Mengembangkan Usaha Wisata Melalui Koperasi

JAKARTA—Sekitar dua tahun lalu Eko Binarso, seorang praktisi wisata dan teman-temannya yang menjalani wisata alam berbincang-bincang bagaimana mengembang usaha masing-masing yang berangkat dari hobi mempunyai manfaat ekonomi.

Menurut Eko,  usaha wisata alam belum mempunyai ekosistem sendiri, mulai dari regulasi, pendidikan, media, masyarakat lokal, dan lainya seperti usaha wisata lainnya.

Persoalannya kebanyakan usaha wisata alam adalah berskala UKM dengan segala permasalahannya, seperti SDM, manajemen usaha, kewirausahaan dan akses kepada keuangan. Untuk itu mereka memutuskan untuk bersatu agar bisa lebih kuat.

“Potensi sumber daya tarik wisata alam sangat besar tapi sumber daya manusianya tidak siap,” ucap Eko ketika dihubungi Peluang, Selasa (20/7/21).

Badan usaha yang mereka pilih ialah koperasi, yang dinamakan Koperasi Jasa Sentra Wisata Alam Nusantara (Kopisetra)  pada 26 Januari 2020 dengan basis usaha di kawasan Cikini, Jakarta Pusat dengan pendiri pertama 26 anggota.

Uniknya koperasi ini menggunakan simpanan pokok dengan 2 gram emas atau uang setara dengan nilainya pada waktu pendaftaran, serta  simpanan wajib  sebesarRp100.000.

“Melalui koperasi kami ingin mengembangkan usaha anggota  hingga  membentuk Tempat Pelayanan Koperasi (TPK) di daerah destinasi wisata alam,” tambah dia.

Meskipun terdampak pandemi, Kopisetra masih bisa membangun TPK di kawasan Aceh Tenggara, serta fokus membangun jaringan.

Kopisatera menggandeng berbagai lembaga dan komunitas mulai dari, APGI  (Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia),  APTIPI  (Asosiasi Pilot Tandem dan Instruktur Paralayang Indonesia), AELI (Asosiasi Experiential Learning Indonesia),  FONI (Federasi Orienteering Indonesia),FMI(Federasi Mountaineering Indonesia.

Ruang lingkup usaha Kopisatera mulai dari, penyedia jasa kegiatan alam terbuka, produsen peralatan dan perlengkapan,  usaha makanan dan minuman,  pemandu  hingga transportasi. RAT yang pertama digelar pada Januari 2021 di tengah pandemi masih meraup omzet sekitar Rp100 juta.

“Ke depan, kami ingin membangun jaringan usaha wisata alam dan mendorong terbentuknya kerja sama  dengan Kementerian Koperasi dan  UKM, Kemenparekraf dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di bidang wisata alam,” pungkasnya.

Kemenkop Minta Usaha Wisata Bentuk Koperasi

Kopisatera salah satu dari gerakan koperasi di bidang pariwisata yang mulai menggeliat. Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Rulli Nuryanto menyampaikan koperasi yang bergerak di sektor pariwisata mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang.

Hal ini mengingat jumlah objek wisata di Indonesia sangat  banyak yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan akan mengundang wisatawan domestik maupun luar negeri. 

“Koperasi sebagai entitas bisnis yang dibangun dari komunitas, dapat berperan aktif dalam pengembangan usahanya di sektor pariwisata,” ucap Rulli, dalam acara Webinar Series ke-15 sebagai rangkaian Harkop Ke-74 dengan topik “Peran dan Strategi Koperasi Pariwisata dalam Pembangunan Nasional, Sabtu (17/7/21). 

Lanjut Rulli, pengembangan sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas pemerintah dengan ditetapkannya sepuluh destinasi prioritas dan di dalamnya lima destinasi super prioritas. Yaitu, Danau Toba (Sumatera Utara), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), dan Likupang (Sulawesi Utara). 

Hanya saja, Rulli mengakui, koperasi yang mengelola sektor pariwisata belum begitu banyak, yakni kurang lebih 79 unit yang terdaftar dalam Online Data System (ODS) Kementerian Koperasi dan UKM.

Rulli menambahkan, saat ini dengan adanya pandemi Covid-19, industri Pariwisata sangat terpukul, sehingga UMKM juga terpukul, berikut ekosistem sektor pariwisata. “Oleh karena itu, diperlukan kembali memantapkan Brand Power Pariwisata Indonesia,” tegas Rulli. 

Menurut Rulli, Brand Power Pariwisata harus ditata ulang. Sehingga, industri pariwisata dapat menyesuaikan diri dalam tatanan dunia baru. 

“Saya berharap, UMKM di industri pariwisita agar tidak jalan sendiri-sendiri. Lebih baik bergabung dalam suatu wadah yaitu koperasi, agar mendapatkan keuntungan bersama. Karena, koperasi mempunyai peluang yang besar di industri pariwisata dan dapat memberikan manfaat bagi UMKM,” papar Rulli (Irvan).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *