangga karena produknya sudah mendunia. Jiwa nasionalismenya juga semakin tinggi karena produk Indonesia sudah sejajar, bahkan bisa mengungguli asing. (drajat).

Bagikan ke: