Meroketnya Harga Pangan

cabe merah

 

JAKARTA: Tingginya harga pangan di Indonesia jadi sorotan Presiden Joko Widodo. Harga-harga komoditas pangan kita ternyata jauh di atas negara-negara tetangga seperti Filipina, Cina, Kamboja, Thailand, Vietnam, India. Teristimewa harga daging sapi. “Kenaikan harga pangan dimulai 2011 sampai 2014/2015 kemarin. Naiknya sudah hampir 70 persen dan memukul 81% penduduk kita yang konsumen beras. Ini (perlu) hati-hati,” kata Jokowi saat membuka rapat kabinet terbatas (27/1).

Tujuan utama kebijakan pangan adalah membuat rakyat cukup kebutuhannya terhadap pangan. Kebijakan yang ada harus menguntungkan semua pihak, baik itu pedagang maupun masyarakat sebagai konsumen. “Jadi, yang sejahtera jangan hanya yang tengah, pedagangnya dan para trader, tapi yang berproduksi juga harus diberikan keuntungan dan kesejahteraan.”

Komoditas makanan selama ini menyumbang 73% angka kemiskinan. “Ini hati-hati betul. Maka, langkah-langkah memperbaiki permintaan, memperbaiki suplai, rantai-rantai perdagangan, sistem data, dan informasi pertanian kita harus betul-betul komprehensif dan betul-betul valid,” ujar Joko Widodo.

Dengan harga yang terus mengalami kenaikan, Presiden meminta agar kualitas hidup masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan pangan, harus diperhatikan. Terlebih, Indonesia termasuk lima terburuk dalam hal gizi balita.

Terjemahan dan langkah-langkah nyata menjawab kerisauan Istana ini di kalangan instansi terkait ditunggu masyarakat. Berbagai departemen dituntut proaktif menerjemahkan mana porsi yang jadi tanggung jawabnya. Bukannya saling mengelak, saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab sebagaimana ‘kebiasaan’ tak sehat Kabinet Kerja Jokowi-Yusuf Kalla.

Bagikan ke: