Mewujudkan Impian PPU sebagai Jembatan Ekonomi Kaltim

Tanggal 11 Maret 2002 merupakan hari bersejarah bagi masyarakat di wilayah Penajam Paser Utara (PPU). Hari itu, PPU resmi berpisah dari Kabupaten Paser dan menjadi kabupatan termuda ke dua di Kalimantan Timur (Kaltim). Perjuangan masyarakat PPU untuk memiliki pemerintahan sendiri serta mewujudkan kemandirian ekonomi memang memakan waktu cukup panjang. Namun dengan upaya yang gigih dari para tokoh dan masyarakat daerah ini, PPU akhirnya menjadi kabupaten dan menjadi langkah awal bagi para pemimpin baru di daerah ini untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat.
Kabupaten yang dibentuk berdasarkan UU No.7 Tahun 2002 tanggal 10 Maret 2002 ini menaungi empat kecamatan, yakni Kecamatan Penajam, Waru, Babulu dan Sepaku, sedangkan kepala derah pertama kabupaten ke 13 di Provinsi Kaltim ini diamanahkan kepada Drs H.Yusran Aspar M.Si dan Ihwan Datu Adam sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten PPU periode 2003- 2008.

penajam

Ketika dipercaya untuk kali kedua memimpin kabupaten seluas 3.333.06 km persegi ini, Yusran Aspar yang memang sudah sangat memahami dinamika masyarakat PPU langsung menegaskan komitmennya menggerakkan roda ekonomi. Karena hanya dengan perbaikan ekonomi saja masyarakat di daerah ini dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik. Salah satu prasyarat ke arah peningkatan ekonomi masyarakat itu adalah melalui pembangunan infrastruktur terutama rencana besar Bupati Yusran membangun jembatan Teluk Penajam yang akan menghubungkan Penajam dengan Balikpapan.

Sebagai daerah baru, potensi ekonomi PPU cukup menjanjikan karena sumber daya alamnya yang melimpah dan amat beragam, terutama sumber daya hutan berikut hasil ikutannya, perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, pertambangan serta kehutanan. Kelapa sawit dan batubara menjadi sektor andalan kabupaten Benoa Taka ini.

Tetapi jika dilihat dari letak geografisnya yang bertetangga dengan kota Balikpapan dan Selat Makasar, maka PPU sangat strategis menjadi jembatan ekonomi yang menghubungkan daerah (kabupaten) sekitarnya dengan ‘big apple’ Balikpapan. Lantaran itu pula Bupati Yusran Aspar bersemangat mewujudkan mimpinya membangun infrastruktur yang akan menjadi icon kota Penajam.

Tetapi PPU tak hanya identik sumber daya alam potensial, daerah ini juga menyimpan panorama yang indah. Pelancong yang datang ke daerah ini pasti tidak akan melewati Pantai Tanjung Jumlai yang menjadi tempat liburan favorit warga Balikpapan. Pantai dengan lebar sekitar 100-150 meter yang membentang sepanjang 15 km ini, memiliki panorama eksotis dan dasar lautnya dapat terlihat jelas. Kawasan Tanjung Jumlai juga memiliki areal yang bisa digunakan sebagai areal perkemahan.

Objek wisata lainnya adalah Pantai Sipakario atau sering disebut dengan Pantai Nipah-Nipah. Pantai dengan keindahan sunsetnya ini mempunyai letak yang strategis karena berada tepat di teluk Balikpapan dan berjarak 8 km dari pusat pemerintahan Kabupaten PPU.

Bergeser sedikit ke utara, ada Pulau Gusung. Kawasan yang berada di kawasan Pantai Tanjung Jumlai ini memiliki 4 gugusan Pasir Gusung atau timbunan pasir laut yang dikelilingi areal terumbu karang (coral reef), terdiri dari puluhan jenis karang dan jenia ikan, baik ikan yang dapat dikonsumsi maupun ikan hias.

Selain itu, diperairan Pulau Gusung terdapat salah satu jenis ikan langka yang dilindungi yaitu Ikan Napoleon. Menariknya, sekitar 80% terumbu karang yang ditemukan di kawasan Pulau Gusung adalah terumbu karang hidup yang langka dan sulit ditemukan. Kabupaten ini juga memiliki tempat wisata sejarah peninggalan penjajahan Jepang. Ada juga wisata edukasi sekaligus penangkaran rusa.

Bagikan ke: