Menggugat Political Action Dari Pemerintah

Koperasi merupakan sokoguru perekonomian nasional yang sesuai dengan amanat konstitusi seperti termaktub dalam UUD 1945 Pasal 33. Semangat gotong royong dan kekeluargaan yang menjadi nilai-nilai koperasi sangat cocok secara sosio kultural dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Selain itu, lembaga ekonomi yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan anggota ini terbukti dapat bertahan di tengah krisis ekonomi seperti yang terjadi dua dasawarsa silam.

Meski jaringannya menembus hingga akar rumput, namun koperasi belum menjadi pemain utama dalam sistem perekonomian nasional. Penguasaan pangsa pasarnya masih tertinggal jauh dibanding korporasi, baik swasta maupun asing dalam struktur ekonomi. Dari 210 ribu koperasi yang terdaftar secara resmi, hanya 160 ribu yang data kelembagaanya (legal) dapat dilacak.

Bagaimana perkembangan gerakan koperasi di Tanah Air pada usianya yang ke-70 tahun? Apa peran Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) dalam memajukan usaha koperasi sekaligus menyambut Kongres III Koperasi Indonesia? Berikut penuturan Nurdin Halid, Ketua Umum Dekopin bersama Majalah Peluang :

Majalah Peluang (MP): Dalam pandangan Anda sebagai Ketua Umum Dekopin, bagaimana perkembangan koperasi sekarang ?

Nurdin Halid (NH) : Rancang bangun usaha koperasi sebenarnya sangat cocok dengan nilai-nilai yang tumbuh di tengah masyarakat kita. Ini menjadi modal sosial bagi koperasi untuk terus bertumbuh. Perlu diingat, bahwa koperasi pernah berperan besar membawa negeri ini menjadi swasembada beras. Dengan jaringan distribusi yang luas, koperasi telah membantu program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun kini memang harus diakui koperasi belum menjadi lembaga ekonomi kelas satu di negeri ini.

MP : Apa saja faktor yang menyebabkan kurang berkembangnya koperasi dibanding korporasi ?

NH :  Ada dua sisi yaitu internal dan eksternal. Secara internal, koperasi menghadapi tantangan terutama dalam hal kualitas SDM dan permodalan. Selain itu, skala usahanya juga masih terbatas di dimana koperasi masih bermain di akuarium sementara korporasi sudah di lautan lepas. Oleh karenanya, butuh keberpihakan pemerintah, tidak saja terbatas pada political will, tetapi mesti political action dalam bentuk kebijakan yang lebih berpihak untuk mengembangkan koperasi.

MP : Sejauh ini, apakah pemerintah sudah memberikan dukungan nyata terhadap koperasi ?

NH : Kami sejalan dengan pemerintah untuk lebih mengutamakan kualitas koperasi dibanding kuantitas koperasi. Sebab, di lapangan memang dijumpai koperasi yang tidak sejalan dengan nilai dan cita-cita koperasi yang pada akhirnya akan merugikan citra koperasi itu sendiri. Selain itu, kami mendesak kepada pemerintah untuk memfasilitasi agar pelaku usaha UMKM bergabung dalam satu wadah koperasi dan tidak bersifat individualistis. Dengan koperasi usaha saya yakin mereka akan lebih cepat berkembang.

MP : Bagaimana peran Dekopin untuk meningkatkan posisi tawar Koperasi dalam sistem perekonomian nasional ?

NH : Dekopin terus melakukan upaya edukasi dan peningkatan kapasitas internal koperasi. Melalui Lembaga Pendidikan Koperasi (Lapenkop) kami mempunyai 7.000 orang tenaga pemandu perkoperasian yang tersebar di seluruh Indonesia. Tenaga pemandu inilah yang memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya koperasi. Kami berharap, masyarakat dapat secara sukarela menjadi anggota koperasi yang pada muaranya dapat mendongkrak kesejahteraan mereka sendiri.

 

MP : Terkait dengan rencana Kongres III Koperasi, pesan apa yang akan disampaikan ?

 

NH : Tahun ini terasa istimewa bagi Dekopin karena akan menggelar Kongres III Koperasi setelah 64 tahun tidak berkongres. Seluruh pegiat koperasi berkumpul untuk merumuskan pengembangan koperasi di tengah perubahan yang terjadi.  Kongres merupakan momentum untuk dapat membangkitkan semangat membangun perekonomian Indonesia melalui koperasi. Ini terlihat dari tema yang kami usung yaitu “Reafirmasi Komitmen Kebangsaan Untuk Membangun Kembali Perekonomian Yang Lebih Berkeadilan”.

 

MP : Apa impian Anda ke depan untuk perkoperasian Indonesia ?

NH :  Saya ingin koperasi lebih solid dalam mengembangkan usaha. Sudah saatnya pola pikir pengurus koperasi diubah dari pedagang menjadi saudagar. Jika pedagang, mereka akan menjual hari ini dan dapat untung hari ini. Ini berbeda dengan mindset seorang saudagar, dimana mereka akan berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih panjang. Dengan begitu, usaha akan tumbuh lebih berkelanjutan.

Bagikan ke: