Menengok Perjalananan Para Meneer ke Pangandaran Tempo Dulu

Ilustrasi sebuah kawasan pantai pada 1920-an-Foto: Collectie Tropen Museum.

PARIGI—Pepohonan yang lebat menutupi bebatuan, gua dengan air yang menetes dari langit-langit menciptakan batu kapur bergerigi dan kolam berbentuk gajah. Namun untuk masuk gua itu dibutuhkan pemandu dengan obor. Di gua masih ada kelelawar yang segera terbang menjauh begitu ada yang memasuki gua.

Demikian ucap Slot dalm laporan perjalanannya ke Pangandaran yang dimuat di Preanger Bode 25 Agustus 1920.  Pelancong ini menggunakan Kapal Motor Soekapoera dari Pelabuhan Cilacap ke Pananjung, sebuah semenanjung di Pangandaran. 

Slot adalah salah satu dari para Meneer Kolonial yang jatuh hati kepada kawasan terpencil dengan pantai yang masih alami dan hanya bisa diakses lewat laut, jalan darat yang membutuhkan waktu lama. Hingga akhirnya sebah jalan kereta api dibangun dari Banjar ke Cijulang pada 1913 dan bisa beroperasi pada Juni  1921.

Pada waktu itu penduduk Pangandaran tidak terlalu banyak.  Penyakit Malaria masih menjadi hantu bagi orang Eropa, namun para pelacong yang gemar mengunjungi daerah eksotis sangat menyukai. Pada 1922 Residen Priangan Eijken melepas sejumlah kijang dan banteng di Pananjung dan menjadikannya sebagai suka margasatwa.

Hasilnya semakin banyak para wisatawan yang berdatangan.   Reisma dalam sebuah laporan perjalanan yang dimuat dalam “Van Stockum’s Traveller Handbook”, Dutch East Indie, 1930 melukiskan perjalanan wisata pada masa Hindia Belanda.

Reisma melukiskan perjalanan menuju Parigi menempuh perjalanan dari Banjar menggunakan jalur kereta api  ke arah Maos (Cilacap).dan memutuska singgah di Pangandaran. Perjalanan melalui pemandangan yang kurang menarik karena melewati daerah berawa.  .

“Ada sebuah pesanggrahan yang baik di Semenanjung Penanjung, sebuah tanah genting yang diapit oleh Teluk Dirk de Vries dan Teluk Maurits. Pangandaran beberapa gua kapur yang mempersona  dan pemandian laut yang baik,”  ujar Reisma.

Sayang pendudukan Jepang, Perang Kemerdekaan hingga Pemberontakan Darul Islam membuat perkembangan pariwisata di daerah ini tebengkalai.  Baru pada 1960-an dikembangkan lagi hingga saat ini. 

“Dulu waktu saya duduk sekolah dasar diajak keluarga ke Pangandaan pada 1970-an terasa jauh karena jalannya hanya pas dua mobil. Padahal saya berangkat dari Ciamis dan saya masih melihat kijang di pantai,” ujar Ruli, warga Tangsel yang berasal  dari Ciamis.

Narli atau lebih dikenal dengan nama Abah Kunay, penggagas Desa Wisata Selasari mengakui bahwa apa yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial dulu merupakan cikal bakal pariwisata di daerah ini.

“Sekarang juga kijang masih berkeliaran di luar kawasan cagar alam.di pantai bahkan ke pemukiman sekitarnya.mencari sisa-sisa makanan,” katanya ketika dihubungi Peluang, beberapa waktu lalu.

Kini sebagai budayawan, dia bersama kawan-kawannya mempertahankan sjeumlah tradisi yang dipelihara semenjak  dulu sebagai nilai tambah wisata. Misalnya saja Tradisi Hajat Laut yang masih berlangsung setahun sekali di bulan Muhharam.

“Kalau di daerah pegunungan ada yang namanya hajat bumi,hajat leuweung, hajat walungan, erentaun.kekeba  dan paya pelestariannya ya harus terus dilaksanakan oleh masyarakat. Kalau sudah tidak dilaksanakan ya jadi punah tinggal cerita,” ujar dia.

Sementara Teddy Sonjaya dari Kadin Pangandaran menyatakan reviltalisasi jalur kereta api meruakan jalan untuk meningkatkan wisata.  Begitu juga dengan layanan perhau motor yang dulu pernah dilakukan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dikembangkan sebagai jalur pariwisata, sekaligus mendongkrak perekonomian di wilayah tersebut (Irvan).

Bagikan ke: