MICE Tetap Gemilang di Tengah Larangan Rapat di Hotel

Janji gemilangnya prospek bisnis Meeting Incentive Conference dan Exhibition (MICE) bukan isapan jempol meski tersandung kebijakan larangan rapat PNS di hotel. MICE sempat dikhawatirkan lesu di tahun Pemilu 2014, namun toh justru sebaliknya. Banyak hotel dan gedung pertemuan justru “fully booked” dan dipenuhi acara pertemuan sekaligus kampanye.

esthy-reko-astuty

Oleh karena itu, 2015 diperkirakan menjadi titik balik bagi sektor MICE untuk bisa mewujudkan janji emasnya sebagai sektor yang paling menguntungkan sepanjang tahun. Sejumlah pelaku industri MICE sudah ancang-ancang ganti strategi pasca-kebijakan larangan rapat di hotel itu dengan membidik pasar luar negeri. Bahkan MICE diprediksi akan tumbuh di atas 20% pada 2015.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Ernst K. Remboen mengungkapkan pertumbuhan di atas rata-rata tersebut didorong salah satunya oleh pembukaan Indonesia Convention & Exhibition (ICE) di Serpong yang merupakan gedung pertemuan terbesar di Indonesia. “Dengan adanya gedung baru, secara otomatis menambah jumlah pameran dan pertemuan yang sebelumnya terbatas karena kekurangan tempat,” katanya.

Selain juga beberapa kegiatan berlevel internasional sudah mulai mengantre sejak Januari 2015 di berbagai daerah. Di samping itu bertambahnya fasilitas, iklim investasi bisnis dinilai semakin kondusif karena program-program pemerintah yang menarik banyak investor juga menjadi katalisator pertumbuhan industri MICE.

Di sisi lain, dengan bertumbuhnya investasi dan perekonomian Indonesia itu menjadi daya tarik bagi negara produsen dan para pelaku usaha untuk menyasar Indonesia sebagai target pemasaran produk melalui pameran.

Asosiasi itu mencatat hingga saat ini ada sekitar 400 even yang diselenggarakan secara nasional yang sifatnya business to business atau business to consumer dan 30 di antaranya merupakan kegiatan internasional yang diselenggarakan di Jakarta.

Hal serupa disampaikan Ishak Chandra, Managing Director Corporate Strategy and Services Sinar Mas Land. Menurut dia, bisnis MICE menjanjikan peluang yang besar di tanah air mengingat banyaknya event dan pameran yang diadakan di Indonesia setiap tahun, baik yang bertaraf lokal, nasional, hingga internasional. “Terlebih lagi, hal tersebut juga didukung dengan semakin berkembangnya perusahaan penyelenggara pameran dan pendukung seperti event organizer, kontraktor dan lain-lain,” ujarnya.

Memang tidak disangkal, bisnis ini dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan. Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) mencatat jumlah pameran di Indonesia pada tahun 2010 adalah 265 pameran dan meningkat menjadi 324 pameran pada tahun 2011. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bisnis MICE merupakan bisnis yang memiliki prospek menarik di tanah air. Kemudian didukung oleh semakin membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia serta stabilnya nilai rupiah yang mengundang investor dan exhibitor untuk menyelenggarakan acara di Indonesia. Besarnya populasi penduduk juga menjadi salah satu daya tarik penyelenggaraan MICE di Indonesia.

Sayangnya, saat ini hanya sedikit venue di Indonesia yang memenuhi standar internasional untuk menangkap peluang penyelenggaraan pameran bertaraf internasional, sedangkan pertumbuhan kota-kota di Indonesia terus meningkat. Hal tadi masih jauh apabila melihat negara Asia lainnya seperti Singapura yang memiliki Marina Bay Sands dengan luasan 120.000m², Bangkok dengan IMPACT Convention Hall dengan luasan 140.000m² dan juga Shanghai New International Expo Centre (SNIEC) dengan luasan mencapai 300.000m².

Esthy Reko Astuty, Direktur Jenderal Pemasaran Pariwasta Kementerian Pariwisata RI, mengatakan pemerintah sangat mendorong perkembangan sektor MICE. Bahkan MICE menjadi salah satu daya tarik untuk mampu memenuhi target kunjungan wisatawan ke Indonesia pada tahun 2019 sebesar 20 juta turis. “Potensi wisata di Indonesia ini sangat luar biasa. Hingga bulan oktober 2014, terdapat 7,8 juta wisatawan ke Indonesia. Untuk sektor MICE sendiri menyumbang 25%. Sedangkan kontributor 5 terbesar di antaranya adalah sektor budaya 60%, bahari 35%, kuliner 80% di susul kemudian heritage dan religi,” kata Esthy.

Menanggapi tentang kebijakan baru dari pemerintah tentang pembatasan pertemuan di hotel sebagai langkah strategis untuk penghematan, Esthy mejelaskan, perlu ada pendataan yang akurat dari segi potensi, peluang dan dampak dari kebijakan tersebut bagi sektor industri MICE.

“Setelah data tersebut lengkap, bisa kami ajukan dalam rapat kabinet. Jika memungkinkan untuk dievaluasi kami akan upayakan kebijakan tersebut direvisi,” kata Esthy.

Menurut dia pada 2015, salah satu tren MICE yang akan menjadi sorotan dan incaran banyak pemain adalah di sektor pameran yang sifatnya Business to Business.

Share This: