Mesin JermanLintas Andalas

Di Sumatera, dewasa ini, perjalanan jauh menggunakan bus makin kurang menarik. Ya karena biaya pesawat terbang yang kian ekonomis. Ya juga karena perhitungan efisiensi waktu.

rakit-angkutan

Membanding-bandingkan antara bus-bus di Jawa dan di Sumatera, perbedaannya makin tipis. Itu cerita masa kini. Tidak demikian halnya 30-40 tahun silam. Bus Sumatera jarang yang ceper. Umumnya tinggi-tinggi. Pasalnya, kontur jalan di masa itu umumnya parah: tanpa aspal, berlobang besar dan berlumpur di sana-sini. Pemandangan demikian,malangnya, masih dijumpai di pedalaman di wilayah Indonesia timur, seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Dengan infrastruktur jalan raya yang ala kadar, waktu tempuh antarkota antarprovinsi misalnya jadi amat lama. Bisa-bisa makan waktu 3-5 hari. Ketiadaan jembatan memaksa bus-bus harus diseberangkan dengan rakit. Di musim hujan, ban belakang bahkan harus dililit rantai. Hingga,roda bisa mencengkeram untukmenggerakkanbus di jalanan berlumpur. Itu pula sebabnya rata-rata mereka memilih produk Jerman/Amerika yang lebih bandelmenerjang medan sulit.

Bus-busPulau Andalas umumnya menaruh tumpukan barang yang banyak di atas kapnya. Badan bus cenderung dicat warna warni dengan warna primer. Hampir tak ditemukan bus dengan warna yang lebih soft. Nama-nama tegas yang dipakai pun ditulis dengan huruf balok yang ngejreng abis. Artinya, yang utama adalah kejelasan, kepastian; ihwal esetetika bolehlah dianaktirikan.

Bila diintip bagian interior, mereka juga identik juga dengan konfigurasi tempat duduk 2:2. Kelas ekonomi ataupun eksekutif bukan menjadi pembeda. Dua-duanya sama-sama menggunakan aisle 2:2. Bahkan bus-bus super eksekutif dan bus lux menggunakan komposisi seat 2:1. Bus kelas papan atasini rata-rata dilengkapi dengan toilet.

Yang juga khas, mereka selalu membawa bangku tempel.Bangku ini digunakan saat penumpang melebihi kapasitas kursi. Alhasil, bangku tempel itu diletakkan di gang bus/aislenya,hinggabarisan kursiseperti shaf.

Sampai dengan medio tahun 70-an, bus ber-home basedi Sumatera Barat/Minangkabau dilengkapi klakson musikal di batang setir, yang dimainkan sopir dengan satu tangan.Itu dijumpaipada bus NPM, Gumarang Jaya, Sinamar, Gagak Hitam, ANS, Bahagia.

Patut disebut, bus yang melayani rute panjang di Pulau Andalas antara lain dipelopori ALS (Antar Lintas Sumatera).Bus legendaris asal Sumatera Utara ini didirikan di Kotanopan, Mandailing, Natal,September 1966. Pada masa itu, ALS memulai kiprahnya dengan membuka trayek Muara Sipongi/Kotanopan—Medan.Awalnya, perusahaan oto halak kita ini berpusat di Kotanopan, sebelumpindah ke Medan. Dari kota terbesar di Pulau Perca inilah ALS melebarkan sayapdengan membuka banyak rute baru.

ALS inilah salah satu pelopor transportasi penghubung antarkota di Sumatera: Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Jambi, Palembang, dan Lampung.Dalam perjalanan waktu, sejumlah perusahaan oto muncul di berbagai kota Sumatera.Di antaranya bahkan ada yang membuka rute sampai ke Bali—melintasi Sumatera dan Jawa sekaligus.●

Bagikan ke: