Mukidilogi

Di dunia jungkir balik, logika apa pun pastimandul. Gagal paham. Kecuali nalarsableng. Contoh soal, bagaimana mencamkan Ph.D lulusan Amrik yang haqqul yaqin tentang kedigdayaan shaman meng-ada/ganda-kan uang? Atau dua menteri yang bergegasdidaur ulang pasca dicopot? Atau lembaga KPK yang justru diketuai oleh (yang terindikasi) koruptor? Atau pembakar mushala di Tolikara disambut karpet merah di Istana Negara? Atau aliran dana Rp3,6 triliun dari gembong narkoba Freddy Budiman (alm) ke rekening‘oknum’BNN, TNI dan Polri?

Contoh di atassangat bisa dideretkan lebih panjang. Musykil tapi nyata. Kata simpul untuk itu tak memadai dengan sebutan miris, atau ironis, atau tragis. Lebih mungkin:absurd.Seabsurdsulitnya membedakan antara tax amnesia dan dwikewarganegaraan amnesti.

Menyimakviral anak-anak sekolah bergelantungan di jembatan ala ‘Indiana Jones’ di Desa Sanghiang Tanjung, Lebak, Banten; Toni Ruttimann trenyuh. Relawan asal Swiss yang tak kenal Pancasila itu tiga tahun gotong royong bersama warga di Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Sulawesi, Maluku Utara, dan NTT. Toni telah membantu membangun 61 jembatan gantung. Celakanya, administrasi impor bahan-bahan dipersulit, bahkandikenai denda.Betapa memalukan.

Tak kalah memalukan, 71 tahun merdeka, hasilnya: 70%-80% aset Indonesia di tangan bangsa asing. Sektor perkebunan/pertanian dalam arti luas, 40% dikuasai asing. Di bidang perbankan (≥50%); di sektor minyak bumi, gas dan batu bara (70%-75%);  telekomunikasi (±70%); yang terparah, ujar Rektor UGM, Pratikno, adalah pertambangan: 80%-85%.

Bicara Jakarta, Cina tadinya hanya ada di kawasan Glodok, Gajah Mada, Kota dan sekitarnya. Kini, hampir 65% wilayah DKI atas nama Cina (1970-2016).Lalu, hingga Desember 2015 saja, Ahoktelah menggusur paksa 113 kasus, menggerus 8.145 KK dan 6.283 usaha terdampak, 67% tanpa solusi; 84% tanpa musyawarah, 57%-nya melibatkan TNI. Atas berbagai tutur dan tindakhewani ex Bupati Beltim—bahkan menghina Al Qur’an suci—tiga orang secara terbuka nantangAhokadu jotos: Imam Supriadi, auditor BPK; Bagus Ali Junaidy, arek Soroboyo; dan Ali Lubis, Laskar Pemuda Batak yang anggota Forum RT/RW Jakarta Utara.

Adalah Menkeu Sri Mulyani dan Faisal Basri yang bilang ekonomi kita tidak sehat (tapi belum krisis). Kita berhutang untuk membayar bunga hutang. Fatsalnya, keseimbangan primer defisit Rp111,4 triliun. Hutang negara kini Rp4.257 triliun (baca: tumbuh Rp1.056 triliun dalam 730 harirezim eksisting). Waib bayar bunga hutang tahun 2017 adalahRp221 triliun. Ekuivalen dengan 358,7 ton emas/tahun atawa ≥1 ton emas/hari (harga pada 27/10=Rp616 juta/kg).

Dalam sustainabilitas dia memproduksi bual24 jam/hari, apa semua itu ‘bukan urusan saya’, mas Mukidi?●

Bagikan ke: