MERDEKA

Herbeith Feith, bapak studi politik Indonesia modern itu, menjulukinya Solidarity maker. Sosok pemimpin yang mampu membangkitkan gelora massa.  Kemana pun ia singgah, Sukarno, sang the new kid on the block di tahun 1920 an itu, memukau massa dengan pidato berapi-api, tentang Indonesia Merdeka. Pergerakan menuju Indonesia yang bebas dari kolonial bukan cuma impian Sukarno. Sebelumnya telah muncul gelombang organisasi besar, seperti gerakan priyayi Jawa, Boedi Oetomo. Sejumlah gerakan kedaerahan yang menjadi antitesis Boedi Oetomo yang eksklusif Jawa, dan ada juga pergerakan lebih radikal seperti Syarikat Dagang Islam (SDI). SDI muncul sebagai perlawanan kaum pribumi terhadap dominasi perdagangan oleh orang-orang Cina.

Di Belanda, sejumlah pelajar Indonesia mendirikan Indische Vereeniging pada 1908. Perkumpulan yang kemudian beralih nama menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI) ini awalnya sekadar tempat ‘kongkow’  sambil pesta-pesta. Belakangan mereka disadarkan oleh tanggung jawab yang besar terhadap kemerdekaan negerinya. Bahwa jutaan manusia Indonesia lainnya masih hidup sebagai budak. Dari kelompok pelajar elit ini kita mengenal Mohammad Hatta; sosok lain dari tipologi kepemimpinan yang oleh Feith disebut Administrator. Di bawah kepemimpinan Hatta (1926-1930) PI menjadi pos terdepan pergerakan nasional di Benua Eropa, sekaligus  mesin propaganda menuju Indonesia Merdeka.

Hatta dan Sukarno menjadi simbol perlawanan terdepan terhadap kolonialisme. Keduanya adalah anak-anak dari politik etis Belanda yang menyerang tuannya sendiri. Setelah menggasak habis kekayaan alam negeri ini selama ratusan tahun, Belanda membasuh tangannya lewat politik etis. Intinya adalah politik balas budi terhadap bangsa Indonesia melalui program pendidikan, imigrasi dan irigasi.

Di masa itu, sekolah adalah barang langka bagi rakyat kelas bawah. Sekolah – sekolah yang didirikan Belanda, seperti  STOVIA, Hollandsch-Inlandsche Scholen (HIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Algemeene Middelbare School (AMS) hanyalah untuk golongan anak Indonesia dari keluarga mampu.

Jujur kita akui bahwa politik etis Belanda memberikan kesempatan terbuka bagi anak Indonesia mengenyam pendidikan yang lebih baik. Namun, seperti ditulis MC Ricklefs, Belanda tidak sepenuhnya hendak mentransfer kecerdasan itu. Hasil sensus tahun 1930, perbandingan orang Indonesia usia dewasa yang sudah melek huruf tercatat hanya 7,4%, sedangkan yang mampu berbahasa Belanda hanya 0,32%.

Ricklefs, sejarawan dari Monash University itu mengulas buruknya porgram pendidikan Belanda untuk Indonesia. Bandingkan misalnya dengan pendidikan rakyat yang paling ambisius  di suatu negeri terjajah yaitu ketika Amerika  menjajah Filipina. Negeri Paman Sam itu juga memberikan pengajaran kepada anak-anak negeri jajahannya. Pada tahun 1939 tercatat lebih dari seperempat jumlah penduduk Filipina dapat berbahasa Inggris. Hingga kini, Filipina termasuk kiblat sekolah dengan bahasa Inggris terbaik di luar Amerika.

Kini, setelah lebih dari tujuh dekade merdeka, persoalan bangsa ini tidak makin sederhana. Seperti kata Presiden Jokowi bahwa persoalan bangsa ini masih belum lepas dari rantai kemiskinan, pengangguran  dan kesenjangan sosial. Persoalan kita masih saja bergelut dengan rendahnya mutu pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan.

Dari segi pemberantasan angka buta huruf,  negeri ini boleh diacungi jempol.  Data BPS menyebutkan lebih dari 90%  bangsa kita sudah melek huruf. Bahkan Unesco (United Educational, Scientific and Cultural Organization) pada 2008 mereferensikan Indonesia sebagai model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik.  Pada 2012 Unesco kembali beri penghargaan Unesco ‘s Litreracy Prizes atas keberhasilan Indonesia dalam program pemberantasan buta huruf. Celakanya, reputasi Indonesia dari sisi minat baca sungguh jeblok. Dari 61 negara yang minat bacanya rendah, Indonesia berada di posisi 60. Masih mengacu pada  survei Unesco, minat baca masyarakat kita masih 0,001%. Artinya, dari seribu orang  hanya satu orang saja yang berminat membaca buku. (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: